MAKASSAR, BKM– Guna mengantisipasi naiknya harga kebutuhan pokok akibat rupiah yang lemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto mengimbau warga kota untuk tidak menggunakan dollar. Saat ini rupiah tembus di angka Rp15.000 per satu dollar AS.
Wali kota juga berjanji terus memantu kondisi perekonomian khususnya di Makassar, sebab lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menimbulkan rasa kekhawatiran masyarakat akan potensi terjadinya inflasi harga. Adapun pelemahan nilai rupiah terhadap dollar AS terjadi dimungkinkan penyebabnya faktor-faktor eksternal.
“Ini lebih pada faktor ekternal karena, beberapa negara berkembang lainnya seperti Rusia dan India ikut rasakan dampak pelemahan mata uangnya terhadap dollar AS,” kata Danny di kantor Balai Kota Makassar, Rabu (5/9).
Olehnya itu, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan penimbunan dollar dan sementara waktu meminimalisir penggunaaan dollar. Kalau perlu jangan menggunakan saat-saat ini di Makassar.
“Kita harus berhati-hati dan waspada dengan naiknya nilai tukar dollar. Jangan dulu memakai uang dollar dan jangan ada penimbunan uang agar tidak terjadi inflasi,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Sulsel, Ahmadi Akil menjelaskan, sejauh ini belum terasa pengaruh yang cukup signifikan melemahnya rupiah terhadap dolar. Khusus terhadap industri kecil maupun menengah.
“Belum terlalu signifikan pengaruhnya. Kan baru beberapa hari ini tembus Rp15.000 per dolar,” ungkapnya kemarin.
Namun, jika pelamahan rupiah terjadi terus menerus dan berlangsung cukup lama, bisa memberikan dampak bagi perkembangan industri di daerah ini.
Di menjelaskan, untuk industri yang produknya di ekspor ke luar negeri, momen saat ini menjadi berkah karena nilai atau harganya meningkat seiring naiknya kurs dolar.
“Ini tentu jadi berkah bagi industri, utamanya IKM yang produknya sudah diekspor ke mancanegara. Harga atau nilai produknya otomatis jadi lebih baik,” kata Ahmadi.
Namun, pelemahan rupiah juga berimbas negatif bagi pelaku industri yang mengandalkan bahan baku dari luar negeri.
Dia mencontohkan, misalnya untuk bahan baku kain sutera. Selama ini, Sulsel masih mengimpor dari luar, utamanya Cina karena kita belum mampu memenuhi permintaan bahan baku secara keseluruhan. Daya beli terhadap bahan baku industri sutera akan lebih mahal dibanding sebelum-sebelumnya. Bisa saja karena daya beli perajin sutera cukup rendah, mereka menyetop produksi.
Namun Ahmadi berharap kondisi yang terjadi saat ini bisa segera berlalu dan ekonomi tetap stabil agar aktifitas masyarakat terus berputar. (rhm-arf)

