pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Uangnya Hanya Rp2.000, Kebutuhan Pokok di Rumah Habis

Daeng Tutu, dari Buruh Harian Hingga Penjual Pentol

bkm/fajar PENTOL--Daeng Tutu melayani pembeli pentolan.Pria kelahiran Kabupaten Bantaeng 1972 ini setiap hari berjualan di depan Kampus UINAM.

Perjalanan seseorang memang sulit untuk diterka semua merupakan kehendak sang pencipta bagaikan roda yang sedang berjalan kadang di atas dan kadang di bawah. Seperti itulah hal yang menggambarkan kisah Mentari Daeng Tutu.

PENULIS: FAJAR

Pria yang kerap disapa Daeng Tutu ini merupakan kelahiran Kabupaten Bantaeng 1972 dan saat ini berprofesi sebagai seorang penjual pentolan, bermodalkan gerobak dan beberapa alat bumbu ia membawa pentolannya dengan menggunakan sepeda motor dengan menempuh jarak 6Km dari tempat tinggalnya.

Sebelum bisa bernafas lega seperti sekarang ini, ia mengaku dulunya harus melewati perjalanan yang cukup sulit, apalagi saat baru menikah ia hanya tinggal di sebuah kontrakan bersama sang istri dan bekerja sebagai buruh harian yang digaji Rp40.000 perharinya di mulai pukul 07.00-17.00 wita.
“Sebelum saya menjalani usaha bakso tusuk, mula-mulanya saya jadi kuli bangunan selama satu tahun lebih dan digaji Rp40.000 selama per harinya, itu dimulai jam tujuh sampai setengah lima,” ungkap Daeng Tutu saat ditemui di lokasi jualannya.

Setelah menjadi buruh harian selama satu tahun ia memutuskan untuk mendaftar sebagai ojek online (Ojol). Namun perjalanannya menjadi Ojol pun terbilang singkat sebab ia harus kembali melewati masa sulit dengan hadirnya pandemi covid-19 hingga ia memutuskan untuk merintis usaha dengan berjualan pentolan atau bakso tusuk.
“Setelah jadi buruh harian saya memutuskan untuk daftar Ojol.Saya jalani selama satu tahun namun pada saat itu pandemi covid, jadi Ojol kurang pemasukan karena aktivitas terbatas.Jadi saya putuskan untuk kembali ke rumah untuk berfikir bahwa selama pandemi ini apa yang bagus untuk usaha yang dirintis, ternyata bakso tusuk ini sepertinya bagus untuk dibuat usaha,” bebernya.
Pria anak satu ini mengaku bahwa awal mulanya ia belajar membuat pentol atau bakso tusuk itu belajar dari sepupunya. Setelah itu ia akhirnya berani untuk membuat bakso sendiri hingga keliling berjualan di beberapa jalan yang ada di kota Makassar hingga akhirnya sekarang sudah berhasil membeli rumah sendiri dan beberapa motor.
“Kebetulan ada sepupu yang pintar buat bakso jadi saya belajar disitu dan sedikit demi sedikit saya modali untuk buat bakso. Waktu itu saya modali Rp150.000 dan saya keliling menjual pakai motor di jalan Daeng Tata, Bontoduri, Alauddin pokoknya saya menjual sampai subuh dan Alhamdulillah hari demi hari rezeki ada bertambah sedikit jadi itu bisa menambah modal hingga sampai titik sekarang ini saya sudah bisa membeli rumah dan beberapa kendaraan motor itu Alhamdulillah sekarang sudah ada 3 unit,”lanjutnya.

Saat ini Daeng Tutu tidak lagi berkeliling untuk menjajakan jualannya sebab ia sudah mempunyai tempat mangkal yang berada tepat di depan kampus UIN Makassar. Ia mengaku bahwa sudah melakoni pekerjaan tersebut selama lima tahun dan harga yang ia jual kan pun ada dua macam bahkan saat ini ia setiap harinya ia bisa memperoleh Rp500.000 perharinya.
“Sekarang saya sudah lima tahun berjualan disini dan bakso yang saya jual itu harganya ada dua macam ada yang Rp500 dan ada yang Rp1.000.Awal-awalnya saya hanya dapat Rp180.000 tapi Alhamdulillah sekarang sudah tembus Rp500.000 perharinya,”sambungnya.

Namun dibalik itu semua Daeng Tutu mengaku ada satu momen yang paling tidak bisa ia lupakan waktu itu, ia hanya memiliki Rp2.000 di dompet dan bahan-bahan pokok di rumah telah habis semua.
“Waktu yang paling susah itu adalah saat pernikahan saya sudah berjalan satu tahun dan sampai sekarang saya masih ingat waktu itu bahan baku di rumah itu habis, uang saya waktu itu hanya Rp2000. Jadi waktu itu saya putuskan untuk pergi ke saudara saya untuk bilang bahwa kakak tolong pinjam uangta Rp1000 karena saya tidak ada uang kecil, padahal nyatanya memang saya tidak ada uang apa lagi saat itu belum gajian dan itu adalah kenangan yang paling sedih bagi saya sampai saat ini,” kuncinya.
Ia pun berharap agar kiranya usahanya bisa semakin berkembang dan harga bahan pokok ke depannya bisa terjangkau. (Jar)



×


Uangnya Hanya Rp2.000, Kebutuhan Pokok di Rumah Habis

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link