SUASANA penuh kesedihan terlihat di wajah keluarga, kerabat dan rekan kerja Anthonius Gunawan Agung. Senin (1/10), jenazah korban gempa bumi di Palu itu disemayamkan dan diberkati. Prosesi misa requiem dilaksanakan di Gereja Katolik Santa Perawan Maria, Jalan Tupai, Kecamatan Mariso, Makassar.
Ratusan orang jemaat gereja yang mengenakan baju serba hitam melakukan doa bersama untuk melakukan pemberkatan terhadap jenazah Anthonius. Prosesinya berlangsung sejak pukul 11.00 Wita.
Usai menjalani prosesi pemberkatan dan doa untuk jenazah Anthonius dan sebelum prosesi pelepasan jenazah, tiba-tiba suasana berubah jadi riuh. Teriakan dibarengi tangisan histeris Endang Setiawati, ibu Anthonius pecah saat peti jenazah mulai ditutup. “Agung, mama sayang kamu. Mama sudah tidak bisa garuk Agung lagi,” begitu suara perempuan tersebut sambil membuka kembali penutup peti jenazah putra bungsunya.
Endang terus menangis histeris, meluapkan rasa kesedihannya melihat tubuh Anthonius terbujur kaku di dalam peti jenazah. Dia mendekaptnya begitu erat.
“Mama sayang Agung. Mama sudah tidak bisa lihat Agung lagi,” ujarnya sambil menangis dan menggaruk-garuk peti jenazah sang putra.
Pukul 13.20 Wita, jenazah Anthonius kemudian dibawa dengan menggunakan mobil ambulance untuk dimakamkan di Pekuburan Pannara, Antang, Kecamatan Manggala. Puluhan kendaraan roda dua dan empat mengiringinya.
Eci, sepupu Anthonius yang ditemui di rumah duka, sangat sedih dan terpukul dengan kejadian yang menimpa almarhum. “Dia (Anthonius) anaknya baik. Pintar. Dia itu selalu juara kelas di sekolahnya,” kenang Evi.
Satu Korban Meninggal
Setelah mendapatkan perawatan di bedah Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat Wahidin Sudirohusodo, seorang korban gempa Palu meninggal dunia. Sandra (46) yang dirawat sejak Minggu (30/9) pukul 17.06 Wita, meninggal dunia pada hari Senin (1/10).
Perempuan kelahiran Palu, 31 Desember 1972 itu mengalami cidera berat pada bagian kepala. Jenazahnya telah dipulangkan pukul 10.27 Wita, kemarin ke kediaman keluarganya di Manado.
“Dari 38 pasien yang masuk, satu tidak tertolong karena cidera berat di kepala. Cidera di kepala memang tidak langsung membuat meninggal. Ada prosesnya atau fase yang di mana membuat penurunan kesadaran secara bertahap. Dan inilah yang dialami korban tersebut,” ungkap Prof Mansyur Arif, Direktur Pelayanan RS Wahidin Sudirohudoso dalam keterangan persnya, Senin (1/10).
Menurut Masyur Arif, kondisi Sandra pada saat masuk di RS Wahidin terlihat biasa-biasa saja dengan menggunakan kacamata mata awam. Tetapi benturan hingga membuat cidera berat di kepala, secara perlahan membuat turunnya kesadaran Sandra hingga diberikan perawatan medis di IGD.
“Untuk saat ini jumlah pasien yang dirawat berjumlah 25 orang. Sudah ada yang dipulangkan,” tambahnya.
Hingga pukul 15.00 Wita kemarin, korban gempa bumi dan tsunami terus berdatangan diangkut menggunakan ambulance. Di layar monitor RS Wahidin Sudirohusodo terdata sebanyak 11 orang korban ditangani di UGD. (mat-arf/rus)

