SOSOK ayah merupakan kunci dan peran penting dalam kesuksesan Muh Fajar Maulana. Menurut pemuda berumur 27 tahun itu, sosok ayah banyak memberikan motivasi untuk terjun menjalani usaha.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
“Ayah merupakan pahlawan yang banyak memberikan masukan untuk saya. Masukan beliau soal bagaimana berwirausaha, bagaimana menjalin komunikasi ke pelanggan dan menjaga komitmen dengan konsumen serta karyawan,” ujar Fajar.
Bahkan Anak kedua dari lima bersaudara ini menggungkapkan kalau dulu ayahnya seorang pedagang di kalimantan, yang banyak mengajarkan dirinya berdagang. “Kuncinya semua diberi ayah saya, kalau bisa dibilang dia itu pahlawan bisnis saya. Karena ketika saya sudah tidak punya semangat jalankan, dia kasih saya motivasi dan dorong saya, ayo ayo semangat nak,” ungkapnya kepada penulis.
Kini keuntungan yang didapatkan Fajar setiap bulan dengan home industri sepatu yang diberi nama brand Frecase sudah mencapai Rp150-200 juta perbulan. Sedangkan untuk jasa kontruksinya diperkirakan mencapai ratusan juta. Namun untuk membeberkan itu, Fajar segan mengakuinya. Ia enggan disebut sukses, sebab tujuannya hanya ingin mengangkat harkat martabat keluarganya.
“Pembuatan sepatu ini menurutku keputusan yang tepat yang saya ambil. Sekarang sudah lebih malahan saya bersyukur saja. Alhamdullilah bisa naikkan derajat orangtua juga. Makanya ada sedikit rezeki dari usaha sendiri, sudah bisa perbaiki rumah mereka (orangtua),” tambahnya.
Tidak hanya itu, Fajar juga sering melakukan pertemuan diluar jam kerja dengan para karyawannya agar hubungan emosional tetap terjaga. Selain menjaga silaturahmi, Fajar juga memberikan layanan fasilitas yang sangat memadai untuk para karyawannya. Baginya kenyamanan para karyawan yang utama.
“Alhamdulillah, bila diberi rejeki setiap tahunnya selalu rencana untuk menaikkan seluruh karyawan untuk umroh. Insyah Allah di akhir Desember nanti, kita beserta rombongan kantor akan berangkat umrah,” bebernya.
Tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi Fajar dikenal oleh pegawainya sebagai bos yang pengertian dan baik hati. “Buat apa sallary nya besar tapi mereka tidak nyaman, tentunya orang pasti tidak akan betah dan memilih pindah. Kuncinya untuk karyawan, mereka harus dibuat nyaman dalam konteks yang sewajarnya,” tuturnya.
Fajar mengungkapkan cita-citanya untuk memajukan usahanya dan membuka cabang pennjualan baru lagi di daerah-daerah. “Keinginan saya kedepan hanya ingin lebih fokus karena sekarang banyak yang terbagi-bagi anatara pekerjaan, pribadi dan pendidikan saya. Jika diberi kesempatan lagi, insha allah kalau rejeki saya mau jalankan lagi di beberapa kota-kota di Indonesia,” tutupnya.
Pria kelahiran Makassar 3 Februari 1992 ini mengaku, dirinya mulai berwirausaha karena komitmen yang ia miliki. “Saya ingin tetap mempertahankan komitmen dan kedisiplinan karena apapun yang ingin kita lakukan pasti akan terwujud. Tidak ada pengusaha yang sukses tanpa adanya kedisiplinan, itu harga mati bagi saya,” ungkapnya.
Memulai bisnis sepatu, Fajar akui itu usaha pertamanya, dimana usaha yang diakuinya dimulai dari nol dan dengan biaya sendiri. Jatuh bangun menjadi makanan sehari-harinya, mulai dari pembuatan hingga pemasaran harus ia rasakan diawal-awal karirnya.
“Selama saya jalankan usaha ini, alhamdulillah cukup baik. Bohong juga itu pengusaha kalau tidak rasakan suka dukanya. Saya memulai usaha dengan modal pas-pasan Rp1 juta, saya buat sendiri cari bahan bakunya sendiri saya juga yang pergi jualkan di jalan dan banyak lagi,” bebernya.
Sebelumnya, dengan keterbatasan tenaga dan modal, Fajar mengakui butuh kerja extra membesarkan usaha. Belum lagi, kualitas sepatu yang diragukan oleh konsumen hingga dijatuhkan oleh pesaing.
Namun dibalik itu, anak dari Maulana dan Suharti ini menggungkapkan, ada pembelajaran tersendiri yang membuat usahanya kini bisa maju, bahkan usaha sepatu yang dijalankannya saat ini sangat produktif. Di samping itu pihaknya juga memiliki brand tersendiri. Produksinya pun dibuat by request, tergantung pesanan konsumen yang datang.
“Kalau kita kembali mengingat awal membesarkan usaha, saya sendiri suka sedih. Bagaimana tidak sedih, saya besarkan usaha dari keringat sendiri, tangan sendiri, mesin seadanya, uang cukup-cukupkan karena selesai kuliah itu saya putus asa cari kerja yang cocok dengan saya. Di 2014 baru saya putuskan buka usaha saja, syukurnya banyak yang doakan utamanya orangtua saya, mungkin doa mereka yang buat saya bisa seperti sekarang,” bebernya. (*)

