pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Orang Tuanya Melarang Karena Waktu Habis di Jalan

MENJALANI sebuah profesi memang memiliki konsekuensi tersendiri. Salah satunya adalah supir bus Perum Damri. Resiko karena perjalanan yang panjang dan melelahkan pastilah dihadapi setiap kali perjalanan. Hal ini tentu saja menjadi beban pekerjaan yang harus diatasi para supir termasuk yang dialami Syamsu.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Menjadi supir bus Perum Damri Makassar dengan jalur tempuh Sinjai-Makassar harus dilakoni Syamsu Alam setiap hari. Bahkan Syamsul terkenal ulet dan cekatan dalam menjalankan tugasnya sebagai supir bus.
Mengemudi adalah satu-satunya keahlian yang membuat Syamsu bertahan bekerja sebagai supir bus. Sebelum ia memutuskan menjadi supir bus, Syamsul juga pernah menjadi seorang supir truk yang ia lakoni selama 20 tahun lamanya.
“Waktu selesai kuliah di Makassar saya di ajak om merantau ke Papua. Disana saya bekerja sebagai supir bus di salah satu perusahaan swasta. Setelah berhenti, kembali menjadi supir truk pengangkut besi plat selama 20 tahun. Memang berat tapi harus dijalani,” ungkapnya saat ditemui penulis di Perum Damri Jalan Perintis Kemerdekan, Biringkanaya, Kamis (25/1).
Sosok bapak dua anak ini mengaku, sejak ia kembali ke Makassar, ia tetap memutuskan menjadi supir truk pengangkut pasir di Malino. Hanya saja, sejak 2016 ia memutuskan beralih menjadi supir bus Damri dengan status pegawai kontrak.
“Saya senang kerja mengemudi apalagi di lapangan. Saya bersyukur bekerja di Perum Damri karena sudah banyak kota kabupaten yang belum pernah saya datangi seperti Pinrang, Bulukumba, Sinjai,” bebernya.
Suami Habiba ini menjelaskan, banyak cerita dan pengalaman yang bisa ia ambil sejak memutuskan menjadi supir. Sebab sebelum menjadi supir ia adalah seorang peternak ayam dan pekerja sawah. Bahkan awalnya, orang tuanya melarang untuk merantau dan pergi jauh. “Awalnya orangtua tidak menyukai pekerjaanya sebagai supir bus antar kota, sebab waktunya akan lebih banyak di jalanan. Lama kelamaan mereka terima saja karena saya tidak pernah menyusahkan mereka,” tambahnya.
Bahkan ia mengaku sering dimarahi penumpang yang berangkat malam, karena bus yang terlalu melaju kencang. Tapi apa mau dikata, tuntutan ketepatan waktu membuatnya harus berkerja maksimal.
“Saya juga sering dapat omelan dari penumpang, karena jalanan rusak sementara mobil kencang. Sedangkan saya tidak bisa pelan-pelan. Saya cukup sabar saja dan berikan mereka pengertian,” ceritanya.
Jam kerja Syamsu tidak tentu dan tidak ada batasan bahkan bisa sampai seharin full setiap harinya. Bila ingin mendapatkan pendapatan yang lebih maka jam kerja harus lebih banyak. “Saya mengantar penumpang pulang pergi dalam sehari. Kebetulan jalur saya itu sinjai,” ujarnya.
Menjadi supir bus kata Syamsu sebenarnya memiliki kebahagiaan tersendiri terlepas dari duka yang diceritakannya. “Bisa melihat banyak tempat, bertemu teman dari berbagai wilayah itu juga menyenangkan, semoga saja setelah ini kesejahteraan kami para supir bisa bertambah,” imbuhnya tertawa.
Nah, tampaknya memang masing-masing profesi memiliki kebahagiaan namun juga punya duka tersendiri. Jadi, mungkin waktunya untuk menikmati dan bersyukur. (ita)



×


Orang Tuanya Melarang Karena Waktu Habis di Jalan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar