MEMBUKA usaha apalagi bercita-cita menjadi pengusaha, intinya tidak boleh kalah dengan berbagai tantangan. Terlebih lagi saat ini, banyak usaha yang gagal diakibatkan terkendala modal dan tidak adanya dukungan dari pemerintah. Tapi itu tidak ada dalam kamus Asri Jumari.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Asri sapaan akrabnya saat ini telah sukses membuka usaha Cemilan Kikome. Bahkan dalam mendirikan usaha cemilannya di Makassar, Asri masih mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Kepada penulis ia mengaku, dirinya banyak menemukan startegi dalam berwirausaha di usia muda, sehingga ketakutan yang selama ini dialami para usaha muda bisa ia buktikan.
“Saya mulai buka usaha ini sejak saya kuliah dulu dan dibantu dosen saya juga. Mengenai bagaimana caranya berbisnis tanpa takut modal dan persaingan. Jadi kiat-kiat berwirausaha itu saya sudah dapat dulu, jadi situ awal mula tertariknya,” ungkapnya, kemarin.
Apalagi, alumni Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar ini membeberkan kiat untuk bisa mengembangkan usaha dengan baik. Dimana menurutnya, seseorang harus punya kemauan yang kuat untuk menjadi pengusaha, dan tidak boleh takut dengan masalah yang akan dihadapi kedepannya.
“Sudah pasti mi’ itu, kendala pasti ada. Tetapi bagaimana menghadapi kendala dan memecahkannya bukan putus asa, karena modal yang biasanya dikeluhkan wirausaha pemula, jangan juga dijadikan alasan. Modal itu nomor dua. Yang penting kemauan,” bebernya.
Pria kelahiran Gowa, 4 Juni 1992 ini mengaku membangun usaha hanya dengan modal awal Rp150 ribu, dimana uang itu ia bagi untuk Rp50 ribu untuk cicilan mesin dan Rp100 ribu untuk membeli bahan baku. Dua alat inilah yang ia kemas awalnya dengan sederhana, tidak seperti saat ini yang sudah berkembang besar.
Awalnya pun anak kedua dari empat bersaudara ini menuturkan memilih sayur singkong menjadi keripik berawal ketika, Asri memanfaatkan lahan keluarga untuk menanam singkong agar bisa diambil daunnya untuk bahan dasar Kikome. Daun singkong yang awalnya hanya merupakan bahan dasar sayur tradisional, menjadi camilan berkualitas dengan kemasan modern.
“Kebetulan saya punya kebun keluarga yang menanam singkong banyak, nah disitu saya lihat banyak sayur yang bisa dijadikan keripik seperti, bayam dan kol. Tapi singkong di Makassar itu jarang, dan banyak yang suka daun singkong, dulunya tidak banyak yang suka karean mungkin asing untuk mereka,” katanya.
“Saya sempat ganti beberapa kali namanya sampai tiga kali pada saat itu, pertama namanya Keripik daun singkong. Tetapi, pemasarannya tidak berkembang, jalan di tempat, lalu diganti steak dendeng, tapi tidak berkembang juga. Karena itu mi’ masyarakat terlanjur mengidentikkan dendeng dengan daging. Akhirnya, ketemulah nama Kikome baru diterima seperti sekarang,” tambahnya.
Perjuangan inilah yang dimaksudkan Asri, namun tidak membuatnya pantang semangat. Karena menurutnya suatu produk tidak serta merta laris di pasaran dan menjadi kesukaan masyarakat, butuh banyak perjuangan utnuk merintisnya.
Sedangkan Kikome sendiri menurutnya adalah kependekkan dari keripik leko lame, nama ketiga sejak camilan ini diproduksi. Ditambah nama ini membawah ciri khas budaya daerah Makassar yang identik sekali rasa dan cita khas rasa yang dipunya. (*)

