MAKASSAR, BKM — Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulawesi Selatan, Dra Hj Andi Ritamariani,MPd mengajak kaum remaja untuk selalu menjaga kesehatan reproduksi di masa pandemi covid-19.
Imbauan ini disampaikan Andi Rita saat menjadi narasumber dalam seminar nasional Kesehatan Reproduksi Remaja di Masa Pandemi Covid-19, yang diselenggarakan secara virtual oleh Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Alauddin (UIN) Makassar bekerja sama BKKBN Sulsel, Rabu (17/6).
Seminar virtual ini juga menghadirkan narasumber Wakil Dekan Ushuluddin dan FilsafatUIN Makassar Dr Rahmi Damis,MAg dan Ketua Program Studi Kebidanan UIN Makassar Firdayanti,SST, MKeb. Diikuti ratusan peserta dari seluruh Indonesia.
Dalam paparan materinya, Andi Rita mengatakan jika remaja perlu dibekali pengetahuan kesehatan reproduksi, terutama di masa pandemi covid-19. Karena masa remaja merupakan tahap identifikasi diri sehingga senang berinteraksi dan berkumpul sehingga rawan menjadi OTG (orang tanpa gejala). Juga berpotensi menjadi carrier covid-19 meskipun nampak sehat
Andi Rita mengajak pula seluruh peserta remaja untuk melakukan kegiatan yang positif selama masa pandemi, dengan berperan dalam kegiatan pencegahan sebagai bagian dari gugus tugas pencegahan covid-19. Atau melakukan aktivitas daring yang menarik seperti menyalurkan hobi di dunia maya, seperti vlogger, video tutorial, youtuber, dan lainnya.
“Saat ini, sasaran utama BKKBN adalah generasi millennial dan zillenial. Untuk itu, BKKBN ingin terhubung dengan generasi muda dan menyesuaikan dengan perubahan lingkungan yang demikian cepat dengan melakukan pembaruan dari jingle, logo dan tagline. Ini adalah cara agar BKKBN semakin relevan dengan perkembangan masyarakat saat ini dan ke depan,” ujar Andi Rita.
Andi Rita mengatakan, visi BKKBN dalam mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan keluarga berkualitas diselenggarakan melalui pembangunan keluarga yang holistik integratif sesuai siklus hidup.
Remaja usia 10-24 tahun merupakan kelompok penduduk yang sangat besar, yaitu sekitar 27,6 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang perlu mendapat perhatian. Mereka saat ini sangat rentan terpengaruh oleh perilaku negatif seperti seks bebas, narkoba hingga pernikahan dini.
Pernikahan dini di bawah usia 20 tahun yang terjadi, tidak sedikit berujung pada perceraian. Remaja yang tidak siap secara psikologi dan kesehatan dapat berdampak pada lahirnya anak stunting hingga kematian ibu dan bayi.
“Organ reproduksi wanita di bawah 20 tahun apabila terpapar hubungan seksual, berisiko terkena kanker serviks di kemudian hari. Karena organ reproduksi yang belum berkembang dengan sempurna. Selain itu, ketika hamil di usia muda dapat berisiko saat melahirkan. Untuk itu perlu perencaaan dalam berkeluarga,” terang Andi Rita.
BKKBN sebagai lembaga negara non-kementerian, lanjut Andi Rita, memiliki tugas utama melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengendalian penduduk dan penyelenggaraan keluarga berencana. Ada tiga pilar utama dalam BKKBN, yaitu pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana yang disingkat Bangga Kencana.
“Remaja harus memahami pengetahuan kesehatan reproduksi seperti ini. Tapi bukan hanya dari segi kesehatan, namun harus juga mengerti bahwa dengan kawin pada usia muda akan berakibat kehamilan yang tidak direncanakan. Dapat menyebabkan remaja putus sekolah. Padahal harusnya mereka mengenyam pendidikan sebaik mungkin,” tambah Andi Rita.
Tugas BKKBN sangat erat kaitannya dengan masalah pendidikan, yaitu penyiapan generasi yang unggul dan berkualitas lewat program pendewasaan usia perkawinan dan KB. Untuk menciptakan generasi yang berkualitas, maka keluarga harus dipersipakan sejak dini melalui perencanaan keluarga.
Untuk itu BKKBN telah mengembangkan program Generasi Berencana (GenRe) di sekolah, kampus dan masyarakat melalui pendirian Pusat Informasi dan Konseling (PIK) remaja. GenRe adalah program yang dikembangkan dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja melalui pemahaman tentang pendewasaan usia perkawinan sehingga mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara terencana, berkarir dalam pekerjaan secara terencana, serta menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi.
“Salah satu program yang dilakukan BKKBN adalah melalui BKR (Bina Keluarga Remaja) dan Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR) melalui forum Genre (Generasi Berencana). Anak-anak remaja dapat memiliki wadah untuk berkumpul dan berbagi. Selain itu juga dilakukakan kegiatan pemberian informasi mengenai kesehatan reproduksi untuk masyarakat, seperti penanaman nilai moral melalui delapan fungsi keluarga, pendewasaan usia perkawinan, komunikasi efektif orangtua terhadap remaja, dan pemenuhan gizi remaja,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar Dr dr Syatirah Jalaluddin,SpA,MKes mengapresiasi kegiatan seminar nasional ini yang telah menghadirkan ratusan peserta dari seluruh Indonesia. Menurutnya, kegiatan ini dalam rangka meningkatkan pemahaman dan pengetahuan terkait kesehatan reproduksi remaja.
“Mungkin sebelumnya webinar seperti ini belum umum bagi kita, namun sekarang ini justru sebaliknya. Kita perlu mengembangkan continuum of care, sehingga kita bisa lebih tanggap terhadap setiap perubahan yang terjadi. Ke depan kita kan sering menjumpai kegiatan seperti ini sebagai wadah pembelajaran sekaligus silaturahmi bagi mahasiswa kebidanan,” ujar Syatirah.
Di akhir pertemuan, Syatirah mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber yang telah memberikan pengetahuan dan bekal kepada peserta remaja. Khususnya kepada BKKBN yang gencar dalam mensosialisasikan kesehatan reproduksi kepada masyarakat, khususnya remaja. (rls)

