MAKASSAR, BKM– Mengikisnya lahan pertanian di dalam Kota Makassar salah satunya dipengaruhi oleh pengembangan perumahan. Olehnya itu, Dinas Pertanian dan Peternakan (DP2) Kota Makassar meminta luas lahan pertanian sawah di Kota Makassar yang tersisa 2.636 hektar, dengan luas lahan pekarangan 7.200-an hektar bisa dipertahankan.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (DP2) Kota Makassar, Rahman Bando, mengungkapkan, dari luas lahan sawah yang tersisa masih dapat menghasilkan gabah dalam setahun dengan rata-rata 6,8 sampai 8 ton per hektar.
Kata Rahman Bando membenarkan, dari luas lahan sawah tersebut setiap tahun mengalami pengurangan disebabkan pembangunan di Kota Makassar, terus terjadi.
“Pasti itu (pengurangan) terjadi, untuk itu mesti ada kebijakan agar lahan pertanian khususnya sawah yang masih tersisa ini untuk dipertahankan supaya nanti kita tidak kehilangan lahan pertanian di Kota Makassar akibat pembangunan,” kata Rahman.
Agar lahan pertanian tersebut seperti sawah bisa dipertahankan keberadaannya, sambung Rahman Bando, seharusnya database luas sawah yang produktif dan ada koneksi antara pemerintah dengan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan Notaris.
“Kita mau memproyeksikan kedua lembaga ini saja, untuk diberikan penegasan jangan dibuat aktenya kalau lahan pertanian produktif khususnya lahan sawah yang mempunyai pengairan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Rahman mengatakan produksi gabah di Makassar sendiri dalam setahun jika dirata-ratakan berada pada kisaran 20.000 ton pertahun, sesuai dengan lahan sawah yang ada.
Dari jumlah tersebut saja, belum mampu memenuhi suplai beras di Kota Makassar. Tapi karena Makassar ini merupakan sentral pemasaran komiditi dari berbagai daerah, sehingga persediaan beras di Makassar paling stabil.
“Makassar ini merupakan sentral pemasaran komiditi dari berbagai daerah, Alhamdulillah suplai beras di Makassar paling stabil,” ucapnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Amran Sulaiman usai membawakan kuliah umum di Universitas Cokroaminoto Makassar (UCM), Jumat (2/11) juga membenarkan, tingginya aktivitas pembangunan gedung-gedung baru di Kota Makassar berdampak langsung terhadap berkurangnya lahan pertanian di Kota Para Daeng ini.
Hal tersebut perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah baik pemerintah setempat maupun pemerintah pusat.
Adapun yang dilakukan oleh pemerintah pusat, jelas Amran, yakni bagaimana meningkatkan jumlah indeks produksi pertanaman utamanya produksi tananaman padi.
Ketika selama ini Indeks Pertanaman hanya satu sampai dua kali dalam setahun, dirinya mendorong untuk meningkatkan IP dalam setahun dilakukan hingga tiga kali. Tentunya ini harus didukung irigasi, dan Pemerintah Pusat saat ini terus melakukan pembenahan hal tersebut.
“Lahan kita sekarang ini jangan dianggap sempit, kita dorong tingkatkan IP jika selama ini hanya dilakukan sampai dua kali dalam setahun, padahal IP kita bisa mencapai 3 kali dalam setahun, olehnya itu ini kita dorong,” ungkap Amran.
Baginya, ketika IP dapat ditingkatkan secara otomatis produksi tanaman dapat meningkat.
“Kalau dulu padi hanya lima ton rata-ratanya dalam setahun, sekarang sudah ada 10 ton. Ini sudah kita lakukan dibeberapa daerah di Indonesia, nah untuk itu kita juga dorong Makassar kesana dan juga penggunaan teknologi yang tepat,” tambahnya.(nug/war/c)
Lahan Pertanian di Makassar Terancam Habis
×

