MESKI batu akik tak setenar dulu lagi. Tetapi para peminatnya masih terus ada, salah satunya pengoleksi batu. Olehnya, para pedagang batu akik tetap bertahan seperti Hasanuddin di Jalan Hertasing samping lapangan.
Laporan: NUGROHO
Memang benar jika sebagian besar pedagang yang berjualan batu akik, hanya memanfaatkan kepopuleran batu akik itu saja. Namun ternyata, ada juga sebagian pedagang yang telah bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang menggantungkan hidupnya dari penjualan batu akik.
Usia Hasanuddin kini telah menginjak 60 tahun. Siapa sangka jika ia telah berjualan batu akik, jauh sebelum kepopuleran batu akik melonjak dalam beberapa tahun lalu. Tepatnya, Hasanuddin telah berjualan sejak sekitar 30 tahun lalu.
Ada puluhan cincin berbatu akik yang ia jajakan. Mulai dari jenis batu lokal hingga luar negeri. Tempat jualannya begitu sederhana. Hanya bermodalkan karpet, ia menyusun semua batu akiknya di emperan jalan tersebut. Sambil setia menunggu pelanggan yang menawar batu-batu akiknya.
Di lokasi tersebut, bukan ia sendiri yang berjualan batu akik. Ada sekitar lima pedagang lainnya yang juga masih setia berjualan batu akik. Kira-kira sejak pagi, pukul 10.00 Wita Hasanuddin telah memasang karpetnya, bersiap untuk membuka dagangannya. Nanti saat tiba pukul 15.30 wita, barulah ia menutup dagangannya pada hari itu.
“Iya cuma sebentar, soalnya orang sekarang cari batu biasanya siang pi. Apalagi ini tempat kan klo sore sampai malam, penjual makanan mi lagi yang pakai ki,” kata Hasanuddin.
Hasanuddin tak pernah lupa akan masa jayanya batu akik kala dulu. Saat itu, dalam sehari ia bisa meraup untung berlipat dari penjualan batu akik. Sampai Rp 50 juta pun ia bisa dapatkan, karena sangat banyaknya orang yang mencari. Dulu orang yang datang ke tempatnya tak pernah sepi. Selalu saja orang-orang mengerumuni tempatnya.
Namun sekarang kondisinya telah jauh berbeda. Sekarang, ia sudah sangat bersyukur jika bisa mendapatkan keuntungan sampai Rp 300 ribu perhari. Bahkan biasanya, hanya Rp 150 ribu saja yang bisa dibawa pulang.
“Kalau dulu, saya ke Jakarta untuk ambil batu itu bisa sampai tiga kali dalam sebulan, saking lakunya. Sekarang ndak bisa mki begitu. Sekarang saja di tempatku ini, biasa ta lima orang ji datang dalam sehari, itupun belum tentu beli,” ucapnya.(nug/war/b)

