BANYAK yang mengatakan nasib penjahit rumahan kini mulai redup, bahkan pendapatan yang didapatkan tidak sebanding dengan yang dikerjakannya. Namun bagi Nurlaela Syamsia, lewat bisnis jahit menjahit dirinya bisa mendapatkan uang lebih dan membuka les privat menjahit.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Wanita Kelahiran ini Pangkajene, 22 Mei 1972 ini mengaku, mulai menjalankan bisnis menjahit ketika dirinya bingung bisa mengerjakan pekerjaan apa tanpa meninggalkan kodratnya sebagai ibu rumah tangga. Tidak bisa dipungkiri, bahwa dulu kehidupan Nurlaela mengalami krisis ekonomi, sebab pekerjaan sang suami hanya seorang pegawai biasa di salah satu perguruan tinggi di Makassar.
“Saya ke Makassar itu, karena ikut suami karena dia kerja disini. Mulai menjahit karena gaji suami juga tidak seberapa dan kebutuhan juga semakin tinggi. Mau andalkan gaji suami itu tidak cukup, makanya saya buka saja bisnis menjahit kecil-kecilan karena bisa bekerja dirumah juga urus keluarga juga bisa,” ungkapnya kepada penulis, baru-baru ini.
Laela mendapatan keahlian menjahit usai lulus SMA dan mengambil les menjahit. “Karena saya pernah punya niat kalau nanti saya tidak lanjut kuliah atau susah kerja di pemerintahan atau kantor saya mau buka usaha menjahit saja. Hampir satu tahun saya belajar menjahit dan itu tidak mudah,” katanya.
Membuka bisnis pasti menemukan kendala dan kesulitan. Sama halnya yang dirasakan Laela, ibu dari empat orang anak ini mengaku bermacam-macam cobaan pun pernah ia alami selama membuka bisnis jahit rumahan. “Semuanya ada, saya juga pernah dimarahi pelanggan gara-gara salah ukuran pas bikin pola, salah hitung ukuran. Tapi kita sabar saja, sudah resikonya kita,” ujarnya.
Keuntungan yang didapatkan dari bisnis menjahit rumahan juga diakui Laela tidak seberapa, dirinya pernah mendapat bayaran sebesar Rp10 ribu rupiah untuk permak. Sedangkan buat baju dibayar dengan harga Rp80 ribu. Namun Leala tetap syukuri dari hasil usahanya yang di mulai sejak tahun 2009 sudah mampu membeli mesin tambahan hingga sekarang total mesin jahit yang ia memiliki 6 buah.
“Kalau sekarang sudah lumayan karena saya selain buka jasa menjahit, saya juga jual baju gamis sendiri, dan menjualnya di online. Termasuk membuka privat menjahit dua kali seminggu,” bebernya.
Namun kata pepatah usaha tidak menghianati hasil. Saat ini jasanya sangat dibutuhkan orang banyak untuk membuat gaun pernikahan, seragam muslim dan lainnya. “Bagi memulai bisnis tak perlu berfikir lama.”yang penting berusaha terus dan jangan putus asa,” ucapnya. (Ita)

