MAKASSAR, BKM — Siang di ruas Jalan Andi Pangerang Petta Rani, Kota Makassar. Sinar mentari tidaklah terlalu terik. Namun, sejumlah sopir taksi memilih memarkir armadanya di pinggir jalan.
Syafaruddin, salah seorang sopir taksi Bosowa tengah berbaring-baring di atas mobilnya. Dia mengaku lebih memilih memarkir kendaraannya, karena sudah setengah hari berkeliling belum juga mendapatkan penumpang. Harapannya, segera ada penumpang yang didapatnya melalui pesanan di operator.
”Sejak ada taksi online, banyak teman saya sesama sopir taksi yang berhenti. Ada sekitar 40 persen yang keluar. Mereka tidak bisa dapat penumpang, sehingga memilih cari pekerjaan lain,” keluh Syafaruddin dengan mimik muram.
Diakuinya, kehadiran taksi online telah menggerus pendapatan sopir taksi konvensional. Karena taksi online menawarkan tarif yang sangat murah. Mereka juga menggunakan kendaraan berplat hitam, sehingga tidak dibebani pembayaran pajak layaknya taksi konvensional.
”Persaingannya sudah tidak sehat sekarang. Mudah-mudahan cepat ada keputusan dari pemerintah, sehingga tarif kita bisa bersaing,” harap Syafaruddin.
Keluhan senada disampaikan Sapri, salah seorang sopir taksi Putra. ”Belum ada taksi online saja, pendapatan kita sudah kurang. Karena orang rata-rata sudah punyami kendaraan sendiri. Ditambah lagi dengan hadirnya taksi online, makin susah dapat penumpang,” cetus Sapri, kemarin.
Biasanya, dalam sehari Sapri bisa memperoleh pendapatan bersih Rp250 ribu hingga Rp300 ribu. Kini, sejak adanya taksi online, yang ia dapatkan hanyalah Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari.
”Pokoknya kurang dari setengahnyami ini didapat. Dulu hitung-hitungannya kalau Rp700 ribu kotor, maka yang didapat sopir Rp200 ribu-250 ribu. Sekarang pendapatan kotor hanya bisa Rp250 ribu-300 ribu. Jadi, sekitar Rp50 ribuji yang didapat,” keluhnya.
Kedua sopir ini menjelaskan, ada hitung-hitungan dari perusahaan untuk pendapatannya dalam sehari. Bila mereka mendapatkan penghasilan Rp350 ribu, maka perusahaan akan memberikan 23 persen dari nominal tersebut. Jika di atas yang diperoleh Rp350 ribu, maka mereka akan mendapat 60 persen.
“Sekarang yang didapat penghasilan itu hanya sisa 23 persennya. Apalagi kalau pengeluaran lebih banyak karena berputar cari penumpang, habis bensin,” ujarnya.
Bagaimana dengan sopir taksi online? Selain mendapatkan pemasukan dari tarif pelanggan langsung, tiap harinya para driver Go-Car dan Grab Car juga memperoleh bonus harian. Hal inilah mengapa semakin banyak yang ingin bergabung dengan perusahaan tensportasi online tersebut.
Selain bonus yang didapatkan, penggunaan transportasi online ini juga sangat praktis. Hanya dengan mengklik beberapa langkah di smartphone, sebuah mobil siap mengantar ke mana saja. Tarifnya pun sangat terjangkau.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa saat ini sebagian warga di Kota Makassar lebih memilih menggunakan transportasi online daripada tansportasi konvensional.
Memet, salah seorang driver Go-Car mengatakan setiap harinya ia bisa memperoleh penghasilan hingga Rp800 ribu. Setiap bulannya hampir rata-rata menghasilkan Rp24 juta. Luar biasa.
Memet membeberkan, jika setiap harinya ia bisa mendapatkan 15 kali orderan. Bonus yang didapatkan tersebut berdasarkan dari poin yang diperoleh. Setiap poin dinilai dari sekali order. Jika berhasil menyelesaikan 15 kali orderan, maka para driver Go-Car berhak mendapat bonus Rp300 ribu. Hasil tersebut belum termasuk biaya yang dibayarkan costumer.
Biaya yang diberikan costumerpun seluruhnya menjadi milik driver Go-Car. Jika sekali order biayanya Rp36 ribu, artinya 15 kali order oleh memet bisa menghasilkan Rp540 ribu.
Jadi totalnya sekitar Rp800 ribu lebih per hari.
“Semua uang yang didapat dari pelanggan untuk kita. Tidak ada yang masuk ke kantor. Perusahaan hanya menyediakan aplikasi,” jelas Memet.
Namun, menurut Memet, tidak semua driver bisa mendapatkan bonus. Bonus hanya diberikan bagi driver yang memiliki performa 60 persen perhari. Performa driver dilihat dari orderan yang didapatkan. Jika berhasil menyelesaikan orderan, maka persentase akan semakin tinggi.
Pada Grab Car, sistemnya sama dengan Go-Car. Selain tarif dari costumer, para driver juga mendapatkan bonus. Hanya saja di Grab Car terlihat lebih mudah, karena hanya 13 kali orderan sudah bisa mendapat bonus Rp300 ribu tiap hari.
Hal ini diungkapkan oleh salah satu driver Grab Car Refli. Menurut pria yang tinggal di Minasa Upa ini, tiap harinya lumayan banyak orderan yang bisa ia dapat. Sekitar 10-15 orderan. Hasilnyapun cukup besar. Sama seperti rata-rata penghasilan driver Go-Car yang bisa sampai Rp600 ribu hingga Rp800 ribu.
Sayangnya, pengelola dua taksi online tersebut tak ada yang bersedia memberi penjelasan. BKM mencoba mengkonfirmasi mereka, kemarin. Namun tak satupun berhasil ditemui dengan berbagai alasan.
Menyikapi keresahan sopir taksi konvensional, anggota DPRD Kota Makassar mendesak adanya regulasi yang mengatur. Khususnya soal tarif, pajak dan kewajiban lain yang mesti dipenuhi taksi online.
Anggota Komisi B DPRD Makassar Basdir, mengatakan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 32 tahun 2016 menegaskan, perusahaan angkutan online harus mengikuti aturan yang ada. Soal seperti apa aturannya, dewan menyerahkan sepenuhnya ke pemerintah kota.
”Memang aturannya telah ditetapkan di pusat. Selanjutnya dikondisikan di daerah. Karena itu pemkot harus mengambil alih dan segera membuat aturan. Baik itu izin operasi, penarikan pajak, pembatasan jumlah kendaraan dan aturan lainnya,” kata Basdir, kemarin.
Legislator Fraksi Demokrat ini menambahkan, aturan yang dibuat oleh pemerintah mempunyai dasar. Yaitu, segala bentuk usaha yang beroperasi tanpa memiliki izin harus ditindaki secara tegas. Sebab bukan hanya merugikan pendapatan pemerintah kota. Tapi juga merugikan warga Makassar.
“Kita sudah sarankan agar ada keseimbangan antara taksi online dan konvesional. Sama-samaji cari makan. Tapi keduanya harus mengerti aturan. Tidak boleh ada usaha di Kota Makassar beroperasi tanpa izin. Terlalu banyak pihak yang dirugikan. Makanya harus ditindak tegas supaya tidak menjamur,” cetusnya.
Anggota Komisi A DPRD Makassar Abdi Asmara, meminta agar pemkot segera berbenah setelah direvisinya aturan angkutan umum online. Khususnya terhadap Dinas Perhubungan.
“Saya kira pemkot punya aturan tersendiri, bagaimana seharusnya taksi online beroperasi pascakeputusan menteri. Secepatnya benahi persoalan yang ada. Dishub segera buat aturannya,” tandasnya.
Anggota DPRD Sulsel dari PKS Ariady Arsal, menilai kisruh antara taksi online dan konvensional sudah menjadi persoalan nasional. Di satu sisi yang konvensional telah mengikuti aturan resmi, serta mengikuti proses cukup panjang untuk perizinan hingga operasional.
Namun tarif dan layanan kalah bersaing dengan online, yang ternyata memberikan pelayanan lebih baik dengan harga lebih murah. Sementara proses perizinannya tidak sesuai dengan taksi konvensional.
Idealnya, menurut Ariady, persaingan usaha diatur lebih baik secara nasional. Apalagi taksi online saat ini merupakan masalah secara nasional.
“Adapun ide kuota 1.500 taksi online di kawasan Mamminasata, itu belum tentu menyelesaikan persoalan klasik dari sisi tarif maupun layanan hingga proses perizinan. Kami lebih melihat perlunya keseragaman proses perizinan dan layanan, serta penerapan tarif bagi konsumen. Hal ini tidak harus menunggu kebijakan nasional, akan tetapi bisa dibuat secara lokal di Sulsel,” ujar Sekretaris Komisi D DPRD Sulsel ini. (jun-ita-rif/rus)
Headline
Halaman Utama | Berita Kota Makassar
2017 menjadi tahun yang tak terlupakan bagi H Rusdi Masse. Dua periode memimpin Kabupaten Sidrap, ia kemudian ditasbihkan sebagai pejuang literasi.
Ia dianugerahi penghargaan tingkat nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Gerakan literasi yang dicanangkan Rusdi Masse melalui Dinas Pendidikan Pemkab Sidrap berhasil menempati urutan keempat skala nasional.
”Inilah para kepala daerah, bupati yang mendapatkan penghargaan atas perkembangan gerakan literasi di Indonesia. Bapak-bapak inilah para tokoh pejuang literasi nasional kita,” kata Hamid Muhammad, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud saat menyerahkan penghargaan di Ruang Pola Kemendikbud RI, Jakarta, Senin (20/3).
Penghargaan dari Kemendikbud diterima Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Sidrap H Ruslan. Dalam kesempatan itu, Ruslan memberikan testimoninya.
Ia menjelaskan, keberhasilan Sidrap menempati urutan keempat dalam indek pembangunan literasi Indonesia adalah bagian dari perjuangan Bupati H Rusdi Masse atau akrab disebut RMS, yang mampu membuka ruang kepada masyarakat dan anak sekolah untuk membaca di luar jam pelajaran. Juga membaca di ruang publik.
“Hasilnya, masyarakat berpartisipasi. Para siswa lebih bersemangat. Itu semua karena kebijakan dan petunjuk dari Pak Bupati Sidrap. Ke depan ini gerakan literasi Sidrap akan terus kami tingkatkan,” ujar Ruslan.
Dalam kesempatan itu, Ruslan menjelaskan bahwa Pemkab Sidrap akan terus mendukung progam literasi. Mulai dari penyediaan buku hingga anggaran, baik oleh daerah maupun dari Kemendikbud RI.
“Ini tinggal dilanjutkan dari tahun ke tahun. Pasti akan terus meningkat hasilnya,” ujar Ruslan.
Berdasarkan indeks pembangunan literasi secara nasional, Kabupaten Sidrap menempati urutan ke 4 skala nasional setelah Kabupaten Serdang Bedagai, Lumajang dan Bandung Barat.
Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup.
Selain di bidang literasi, ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem Sulsel juga patut ditempatkan sebagai tokoh pejuang rakyat kecil dan miskin. Kerja nyata yang ditorehkannya telah mampu menekan angka angka kemiskinan di Bumi Nene’ Mallomo. Sidrap menempati urutan pertama di Pulau Sulawesi pada angka kemiskinan warganya yang terendah.
Di tahun 2015, angka kemiskinan di Sidrap tercatat 5,55 persen, dari tahun sebelumnya sebesar 5,82 persen.
Untuk tahun 2017 ini, Rusdi Masse bertekad pemerintah bersama-sama dengan masyarakat akan berbuat lebih maksimal lagi dengan peningkatan sektor ekonomi, terutama di bidangpertanian.
“Saya sudah menekankan, untuk 2017 anggaran infrastruktur diporsir 60 persen. Khususnya bagi peningkatan sarana dan prasana jalan, jembatan, pemukiman, jalan tani dan sarana umum lainnya. Harapan saya, semoga kesejahteraan masyarakat Sidrap di tahun 2017 akan lebih bagus, lebih meningkat. Mudah-mudahan lebih bagus dari yang kemarin. Dan orang miskin di Sidrap tidak ada lagi,” imbuhnya.
Untuk indeks pembangunan manusia misalnya, Sidrap sudah mencapai 68,14. Meningkat 1,47 dari tahun sebelumnya. Menempatkan Sidrap dari posisi delapan ke urutan tujuh di Sulsel.
Tingkat pengangguran juga menurun, dari 7,62 persen tahun 2013, menjadi 6,20 persen.
Untuk 2015, pendapatan perkapita masyarakat mencapai Rp30 juta. Dengan apa yang dilakukan selama ini, diyakini Sidrap nantinya akan mampu mencapai tingkat pendapatan perkapita sebesar Rp50 juta sebelum akhir 2018 mendatang. (purmady)
MAKASSAR, BKM — Siang hari pukul 13.00 Wita, Rabu (22/3). Warga yang bermukim di Blok A kompleks perumahan Bumi Tamalanrea Permai, Kelurahan Tamalanrea, Kecamatan Tamalanrea tiba-tiba gaduh.
Mereka berhamburan berlarian keluar dari rumahnya masing-masing. Berusaha menyelamatkan diri dengan membawa serta barang yang bisa diangkat.
Api sementara berkobar di tengah pemukiman mereka. Warga berteriak histeris sambil mencari sanak keluarganya.
Sumber api diduga berasal dari rumah salah seorang warga bernama Dg Lina. Rumah tersebut dalam kondisi kosong ditinggal penghuninya. Hanya dalam waktu singkat api meluluhlantakkan rumah hingga rata dengan tanah.
Upaya pemadaman dilakukan secara manual. Warga menyiram api dengan menggunakan air selokan.
Tidak lama berselang terdengar bunyi sirine pemadam kebakaran. Petugas damkar bersama petugas Polsek Tamalanrea dan warga berjibaku memadamkan si jago merah. Sebanyak sembilan mobil pemadam dikerahkan. Api baru bisa dikuasai setelah delapan unit rumah rata dengan tanah.
Pascakebakaran, langsung dilakukan pendataan. Lokasi dipasangi garis polisi.
Kepala Dinas Damkar Makassar Imran Samad, menyebut ada anak-anak yang mengalami luka bakar dalam peristiwa tersebut. ”Kami menerima informasi ada anak-anak yang terluka bakar. Kondisinya selamat,” ujarnya.
Kebakaran diduka dipicu ledakan tabung gas 3 kg. Sesaat setelah meledak, api langsung membakar rumah Lina. Dengan cepat api menjalar ke rumah tetangga.
Lurah Tamalanrea Aminuddin langsung turun ke lokasi. Dari hasil pendataan yang dilakukan, dari delapan rumah yang terbakar, enam diantaranya rumah kayu. Masing-masing milik Dg Lina, Dg Usman, Dg Syam, Dg Condeng, Dg Udin dan H Dolo. Sementara rumah batu permanen yang terbakar milik Basri.
”Rata-rata rumah panggung yang kayunya mudah terbakar,” uajr Aminuddin.
Bhabinkamtibmas Polsek Tamalanrea Aiptu Amiruddin yang mengambil keterangan dari saksi-saksi, mengatakan api bermula dari rumah Dg Lina. Rumah tersebut ditempatinya bersama Dg Saing.
‘”Dari rumah itu sempat terdengar suara ledakan. Warga terkejut. Begitu keluar rumah, mereka melihat api sudah berkobar,” ujar Aiptu Amiruddin.
Tak ada korban jiwa dalam insiden ini. Namun, kata Amiruddin, ada salah seorang warga yang mengalami luka bakar. Namanya Haeruddin (43).
”Korban Haeruddin menderita luka bakar ringan. Saat kejadian itu masuk ke dalam rumahnya dengan menerobos api. Bermaksud menyelamatkan harta miliknya yang ada di dalam rumah. Akibatnya, ia terkepung api. Telapak kaki, tangan serta pergelangannya mengalami luka bakar,” jelas Amiruddin.
Selain membakar delapan rumah, api juga menghanguskan satu unit motor kaisar, satu petepete serta dua unit becak.
“Ada juga motor, mobil dan becak ludes terbakar. Kerugian diperkirakan mencapai Rp300 juta,” sebut Aiptu Amiruddin. (ish/rus)
MAKASSAR, BKM — Empat cewek, dua pria digerebek polisi saat pesta narkoba jenis sabu. Mereka diamankan dari dua tempat dan waktu yang berbeda. Di masing-masing lokasi diciduk seorang pria bersama dua teman wanitanya.
Penangkapan dilakukan anggota Satuan Narkoba Polres Pelabuhan, Minggu dinihari (19/3) dan Selasa malam (21/3). Lokasi pertama yang digerebek adalah sebuah wisma di Jalan Diponegoro.
Tiga orang ditemukan sedang pesta sabu di sebuah kamar. Mereka adalah Audia Tasya (19), warga Jalan Veteran Utara. Salma alias Mia (23), warga Jalan Daeng Pasawi. Sementara satu orang pria keturunan Tionghoa bernama Launchia alias Aco (58), beralamat di Jalan Deponegoro.
Dari dalam kamar wisma, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Masing-masing satu saset bening kristal yang diduga sabu. Satu buah pireks kaca. Satu buah kompor sabu. Satu buah alat isap atau bong dari kaca. Satu botol alkohol murni. Satu sendok sabu. Dua buah korek gas, dan satu bal pipet warna putih.
Polisi kemudian menggiring ketiganya ke Mapolres Pelabuhan guna menjalani pemeriksaan lanjutan. Dari hasil interogasi, tersangka Audia dan Salma mengaku datang ke wisma karena dipanggil oleh Aco.
Setibanya di dalam kamar wisma yang sudah dibooking Aco, mereka diajak nyabu. Baru berkisar 45 menit menikmati sabu, tiba-tiba datang polisi menggerebeknya. ”Kami cuma konsumsi narkoba. Tidak ada yang lain,” kata Aco.
Kasat Narkoba Polrestabes Makassar AKP Andi Aris, menjelaskan penggerebekan ketiga tersangka dilakukan tim gabungan Polres Pelabuhan. Mereka melakukan razia cipta kondisi di kos-kosan, penginapan dan wisma yang berada dalam wilayah hukum Polres Pelabuhan.
Jalannya razia dipimpin Wakapolres Pelabuhan Kompol Sri Bulan dan Kabag Ops Kompol Suaib Madjid. ”Saat anggota masuk dalam kamar wisma nomor 95, ditemukan tersangka Aco dan dua teman wanitanya tengah berpesta narkoba. Juga ada sejumlah barang bukti,” ujar Andi Aris, kemarin.
Di tempat terpisah, Selasa (21/3) malam, polisi kembali melakukan penggerebekan. Kali ini sebuah rumah kos milik Hasrul (38) di Jalan Urip SUmohardjo.
Selain Hasrul, di dalam kamar juga didapati dua orang cewek. Masing-masing Nusyiah alias Chia (27) warga Hartaco Indah. Dan Velliary Ingrid (25), beralamat di Jalan Satelit IX. Barang bukti yang ditemukan dalam kamar kos berupa sebelas saset sabu dalam plastik bening. Dua alat isap sabu (bong), serta beberapa saset kosong.
”Saya bukan pengedar, Pak,” cetus Hasrul. Tersangka mengaku mendapatkan sabu dari seseorang berinisial IS yang berdomisili di Makassar. (jul/rus)
Penghargaan dan Sertifikat:
Copyright © 2026 Berita Kota Makassar. All Rights Reserved.

