MAKASSAR, BKM–Berbagai persiapan dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Makassar menjelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Mulai dari simulasi hingga melakukan persiapan lainnya saat ujian berlangsung.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Abdul Rahman Bando mengatakan, simulasi UN tetap terus dilakukannya, terutama siswa SMP yang akan melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Tujuannya dikatakan Rahman supaya mereka bisa lancar mengoprasikan komputer maupun laptop.
“Simulasi ini supaya para siswa lancar mengoperasikan komputer, juga supaya tidak grogi terutama anak dari pesisir dan di pulau yang sehari-hari tidak biasa menggunakan laptop atau komputer,” kata Rahman, kepada BKM, Kamis (7/2).
Sejauh ini ditambahkan Rahman, simulasi masih terus berjalan di semua sekolah yang menyelenggarakan ujian mandiri di Makassar. Keseluruhan berjalan lancar, hanya saja memang ada beberapa anak yang masih gagap teknologi dan grogi, terkhusus anak-anak yang jarang pegang laptop.
“Mereka masih ada yang salah-salah tindis tombol. Makanya simulasi ini perlu, supaya tombol-tombol ini dihapal. Ini ndak bisa dianggap remeh, karena biasanya ada yang rendah nilainya karena masalah ini,” tambahnya.
Dinas Pendidikan pun dikatakan Rahman akan terus melakukan simulasi ini berulang-ulang supaya para siswa semakin lancar. Direncanakan simulasi akan kembali diadakan pada akhir februari ini, kemudian Maret nanti, dan saat mendekati UN.
“Kita akan lakukan lagi akhir bulan 2 simulasi, kemudian bulan 3, dan nanti sampe mendekati UN. Kan UN itu tanggal 22 april, jadi masih ada kesempatan 3 kali simulasi lagi,” ungkapnya.
Untuk persiapan lainnya, Dinas Pendidikan juga telah melakukan persiapan ruangan, koordinasi dengan PLN terkait jaminan ketersediaan listrik saat pelaksanaan, hingga koordinasi dengan provider penyedia jaringan komunikasi.
Demi ketersediaan jaringan saat pelaksanaannya nanti, Dinas Pendidikan terus menjalin komunikasi kepada para provider agar menjamin ketersediaan jaringan yang lancar. Terutama di Pulau Baranglompo yang dikatakan Rahman hanya tersedia jaringan Indosat.
Ketersediaan listrik juga dianggapnya harus selalu tersedia. Untuk mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan, setiap lokasi ujian nantinya juga akan disediakan genset. Rahman mengatakan, dirinya tak mau para siswa terganggu psikologisnya karena kekurangan fasilitas.
Rahman juga mengimbau kepada setiap lokasi penyelenggaraan untuk menyediakan loptop atau komputer cadangan. Penyediaannya ditambah sebanyak 10 persen dari jumlah siswa yang mengikuti ujian.
“Nanti kan dibagi tiga sesi, maka kalau satu sesinya ada 50 peserta, maka laptop minimal 55. Tiap lokasi itu. Kalau misalnya sekolah nantinya tidak mampu, kita akan minta partisipasi orang tua siswa. Tapi sekolah juga harus mencari cadangan,” jelasnya.
Akan ada juga nanti yang mengontrol alat-alat komputer yang membantu siswa kalau ada trouble. Hal ini penting lantaran hal teknis seperti terganggunya komputer kerap terjadi dan pemyelesaiannya yang lambat.
Rencananya juga akan dibuat tim pengawasan silang. Jadi tak ada guru sekolah setempat yang mengawas di sekolahnya sendiri. Hal ini dilakukan supaya penilaian lebih objektif.
“Supaya objektivitas. Kita tak mau siswa mendapat nilai karena intervensi dari guru. Maunya kita murni hasil pikiran siswa sendiri,” tutup Rahman.(nug/b)

