MAKASSAR, BKM — Pembelajaran online sudah dilakukan selama pandemi covid-19 terjadi. Sejumlah kalangan menilai jika sistem belajar dalam jaringan tersebut menurunkan kualitas pendidikan.
Bahkan, dikhawatirkan terjadi learning loss adalah hilangnya kesempatan belajar, karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru saat proses pembelajaran yang mengakibatkan penurunan penguasaan kompetensi peserta didik.
Bukan itu saja, pendidikan karakter yang mengajari anak nilai adab, sopan santun dan kebaikan, akan semakin tergerus karena pembelajaran hanya dilakukan lewat gawai atau laptop.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Dewan Pendidikan Kota Makassar, Kamis (2/9).
FGD yang digelar di Sekretariat Dewan Pendidikan Makassar, Jalan Sultan Dg Raja tersebut, diikuti sejumlah stakeholder. Diantaranya Ketua Komisi D DPRD Makassar Abdul Wahab Thahir, anggota DPRD Makassar Yenny Rachman, Sekretaris Dinas Pendidikan Makassar Amalia Malik, Epidemiologi Ansariady, Ketua IGI Ramli Rahim, Prof Hasnawi Haris, Amiruddin Tarawe, Mahmud DM, dan pengurus Dewan Pendidikan Kota Makassar.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Makassar, Amalia Malik menjelaskan, sebenarnya Disdik sudah mempersiapkan sistem PTM sejak tahun ajaran baru. Namun kondisi Makassar belum kondusif, apalagi waktu itu Makassar masih masuk zona merah, maka ditangguhkan sambil menunggu seluruh prasyarat untuk PTM dipenuhi. Termasuk zona epidemi covid-19 berada pada posisi kuning atau hijau.
” Persiapan PTM sejak tahun ajaran baru. Kita sudah bentuk satu tim yang sudah turun ke seluruh level pendidikan untuk melihat kesiapan dan identifikasi 43 indikator wajib disiapkan untuk PTM,” jelas Amalia.
Amalia mengakui, jika sistem pembelajaran online ini menurunkan kualitas pendidikan. Banyak anak didik yang tinggal kelas dan putus sekolah.
Ada juga anak kelas 3 SD yang hingga saat ini belum bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung).
“Hasil survey yang kami lakukan, jumlah siswa berkurang karena banyak anak tidak mau sekolah. Angka putus sekolah sangat tinggi. Apalagi terhadap anak dengan kondisi ekonomi dibawah rata-rata. Bahkan ada orang tua memberhentikan anaknya sekolah karena menganggap anaknya tidak belajar kalau daring,” jelas Amalia.
Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar, Abdul Wahab Thahir mengakui jika selama pembelajar melalui sistem daring, muta pendidikan turun. Yang terjadi saat ini, anak semakin lincah bermain ponsel. Selain itu, banyak anak yang tidak menganggap belajar daring sebagai proses pembelajaran.
“Kita harus akui, mutu pendidikan kita turun drops sekali. Yang terjadi anak kita sekarang lincahnya main hape,” jelas Wahab.
Diapun berharap, jika Makassar sudah masuk zona kuning, proses pembelajaran secara tatap muka sudah bisa dibuka.
Ketua Dewan Pendidikan yang juga Ketua DPRD Kota Makassar, Rudianto Lallo, mengemukakan, efek pandemi covid-19 membuat anak-anak terpaksa melakukan sistem pembelajaran secara online atau dalam jaringan (daring).
Sejauh ini sudah banyak orang tua mengeluh, terutama yang punya anak di jenjang pendidikan dasar karena keterbatasan anak-anak jika belajar secara daring.
Diapun berharap melalui FGD tersebut, ada rumusan atau rekomendasi yang dilahirkan untuk dibawa ke Pemerintah Kota Makassar sebagai masukan untuk merubah pola pembelajaran daring ke pembelajaran tatap muka (PTM) sepanjang menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan memenuhi kriteria yang ditetapkan pemerintah.
Epidemiologi, Ansariady, mengatakan,untuk memberlakukan PTM, ada beberapa poin yang harus diperhatikan. Diantaranya Makassar harus aman dengan perbandingan yang terkonfirmasi positif adalan satu orang per 100 ribu penduduk per hari.
Selain itu, positif rate kurang dari lima persen, guru dan murid sudah divaksinasi, serta jumlah penduduk yang dites covid adalah 1 dibanding 1000 penduduk per Minggu. (rhm)

