pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Berhenti Berjualan di Terong karena Rugi

Nurhading Mengisi Hari Tuanya Berjualan Pisang di Hertasning (1)

SIANG kemarin, penulis melintas di Jalan Hertasning, tak jauh dari rumah jabatan (rujab) ketua DPRD Makassar. Di sana nampak seorang bapak tua berdiri depan meja kayu yang berisi dua sisir pisang. Dia menanti orang-orang untuk datang membeli pisangnya. Dialah Nurhading.

Laporan: ARIF AL QADRY

“Tinggal dua sisir pisangnya pak, harga satu sisirnya 15 ribu saja,” sambut Nurahing kepada penulis yang singgah tepat di samping meja jualannya.
Ia mengaku, usia tua tidak menjadikan seseorang untuk menyerah dalam melanjutkan perjuangan hidup. Pepatah ini tetap tertanam dalam dirinya, meski telah berusia 74 tahun ia tetap mengisi hari-harinya dengan berjualan pisang dan sayur-sayuran.
Tak ada barang lain dijual oleh Rahing di lapak jualannya, kecuali pisang. Hanya pisang mentah dan pisang matang yang dijual. Harganya sama satu sisir pisang mentah dan matang dijual dengan harga Rp15 ribu.
“Selain pisang, dulu juga ada sayur, tapi sepi pembeli karena lebih banyak orang-orang beli pisang. Mungkin ada pertimbangan karena malu atau ada hal lain jadi mereka tidak beli sayuran di saya. Jadi cuman pisang saja saya jual sekarang ini,” katanya.
Rahing panggilan akrabnya mengaku, sudah sekira 50 tahun ia menggeluti hidup dengan berjualan pisang dan sayur.
Usianya yang usur itu tak membuat patah semangat. Ia berjuang mencari nafkah menghidupi anak-anak dan istrinya. Apalagi tiga orang anaknya ini masih ada bersekolah. Satu anaknya masih duduk di kelas lima SD, satunya kelas dua SMP dan satu anaknya lagi kelas tiga SMA. Sementara enam orang anaknya sudah punya keluarga masing-masing.
Seperti kisah yang disampaikan Rahing, pada tahun 1969 silam, dirinya berdagang di pasar tradisional di Makassar tepatnya di Pasar Terong. Waktu itu yang dia jual adalah sayur-sayuran. Setiap pagi hingga siang sayur jualannya pasti laku terjual. Tidak butuh waktu panjang paling lama pukul 12.00 siang semua sayuran sudah pasti laku semua.
Namun lambat-laun bisnis dagang sayuran merosok. Banyak kompetitor. Orang-orang semakin banyak jualan sayur-sayuran. Bahkan ada pula yang tak segan-segan membanting harga miring. Kondisi itu membuat semakin gelisah, apalagi sayur-sayuran yang dipesan dari daerah khususnya Gowa semakin berkurang. Banyak pemesan dan harga belinya terus naik.
“Karena sudah sepi pembeli di pasar dan banyak saingan, saya coba untuk jualan keliling naik sepeda. Awalnya baik banyak pembeli dengan keluar masuk ke perumahan dan kompleks. Tapi itu lagi, tenagaku samkin cepat surut, jadi saya nongkorong saja di sini (Jalan Hertasning) tunggu orang-orang datang beli,” sebutnya.
Tetapi harapan ramainya orang-orang datang membeli sayur-sayurannya, sepi. Berjam-jam menunggu cuman bisa membawa pulang uang Rp30 ribu saja. Itupun yang laku terjual hanyalah pisang mentah saja.
“Nah disitu mi saya berpikir daripada rugi mendingan saya jualan pisang saja. Saya beli pisang di pasar dan saya jual kembali. Tidak apa kalau untungnya kecil asal banyak laku dan cepat terputar modal,” akunya. (*)




×


Berhenti Berjualan di Terong karena Rugi

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar