DARIPADA menjadi kuli bangunan di tempat kelahirannya sana, Iko lebih memilih merantau di tanah daeng. Menurutnya, Makassar bisa lebih memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga.
Laporan: NUGROHO
Iko mulai mendorong gerobak rujak jualannya dari rumahnya pada siang hari. Biasanya, ia mendorong dari rumahnya sampai di Balai Kota Makassar tepat pukul 12.00 Wita.
Walaupun tempat jualannya di Balai Kota, namun jika dalam perjalannya ada yang ingin memesan rujak, ia tetap melayani. Bahkan dikatakannya, beberapa porsi telah terjual terlebih dahulu sebelum ia sampai di Balai Kota.
Pada siang hari itu saat tiba di Balai Kota, ia langsung saja menyiapkan dagangannya. Bahkan menyiapkan semua alat dan bahan jikalau langsung ada pembeli yang singgah. Karena tak dapat dipungkiri, dirinya yang seorang diri mengolah rujak, kerap dikerumuni pembeli, hingga biasa para pembeli menumpuk dan menunggu cukup lama menunggu rujaknya.
“Iya kalau lagi banyak yang beli, menumpuk orang. Biasa lama baru selesai pesanannya. Tapi Alhamdulillah tidak pernah ada yang komplain sampai marah-marah,” katanya.
Iko begitu menjaga kesegaran buah-buahan yang akan dibuatnya menjadi rujak. Bermacam-macam buah ia tempatkan khusus dalam kotak yang sudah diberikan balok es. Katanya, supaya buah-buahan dalam rujaknya tetap enak saat dinikmati.
Ada tujuh macam buah dalam satu porsi rujaknya. Antara lain pepaya, nanas, bengkoang, melon, mangga, timun, dan kedondong. Buah-buahan ini mulai dipotong-potong saat ada yang memesan.
Tentu potongan buah itu akan dicampur bumbu khusus yang ia buat sendiri. Ada kacang, gula merah, dan sambal dijadikan satu. Uniknya yang membedakan rujak buatannya dengan rujak lain, ia menambahkannya dengan tauco. Tauco ini lah yang membuat rujak buatan Iko menjadi lebih gurih dan lebih berasa.
Iko menjual rujaknya tiap porsi seharga Rp12 ribu. Tapi jika pelanggannya memesan khusus porsi tiap buahnya, maka ia memasang harga lebih mahal, sebesar Rp15 ribu.
“Kalau penghasilan tidak tentu perharinya. Tapi tiap hari pembeli ada sekitar 70an orang lah,” ungkapnya.
Saat buah-buahannya telah habis, ia langsung pulang. Biasanya baru habis dagangannya sekitar pukul 17.00 wita. Tentu setelah pulang, ia kembali menyiapkan dagangannya dengan membeli buah-buahan serta bumbu-bumbu.
Ternyata Iko tidak hanya melayani pesanan di tempat jualannya saja. Terkadang ia mendapat pesanan lewat telepon. Sama seperti saat BKM mewawancarainya, beberapa kali ia mengangkat telpon dari para pelanggannya.
“Iya biasa di dekat-dekat sini orang-orang yang sudah kenal menelpon. Ya kalau sudah pesan biasa saya antarkan. Atau biasa juga yang menelpon ini mau sekedar tau apa saya disini atau tidak, kalau sudah tahu mereka biasanya kesini untuk pesan,” tutupnya.
Mulai dari pagi sampai dengan sore hari, Iko berada di sekitaran jalan tersebut. Lokasi yang dipilih Iko bukan tanpa alasan, sebab puluhan ribu pegawai negeri maupun swasta berada di sekitaran kantor Balai Kota Makassar.
Iko bahkan terlihat begitu bersemangat saat banyak pembeli yang menghampiri gerobaknya.
Dengan leluasa, tangannya membuka setiap bungkusan plastik berisi buah potong yang nantinya akan disatukan menjadi rujak.
Apalagi, letak gerobaknya berada di depan warung makan, membuat orang yang sudah makan siang langsung tertarik membeli rujak sekadar cuci mulut.
Iko juga sangat ramah, membuat beberapa pembeli senang walaupun terkadang harus antre.
Ia meninggalkan tanah kelahirannya di Solo, Jawa Tengah puluhan tahun lalu. Ia pergi ke Makassar memang untuk mengais rezeki. Sehingga pada tahun 2000, ia telah mulai berjualan rujak hingga saat ini.
Kemampuan membuat rujak hanya ia pelajari dari teman-temannya saja. Tak ada trik khusus, hanya ia selalu melihat teman-temannya memotong-motong buah dengan campuran bumbu khusus. Makanya dari situ, ia terus mempelajari hingga ia kini sangat mahir dalam melayani pelanggannya.(nug/b)

