pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pemprov Jamin Harga Telur Normal

MAKASSAR, BKM — Pasca lebaran Idul Fitri, harga telur ayam merangkak naik. Tidak tanggung -tanggung kenaikannya mencapai 30 persen hingga 50 persen.
Jika pada saat normal, harga telur sekitar 1.500 per butir untuk ukuran sedang, sekarang mencapai Rp2.000 hingga Rp2.500 perbutir.
Tentu saja kenaikan harga tersebut membuat masyarakat, khususnya pemilik warung dan catering menjerit.
Salah satunya seperti yang dirasakan Nisa, pengusaha makanan rantangan.
Menurut dia, telur merupakan salah satu kebutuhan utama untuk makanan rantangannya. Karena naiknya cukup drastis, otomatis modal yang harus dikeluarkan menjadi naik.
“Tidak mungkin saya kasih naik harga makanan rantanganku. Nanti pelanggan lari. Terpaksa walau mahal, harus dibeli. Karena telur merupakan salah satu menu yang hampir tiap hari dimasukkan ke rantang, ” ungkapnya.
Menanggapi mahalnya harga telur saat ini, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulsel, Abdul Azis mengakui, naiknya harga telur karena dipengaruhi menurunnya produksi telur di tingkat peternak.
Selain itu, sejak lebaran hingga saat ini, permintaan terhadap telur juga terus mengalami kenaikan.
“Biasanya kalau selesai lebaran kan banyak pesta. Permintaan pasti makin banyak, ” ungkap Abdul Azis.
Dia menambahkan, ada juga fenomena menarik yang terjadi, mengakibatkan produksi telur berkurang.
Sejak lebaran Idul Fitri lalu, harga daging ayam cukup bagus. Akibatnya, banyak peternak, termasuk peternak ayam petelur memilih untuk menjual ayamnya walaupun masih produktif bertelur. Apalagi harga pakan ayam saat ini juga sedikit mengalami kenaikan.
Persoalan lain yang dihadapi peternak adalah adanya kebijakan pemerintah pusat untuk membatasi atau mengurangi doc (bibit ayam) sebesar 20 persen. Bukan hanya itu. Pusat juga memberi batasan kepada peternak membatasi pemberian zat adiktif pertumbuhan kepada ayam. Alasannya karena sangat resistensi terhadap manusia. Akibatnya, pertumbuhan ayam-ayam menjadi cukup lambat.
Namun, kurangnya produksi telur di sehingga membuat harganya cukup tinggi di pasaran diprediksi tidak berlangsung lama.
Azis memperkirakan satu hingga dua bulan ke depan, harganya akan normal kembali.
“Kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Nanti akan normal kembali. Saya perkirakan satu hingga dua bulan ke depan sudah membaik,” pungkasnya. (rhm)



×


Pemprov Jamin Harga Telur Normal

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar