SABAR sepertinya menjadi salah satu kunci dalam menggapai kesuksesan di dunia bisnis. Hal itu dibuktikan oleh Muh Nur Ashari dalam membuka bisnis Bakso Cingkrank.
Laporan: JUNI SEWANG
Lulusan STIE Nobel, jurusan Manajemen Bisnis, dengan tekun menjalankan usahanya, kendati beberapa cobaan menghampirinya.
Pria kelahiran 23 Mei 1983 ini memang harus terjun di dunia bisnis usai menyelesaikan study nya, ia sudah menikah dan dikaruniai 2 orang anak. Tak ingin sendiri dalam merintis usahanya, Ashari merintis usaha Bakso Cingkrank sistem Syirkah dengan menjual saham, dimana perlembar saham seharga Rp5 juta.
“Cabang pertama di Antang, saya merintis pada Juli 2016, awalnya teman teman yang sering sama sama salat, ngobrol biasa bagaimana kalau buat usaha, yang Islami, maka diberilah nama Cingkrank (celana diatas mata kaki), ini awalnya, dari konsultasi, konsep kemudian ajak kerja sama join, bagaimana ini bisnis bisa banyak yang suka,” jelas Ashari.
Ia tak perlu larut dalam bisnisnya, Ia selaku salah satu pemilik saham kembali membuka usaha baru, usaha yang sama, dari cabang pertama di bulan Juli 2016, membuka cabang ke dua dalam waktu 6 bulan, 2018 Ashari dan teman temannya membuka cabang ke enam dalam kota Makassar.
“Semua pegawai muslim, semua pegawai perempuan wajib jilbab, ini adalah usaha sembari berdakwah,” tuturnya.
Hal menarik dari Warung Bakso Mas Cingkrank tersebut, selalu mengandalkan dan menjaga khas kearifan lokal dalam setiap menu-menunya. Bahkan, tiap tiga bulan sekali, pihak owner selalu berinovasi menu.
Outlet-outlet tersebut, sebelumnya telah ada di Antang, Abdullah Dg Sirua, BTP, Sudiang, Sunu, dan kini di Pettarani.
“Alhamdulillah. Mudah-mudahan outlet ke enam ini, semakin berkah dan memberikan sumbangsih besar pada pencapaian target akhir tahun ini,” ujar Ashari.
Adapun harga menu, kata Ashari, dibanderol mulai Rp16.000 hingga Rp40.000.
Menu-menu yang tersedia pun variatif, bukan hanya bakso saja. Tapi juga ada menu-menu tradisional, dan menu inovasi yang dijamin memiliki cita rasa unik menggoda lidah.
Selain itu, juga ada menu mie pangsit Samiyang yang berlevel hingga level terpedas, juga mie koma, dan mie rica-rica.
“Semua menu kami menjadi andalan pengunjung. Apalagi, kami tetap mempertahankan cita rasa khas kearifan lokal. Ini salah satu daya tarik kami,” katanya.(*)

