MAKASSAR, BKM — Pandemi covid-19 berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak usaha yang terpaksa harus berhenti sementara karena masyarakat tidak memiliki daya ekonomi yang baik. Ada juga yang bisa bertahan dengan pendapatan seadanya.
Salah satu yang terkena dampak adalah Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Kota Makassar.
Menurut Kabag Humas PDAM Makassar, M Rusli, pendapatan Perumda Air Minum selama masa pandemi ini menurun drastis akibat minimnya pemakaian air di sektor industri, baik kuliner hingga jasa penginapan (Hotel dan Rumah Kos).
“Pendapatan terus menurun, apalagi saat ini kembali lagi diterapkan pembatasan akses bagi warga luar masuk Makassar,” ujar Rusli, Rabu (15/7).
Ia mengungkapkan, pendapatan normal PDAM terakhir diterima saat tagihan Februari yang dibayarkan pada Maret 2020.
Saat itu, anak perusahaan dari Pemerintah Kota Makassar ini masih menerima Rp28 miliar, atau rata-rata penerimaan bulanan.
Memasuki masa tagihan Maret, yang dibayarkan pada April 2020 pendapatan PDAM mulai menurun. Hal itu saat Kota Makassar ditetapkan sebagai zona merah, dan dilakukan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Kecil (PSBK) dan dilanjutkan hingga PSBB.
“Waktu Maret itu kita masih dapat Rp28,8 miliar, sedangkan saat masuk April 2020 turun menjadi Rp27 miliar,” katanya.
Tak hanya itu, seiring berjalannya bulan, pendapatan perusahaan ini kian menurun, saat pembayaran Mei 2020 PDAM hanya menerima Rp25 miliar, sampai masuk pada pembayaran Juni Rp21 miliar.
Ia menjelaskan penyebab merosotnya pendapatan ini karena banyaknya industri restoran yang tutup, sepinya pengunjung hotel, dan rumah kos yang ditinggal para penghuninya.
“Perlu diketahui bahwa rumah kos juga memberikan kontribusi besar bagi PDAM. selain itu ada juga mall, dan hotel. Tiga sektor ini memiliki pengaruh besar bagi pendapatan kita,” katanya.
Bagi Rusli, meski direksi PDAM saat ini terus melakukan pelayanan kepada pelanggan namun pendapatan diyakini tidak akan mengubah kondisi seperti sebelumnya.
“Seperti saya contohkan jasa hotel, walaupun hotel sudah buka, toh tidak ada yang mau datang nginap, restoran meski dibuka juga berpengaruh apalagi rata rata orang luar Makassar dibatasi masuk. Jadi ada air, tapi tidak ada pemakaian. Mall juga demikian, sepi pengunjung,” ujar Rusli.
Ia mengakui, pemakaian air saat ini didominasi oleh rumah tangga saja.
Sekedar diketahui, pemakaian air pelanggan PDAM di waktu normal sebanyak 450 ribu kubik, sedangkan saat pandemi saat ini hanya 300 ribu kubik. (rhm)
Pendapatan Perumda Air Minum Merosot
×

