MEMANGKAS rambut memang bukanlah kebutuhan pokok. Namun hal itu sudah menjadi gaya hidup yang selalu harus dipenuhi bagi sebagian orang. Olehnya itu, usaha pangkas rambut sejak dulu hingga sekarang tak penah “mati”, seperti yang digeluti Darwis.
Laporan: NUGROHO
Mulai dari pangkas rambut Madura yang kerap ditemui di kota ini, salon, hingga Barbershop yang mulai banyak bermunculan beberapa tahun terakhir. Setiap orang baik pria maupun wanita kerap terlihat memadati tempat-tempat pangkas rambut tersebut.
Bahkan diantara dari para pelaku pangkas rambut ini telah bertahan puluhan tahun. Darwis kepada penulis mengaku telah membuka usahanya sejak 1998 lalu.
Penulis sengaja mengunjungi Salon Karaeng’ta, usaha milik Darwis di Jalan Daeng Tata I untuk memangkas rambut seraya menggali informasi darinya. Ditempatnya yang tidak terlalu luas ini, dirinya seorang diri menggantungkan hidupnya.
Darwis begitu amat terbuka kepada penulis. Sembari melakukan tugasnya memangkas rambut, ia menceritakan semua kisah hidupnya hingga bisa seperti sekarang.
Siapa sangka jika pria 51 tahun ini adalah seorang insinyur, lulusan Industri Pertanian UMI angkatan 1990. Keahliannya dalam memangkas rambut, ia dapat dari rekannya saat itu, hingga selebihnya otodidak.
Merasa tak nyaman dengan pekerjaannya sebagai honorer di Dinas Ketahanan Pangan Sidrap saat itu, ia pun banting setir menjadi pemangkas rambut. Apalagi, gajinya dulu sebagai honorer dirasanya kurang dalam memenuhi kebutuhannya, berbeda dengan pekerjaannya sekarang.
“Di ketahanan pangan dulu, tapi saya memang ndak bisa dan kurang nyaman karena waktuku diatur. Kalau sekrang kan terserah saya mau kerja jam berapapun,” kata pria kelahiran Jeneponto ini.
Alhasil, ia membuka usaha pangkas rambut pertamanya di Jalan Manuruki. Kemudian pindah ke Jalan Daeng Tata I sejak 10 tahun lalu.
Darwis hanya mematok biaya pangkas rambutnya seharga Rp15 ribu. Hasilnya sungguh memuaskan. Sembari berteori, dirinya juga mempraktekkan kepada penulisbeberapa teknik-teknik dalam memangkas rambut.
Selain memangkas rambut, dirinya juga menyediakan berbagai layanan salon. Seperti merias pengantin, menyewakan baju adat, hingga makeup. Dan jasa salonnya ini lah yang kini membuatnya lebih memiliki keuntungan.
Untuk lakukan riasan pengantin saja dirinya mematok harga termurah Rp10 juta hingga Rp18 juta. Kalau penyewaan baju adat, ada yang hanya Rp500 ribu hingga Rp2 juta.
“Kalau pengantin biasa habis lebaran banyak yang pesan. Bulan 7 sampai bulan 4 padat-padatmya pengantin. Kalau baju adat itu musiman. Kayak pas 1 April Hari Kebudayaan kemarin, sampai 70 baju laku disewa,” ungkap Darwis.
Darwis pun menambahkan, bukan hanya di tempatnya saja dirinya melakukan pekerjaan. Biasa ia juga dipanggil ke beberapa daerah untuk sekedar merias pengantin. Seperti ke Kendari, Palu, Kalimantan, Soroako, dan Jeneponto.(b)

