pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dicaci Maki Hingga Mendapat Orderan Banyak

DALAM menempuh hidup di dunia ini, tentunya setiap orang ingin meraih kesuksesan dan keberhasilan. Salah satu cara yakni berbakti kepada kedua orang tua. Inilah yang ditanamkan Nirwana dalam setiap langkahnya menjalankan profesi sebagai penjual ayam potong.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Nirwana adalah satu-satunya perempuan penjual ayam potong. Ia sehari-hari membantu orangtuanya berjualan di Pasar Daya Makassar, Jalan Perintis Kemerdekaan 18.
Perempuan yang kerab disapa Wana ini, membantu ayahnya berjualan ayam potong mulai pukul 10 pagi hingga pukul 5 sore hari. Ketika pagi, ia membantu ibunya yang sehari-hari berjualan kue di Pasar Daya, semuanya dilakukan Wana untuk membantu kedua orangtuanya.
“Saya jualan ayam membantu bapak, karena bapakku sudah tua mi juga tidak bisa kerja yang berat-berat. Mamaku juga di Pasar Daya berjualan kue, kalau pagi saya bantu dulu, makanya agak siang baru saya kesini bantu bapakku,” ungkapnya, saat ditemui penulis di lapaknya, kemarin.
Wanita kelahiran 12 September 1991 ini juga mengaku tidak malu berjualan ayam potong di pasar. Sebab dirinya kasihan jika melihat kedua orang tuanya di usia lanjut tapi masih kerja keras tanpa ada yang membantu. Sudah tujuh tahun Wana membantu ayahnya berjualan ayam potong, bahkan Wana terlihat sanggat sigap jika ada pembeli yang datang.
“Lama mi saya jualan disini bantu bapak, tidak malu kenapa mesti malu. Kalau tidak jualan begini keluargaku mau makan dari mana, adekku juga sekolah masih ada dua, kalau orangtua semua kerja kasihan,” bebernya.
Walaupun sebelumnya Wana sempat merasa risih sebab mendapat cerita-cerita jelek dari tetangga terhadap pekerjaan sekarang. Dimana kebanyakan diusianya lebih banyak bekerja di tempat yang bersih dan tidak kotor seperti di pasar. Namun berselang beberapa bulan dirinya banyak menerima cacian itu, sembari berdoa dan lebih mementingkan kepentingan keluarganya, ketimbang omongan orang lain.
“Pernah, diceritai sama orang-orang, kenapa mau jadi penjual ayam di pasar jorok, bau kotor tidak bagusnya cari kerja. Tapi lama-lama biasa mi saya dengar saja, dari pada saya tidak makan kalau dengar omongannya mereka mending saya fokus saja, bukan juga mereka kasih makan keluargaku,” tuturnya.
Niatannya hanya untuk menjadi anak yang berbakti. Dirinya tidak kalah gesit dibanding penjual ayam laki-laki, dirinya mengerjakan semuanya sendiri mulai dari menguliti bulu, memotong ayam dan menjualnya dipelanggannya.
Hingga memasuki bulan ramadan ini, Wana mengaku lebih kewalahan. Apalagi menjelang lebaran, permintaan dan penjualan ayam potongnya jauh lebih banyak, yang mau tidak mau menuntutnya untuk sigap melayani pembelinya di pasar. “Iya kalau lebaran itu, banyak orderan kadang-kadang capek, tapi harus kerja ki juga,” ucapnya. (*)



×


Dicaci Maki Hingga Mendapat Orderan Banyak

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar