pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Waspada Provokasi

Khusnul Fachria Prodi Tata Busana Universitas Negeri Makassar

SELURUH elemen masyarakat tentunya berharap agar proses pilkada yang akan digelar nantinya dapat berjalan dengan kondusif serta menjunjung tinggi asas jujur dan adil, sebagaimana amanat yang tertuang dalam konstitusi kita. Menjelang proses pilkada kita harus waspada akan segala bentuk provokasi yang bisa merusak kondusivitas. Provokasi jelang pilkada bisa datang dari mana saja baik secara verbal maupun secara non verbal.
Secara definisi, provokasi adalah tindakan atau perilaku yang secara sengaja dilakukan untuk merangsang atau menimbulkan reaksi emosional, fisik, atau intelektual dari orang lain. Tindakan seperti ini biasanya dirancang untuk memicu perasaan, respons, atau tanggapan yang kuat dan intens.
Provokasi dalam media sosial juga sangat intens terjadi. Hal ini mengacu pada tindakan yang sengaja dilakukan oleh individu atau kelompok untuk memicu reaksi emosional, kontroversi, atau perdebatan di platform-platform media sosial. Fenomena ini melibatkan penyebaran konten atau pesan. Tujuannya untuk merangsang tanggapan intens dari pengguna medsos dengan cara yang kontroversial atau menantang.

Dalam konteks politik provokasi melalui media sosial ini sering digunakan oleh oknum tertentu untuk menyebarkan berita hoaks, yang ditujukan kepada paslon tertentu. Tentu cara seperti ini tidak menunjukkan integritas yang baik dalam konteks politik. Sebab ajang pemilihan seperti pilkada haruslah menjadi pertarungan narasi dan gagasan.
Penting untuk memahami bahwa provokasi dalam konteks media sosial seringkali bertujuan untuk menghasilkan reaksi kuat, entah itu dalam bentuk dukungan yang sangat positif atau kritik yang tajam. Provokasi umumnya dapat menyebar dengan cepat di media sosial, karena kemampuan platform tersebut untuk menciptakan efek viral.
Konten provokatif, entah itu dalam bentuk meme, komentar, atau artikel, dapat diakses oleh ribuan atau bahkan jutaan orang dalam hitungan detik, yang bertujuan menciptakan perdebatan dan konflik.

Provokasi umumnya didorong dari niat yang disadari untuk memancing reaksi atau tanggapan.
Ini bukanlah hasil dari kebetulan, melainkan merupakan langkah yang direncanakan dengan tujuan tertentu. Niat tersebut bisa bermacam-macam, seperti menguji ketahanan emosional seseorang, mengubah pandangan, atau menciptakan perdebatan.
Dalam situasi politik, provokasi ini digunakan untuk memicu perdebatan terhadap hal-hal yang tidak konstruktif untuk diperdebatkan, seperti mempersoalkan suku dan etnis dari para paslon. Hal tersebut sangat tidak etis untuk dibahas, karena negara kita adalah bangsa yang majemuk dan kaya akan keberagaman.

Provokasi jelang pilkada adalah sesuatu yang harus sangat diwaspadai karena dapat memanipulasi reaksi dan tanggapan dari individu yang diprovokasi. Pelaku provokasi ingin melihat bagaimana orang bereaksi terhadap tindakan mereka, dengan harapan dapat mengontrol narasi atau mencapai tujuan mereka sehingga membawa dampak yang luas dan kompleks pada individu, kelompok, dan lingkungan.
Provokasi jelang pilkada tidak hanya tentang adu domba belaka, tetapi tentang cara yang tidak bermoral. Sebab provokasi pada tahun politik yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu bisa saja memberikan narasi yang bersifat manipulatif agar masyarakat mau melakukan praktik money politics, sehingga menghasilkan pemilihan yang tidak lagi berintegritas.
Oleh sebab itu kita selaku masyarakat harus sangat hati-hati dalam menelaah setiap informasi yang beredar. Karena penyebaran informasi yang bersifat provokatif sangat mungkin terjadi, maka kita harus kritis terhadap setiap informasi yang beredar. (yus)



×


Waspada Provokasi

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link