MAKASSAR, BKM — Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan menjadi atensi khusus Pemerintah Kota Makassar, sebab kasus tersebut masih terbilang tinggi. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) mencatat hingga 27 November 2023, tercatat sebanyak 558 kasus terjadi di Makassar.
“Angka itu cukup tinggi yah. Sehingga kita tetapkan status waspada terhadap kekerasan perempuan dan anak di Makassar,” ungkap Kepala DP3A Makassar, Achi Soleman dalam Pertemuan Koordinasi dan Kerjasama Lintas Sektor Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, yang digelar di Hotel Best Western Premier Jl Bontolempangan, Kamis (7/12).
Dia melanjutkan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi dengan beragam jenis.
Baik fisik, KDRT, hingga kekerasan seksual. Apalagi jika berkaca pada data, kasus masih didominasi kekerasan pada anak, dengan jenis kekerasan seksual.
Ini perlu perhatian serius sebab kasus ini memberi dampak psikologis yang buruk ke anak. Dimana akan memberi trauma yang berkepanjangan ke anak.
“Sekali lagi bahwa ini adalah alarm untuk kita sama-sama melakukan upaya pencegahan dari jumlah kasus yang ada saat ini,” tegas Achi.
Menurutnya upaya untuk menekan angka ini dapat ditempuh dengan koordinasi lintas sektor. Tak hanya pemerintah saja, melainkan masyarakat, Non Goverment Organization (NGO) perguruan tinggi hingga Jurnalis.
“Ini untuk sama-sama kita sepaham bahwa pencegahan kekerasan itu sudah harus dilakukan,” terang Achi.
Upaya yang sejauh ini dilakukan dengan pembentukan 85 shelter di kurahan. Shelter ini berada di rumah masyarakat sendiri. Ini untuk memberikan kesempat bagi masyarakat untuk ikut terlibat di garda terdepan dalam pencegahan kekerasan di Makassar.
Sementara itu Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3A Makassar Muslimin Hasbullah menambahkan, beberapa faktor penyebab maraknya kasus kekerasan ini juga dipengaruhi perkembangan sosial media.
Bahkan banyak di antara yang terjaring adalah anak yang menjajakan diri sebagai PSK secara daring alias Open Booking Online (BO).
“Kalau kasus ini minggu lalu kita dikagetkan dengan kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak. Seminggu kemudian dengan kasus yang sama, dan memang akhir November kemarin, kasus kekerasan seksual lebih banyak termasuk di dalamnya booking online (BO),” bebernya.
Kondisi ini menurutnya cukup memprihatinkan, sebab terjadi pergeseran tingkat dewasa anak-anak. Dari sebelumnya didominasi oleh anak SMA kini semakin muda dan banyak dilakukan anak SMP.
“Sekarang berbeda. Itu lebih banyak sekarang yang anak SMP, jadi mereka ini sekarang cepat sekali dewasa karena sosial media,” terangnya. (rhm)

