MAKASSAR, BKM — Persatuan Wanita Tarbiyah Islamiyah (PERWATI) Sulawesi Selatan menggelar Pelatihan Pemberdayaan Muballighat dan Moderasi Beragama yang digelar oleh di Continent Hotel Makassar, akhir pekan lalu.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Ali Yafid, menekankan bahwa kegiatan ini selaras dan mendukung program prioritas Kementerian Agama, khususnya dalam penguatan moderasi beragama dan pemberdayaan perempuan di bidang dakwah.
“Ini bukan sekadar pelatihan biasa, tetapi bagian dari gerakan besar yang kita sebut transformasi pelayanan umat. Kegiatan ini sangat sejalan dengan Program Prioritas Menteri Agama dan juga bagian dari Asta Aksi Kemenag Sulsel yang kami canangkan sebagai peta jalan perubahan di lingkungan Kanwil Kemenag Sulsel,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa penguatan moderasi beragama tidak bisa dilepaskan dari peran aktif perempuan, khususnya para muballighat.
Menurutnya, dakwah yang disampaikan perempuan memiliki kekuatan tersendiri karena menyentuh langsung aspek keluarga dan kehidupan sosial.
Ia mengangkat kisah inspiratif Asiyah, istri Fir’aun, sebagai simbol keteguhan iman dan kesabaran. Menurutnya, perempuan memiliki kekuatan spiritual dan moral yang besar, yang jika diberdayakan dengan benar, dapat menjadi penggerak utama perubahan masyarakat.
“Perempuan bukan hanya pelengkap dalam gerakan dakwah. Mereka adalah pilar utama. Kita butuh lebih banyak muballighat yang membawa wajah Islam yang sejuk, terbuka, dan merangkul semua kalangan,” tegasnya.
Dalam konteks kebijakan nasional, Ali Yafid menyampaikan bahwa pelatihan ini mendukung agenda prioritas Kementerian Agama RI, terutama dalam hal Penguatan moderasi beragama, Revitalisasi peran tokoh agama, Penguatan pendidikan agama dan keagamaan, dan Pemberdayaan perempuan dalam ruang-ruang keagamaan.
Sementara dalam konteks lokal, kegiatan ini juga menjadi implementasi nyata dari Asta Aksi Kemenag Sulsel, yaitu delapan langkah strategis Kanwil Kemenag Sulsel dalam memperkuat layanan, literasi keagamaan, dan tata kelola kelembagaan.
“Kita tidak bisa bicara pelayanan publik yang baik tanpa membangun kekuatan dari sisi internal keagamaan. Para muballighat adalah bagian penting dari kekuatan itu. Maka kita dorong agar kegiatan seperti ini menjadi gerakan bersama, bukan hanya agenda organisasi,” sambungnya. (jun)

