KERJA-kerja yang dilakukan Abdul Karim Dg Calla, tidak sebanding dengan semangatnya untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih. Meski begitu ia tetap bekerja demi melanjutkan hidup bersama istri dan anaknya.
Laporan: JUNI SEWANG
Tangan kotor, badan berbau got dan kadang tangan dan kaki terluka bukan menjadi halangan baginya untuk mengerjakan tugas membersihkan drainase yang tersumbat, termasuk membersihkan halaman warga.
Insentif sebesar Rp40 per hari tidak menyurutkan langkah laki-laki yang umurnya hampir setengah abad ini untuk tetap bekerja dan berusaha. Meskipun insentif itu ia tidak terima jika berhalangan bekerja atau sakit.
Insentif sebagai Satgas Swakelola Drainase ini dibayarkan oleh Pemerintah Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala.
“Dalam sehari saya terima insentif Rp40. Kalau tidak masuk tidak dihitung, baik itu tidak masuk karena sakit. Insentif disesuaikan dengan kehadiran. Uang tersebut dicukupkan untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Itupun insentif kadang terlambat dibayarkan,” katanya.
Hanya saja, jelas Karim di depan penulis, jika ada warga yang memanggilnya membersihkan halaman di luar jam kerja untuk menjadi rezeki baginya. Sebab kadang ada pendapatan tambahan diberikan oleh warga.
Karim juga dibantu oleh istrinya dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Istri Karim bekerja sebagai pegawai di STM Kartika Candra Kirana Makassar. Memiliki tiga orang anak, dimana anak anaknya saat ini ada yang tamat SMA dan saat ini sudah bekerja, dan dua anaknya ada di tingkat SMP dan SD.
“Alhamdulillah istri dan anak pertama saya kerja, jadi keperluan keluarga dibantu oleh anak dan istri saya,” jelasnya.
Dalam pekerjaannya sebagai swakelola, berbagai rintangan yang ia dapati saat membersihkan drainase, dari tikus mati, kotoran manusia, tertusuk beling dan lain sebagainya.
“Kami tidak dilengkapi peralatan. Peralatan kami bawa masing masing, jadi kami pake yang ada saja, alat masing masing, cangkul, skop, dengan menangani sebanyak 12 RW, bermacam macam kejadian sudah dilewati, ditusuk paku, ditusuk pecah beling, kena parang saat potong rumput dan lain sebagainya,” tuturnya.
Drainase atau selokan memang salah satu kebutuhan penting masyarakat, karena hasil limbah kotoran dari dapur dan kamar mandi ditampung dalam drainase tersebut. Memang tak dapat dipungkiri kadang keadaan drainase di Kota Makassar masih butuh peningkatan, karena seringkali mengalami mampet hingga air berubah gelap. Keadaan diperburuk dengan bajir, karena kurangnya drainase yang menyalurkan air.
Karim mengaku tetap senang menjalani profesinya tersebut meski pendapatannya tidak seberapa. Ia mengaku, ikhlas karena melalui tangan-tangannya bersama tenam lainnya mampu mengatasi pencemaran lingkungan dan mengurangi dampak banjir di wilayah Kelurahan Batua, serta menjadikan Batua sebagai daerah bersih.
Ia mengaku memulai pekerjaannya pukul 08.00 sampai 12.00 siang.”Alhamdulillah ada kegiatan, kalau selesai kerjaan, alhamdulillah juga banyak kegiatan di luar. Bisa kerja serabutan saja, karena masih banyak orang percaya dengan hasil kerja saya,” tuturnya. (*)

