BERKAT ketekunan dan menghilangkan sifat gengsi, ibu rumah tangga ini berhasil merintis usaha kacang telur. Ia adalah Yusrifah Halik. Meski memiliki segudang aktivitas seperti mengurus anak dan suami serta mengerjakan pekerjaan di rumah, Yusrifah bisa mengatasinya sendiri.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Saat ini usaha yang digelutinya telah memberi keuntungan. Apalagi, teman-temannya semasa di sekolah dulu menjadikannya sebagai cemilan dan tidak membosankan untuk dikonsumsi.
Sejak merintis usahanya 2015 lalu, wanita Kelahiran Makassar, 18 April 1980 ini mengakui, jika kacang telur adalah salah satu camilan yang kerap dijadikan orang untuk teman bersantai. Olehnya itu, ia mulai membangun usaha. Apalagi, bahan bakunya ia ambil di daerah Polewali Mandar yang tidak mengeluarkan ongkos mahal.
“Kacang telur produksi saya merupakan kacang telur kampung tradisional. Tidak ada bahan pengawat. Saya memesan kacang ini dari suplier kacang yang ada di Makassar, Polewali. Usaha ini saya tekuni disamping memang penyuka kacang, usaha ini juga mendatangkan banyak rezeki,” katanya.
Sebelum membuka usaha, Yusrifah sempat berkonsultasi ke suaminya. Akhirnya, suami juga ikut mendukung.”Suami mendukung langsung tancap gas. Sedikit-dikit saya mulai membangun usaha ini sambil belajar dan menanyakan ke teman yang sudah buka usaha juga,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu di Hotel Claro.
Setelah itu, Rifah mengaku merintis usaha ini diakui butuh perjuangan dan waktu lama untuk bisa berkembang dan masuk ke pusat toko oleh-oleh Makassar, sebab proses dan pengurusan yang lama.
“Merintis usaha ini, saya benar-benar merintis dari nol. Untuk berkembang juga, memerlukan waktu yang cukup lama. Saya tidak patah semangat, tetap berusaha karena saya yakin usaha saya ini menjanjikan. Apalagi, saya hanya fokus pada satu produk, beda kalau banyak pasti keteteran urusanya. Tnggal kita pikir bagaimana modal besarnya sama bisa pasarkan di toko-toko,” jelasnya.
Apalagi Rifah menambahkan, tidak mengeluarkan modal besar untuk usahanya, karena selama ini ia memproduksi secara manual dan memasarkannyapun bisa melalui internet (media sosial).”Modal awal saya hanya sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Karena, pengolahannya saat itu masih manual. Kacang juga saat itu masih murah, kalau sekarang memang agak mahal mi. Saya bisa memproduksi sampai 1.000 kemasan,” katanya.(*)

