GOWA, BKM — Ketua Forum Perpustakaan Lorong dan Desa Sulawesi Selatan Bachtiar Adnan Kusuma tampil sebagai pembicara dalam Bincang Literasi, sebagai rangkaian kegiatan Kemah Literasi, Sastra, dan Budaya (Lisabu) yang diselenggarakan oleh HPBI Gowa di Lembanna, Rabu (28/10).
Didampingi oleh Supramin sebagai moderator, Bachtiar membuka perbincangan dengan mengutip pernyataan Montesque; berikan aku cinta, berikan aku sahabat, dan berikan aku buku, dunia akan kuguncangkan.
“Gerakan literasi dan perbukuan menjadi simbol kemajuan peradaban suatu bangsa. Karenanya, literasi harus digalakkan. Tidak hanya berharap dari program pemerintah yang dititip ke sekolah, tetapi memulai dari sekolah pertama yaitu keluarga. Orang tua, utamanya ibu, harus mengenalkan literasi dan menjadi contoh teladan bagi anak-anak,” ungkap Bachtiar.
Saat ditanya tentang hubungan kesuksesan gerakan literasi dengan pemerintah, Bachtiar menegaskan agar tidak terlalu berharap dari program. Gerakan literasi bisa menjadi gerakan sukarela dan kadang malah lebih berhasil.
“Memang dibutuhkan pemimpin daerah yang peduli pada dunia literasi dan perbukuan, tetapi bukan berarti kita tidak bergerak,” tandasnya.
Bachtiar Adnan Kusuma yang telah menggeluti dunia kepenulisan dan perbukuan sejak remaja, menganggap buku digital sebagai bentuk pelemahan dunia literasi, meskipun tetap menyadari bahwa hal tersebut tak dapat ditolak kehadirannya sebagai bentuk penyesuaian zaman.
“Tapi sampai kapan? Coba kita lihat perpustakaan multimedia di Jalan Sultan Alauddin, bagaimana kondisinya sekarang? Itu bukti bahwa masyarakat masih memilih membaca buku yang sebenar-benarnya buku,” ujarnya.
Pada kesempatan sore yang sejuk itu, Adnan membagikan buku karyanya kepada peserta yang aktif selama bincang berlangsung.
“Untuk HPBI, insyaallah ini bukan kehadiran saya yang terkahir. Kita akan senantiasa bersinergi untuk dunia literasi dan perbukuan,” ungkapnya sebagai penutup bincang-bincang tersebut. (rls)

