pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

PAJAK menjadi sumber pendapatan yang memberi kontribusi besar terhadap pemasukan daerah. Termasuk di Kota Makassar.
Tidak mengherankan jika berbagai cara terus dilakukan untuk menggenjot pemasukan pajak. Baik intensifikasi maupun ekstensifikasi. Termasuk menekan angka tunggakan para wajib pajak.
Salah satu yang menjadi prioritas Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Makassar adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajibannya membayar pajak. Tujuannya, membantu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Di bawah komando Irwan Adnan selaku kepala badan, Bapenda Kota Makassar telah melaksanakan berbagai kegiatan. Salah satunya intens menggelar sosialisasi yang ditujukan kepada para wajib pajak.
Sementara program yang telah dilaksanakan, seperti smart tax dan smart touch. Pemasangan tapping box di tempat-tempat usaha. Bahkan telah dibentuk laskar peduli pajak. Program ini dihadirkan guna mencegah terjadinya praktik pungutan liar (pungli) di sektor perpajakan.
Untuk tahun ini Bapenda telah melakukan pemasangan 215 unit tapping box. Masih ada 35 unit tapping box lainnya yang masih dalam proses pemasangan. Penempatannya di beberapa tempat usaha, seperti hotel, restoran maupun kafe. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah para pelaku usaha memenuhi kewajiban pajaknya.
Tapping box adalah sebuah alat yang dapat menangkap transaksi, yang tercetak oleh printer point of sales yang digunakan oleh wajib pajak. Dengan alat ini, wajib pajak dapat terhindar dari laporan internal fiktif karena dapat mengetahui pendapatannya secara riil. Juga dapat mengetahui informasi bahwa pajak yang dibayarkan benar masuk ke kas negara.
Bagi Bapenda, penggunaan tapping box dapat meningkatkan transparansi, akuntabilitas, efektifitas dan efisiensi dalam pemungutan pajak.
Tapping box biasanya ditempatkan diantara point iof sales (cash register atau CPU) dan printer. Saat akan melakukan print bill atau struk, secara otomatis data yang dikirim ke printer terlebih dahulu tertangkap oleh tapping box. Kemudian dicetak di printer. Prinsip kerja alat ini tidak akan mengganggu sistem yang dioperasikan di point of sales ataupun pada hardware yang digunakan.
“Program yang kita hadirkan ini semata untuk meningkatkan kesadaran wajib pajak memenuhi kewajibannya. Dengan begitu, pendapatan dari sektor pajak bisa terus ditingkatkan,” kata Irwan Adnan.
Khusus pembentukan laskar peduli pajak, menurut Irwan, bertugas untuk melakukan pendataan transaksi wajib pajak setiap harinya. Dengan kehadiran laskar ini diharapkan tidak terjadi penyelewengan pajak. (muh arif alqadry)

MAKASSAR, BKM — Uang Panaik, film produksi Makassar berhasil mencatat prestasi membanggakan di ajang Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) 2017. Kategori penghargaan yang diraih adalah Film Produksi Daerah Terlaris. IBOMA merupakan ajang penghargaan untuk film-film yang memiliki angka penonton terbanyak selama tahun 2016.
Film besutan orang-orang kreatif Kota Daeng itu mampu menaklukkan kerasnya persaingan dalam dunia perfilman tanah air. Sekaligus membuka mata insan perfilman Indonesia, jika film produksi lokal, bila dikemas secara menarik akan meraup penonton yang sangat banyak.
Selama hampir dua bulan diputar di bioskop-bioskop tanah air, film Uang Panaik berhasil ditonton 562.000 orang. Angka yang terbilang fantastis untuk film bergenre lokal.
Kenapa film ini mampu mencuri perhatian masyarakat, khususnya para penikmat film?
Menurut salah satu Eksekutif Produser Uang Panaik, dr Wahyudi Muhsin, banyak keistimewaan yang ditawarkan dalam film ini sehingga mendapat tempat istimewa di hati masyarakat. Diantaranya, kata Wahyudi, kendati mengangkat tema budaya lokal, namun konten ceritanya dikemas kekinian. Namun bukan berarti mengabaikan ruh adat istiadat suku Bugis-Makassar.
Selain itu, kata Wahyudi, kendati pesan moral yang ingin disampaikan pada film ini sangat kuat, namun kesannya tidak menggurui penonton.
Film ini juga mengeksplorasi talenta lokal mulai dari sutrada, pemain, hingga kru film lainnya. Namun, produk yang dihasilkan ternyata bisa disejajarkan dengan film-film yang diproduksi secara nasional.
“Jadi memang proses produksinya tidak main-main. Kita angkat cita rasa lokal jadi menasional,” kata Wahyudi, kemarin.
Salah seorang Eksekutif Produser lainnya, Sunarti Sain menambahkan, film Uang Panaik ini dikemas dengan balutan komedi sehingga penonton terhibur jika menyaksikan. Selain itu, tema yang diangkat memang sangat unik dan bernuasa lokal. Orang-orang yang terlibat di dalamnya juga bukan orang yang sudah banyak makan asam garam dunia perfilman. Namun berkat keseriusan dan profesionalitas, film ini menjadi sangat menarik.
“Saya ketemu dengan banyak orang di Jakarta. Mereka mengaku suka dengan film ini. Banyak yang excited,” ungkap perempuan yang akrab disapa Una ini.
Yang jelas, kata Una, dengan penghargaan yang diraih Uang Panaik, akan membuka mata masyarakat, film lokal jika dikemas secara profesional dan sungguh-sungguh, bisa bersaing dengan film nasional. Selain itu, bisa memotivasi anak muda Makassar yang punya talenta dan passion di bidang film untuk terus mengembangkan bakatnya. (rhm/rus)

MAKASSAR, BKM — Penyimpangan seksual dalam kasus pembunuhan di Perumahan Graha Surandar Blok E3 nomor 2, Kelurahan Paccinongan, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa kian menyeruak. Bukan hanya dua orang yang jadi korban, tapi ada lima orang.
Angka itu disebut Direktur Direktorat Reskrim Polda Sulsel Kombes Pol Edwin Zadma saat menggelar konferensi pers terkait pembunuhan Muh Amir Ahmad (38) di Mapolda, Kamis (30/3). Ikut mendampingi Kabid Humas Polda Kombes Pol Dicky Sondani dan Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Darwis.
”Antara korban dan tersangka saling kenal. Dari pengakuan kedua tersangka, mereka mengaku melakukan pembunuhan lantaran kerap disodomi oleh korban. Dari olah TKP dan hasil pengembangan, diketahui masih ada beberapa orang yang menjadi korban penyimpangan seksual. Ada sekitar lima orang dengan modus mirip yang dialami kedua tersangka,” jelas Erwin Zadma.
Dua tersangka pembunuhan yang berasal dari Kabupaten Takalar diperlihatkan saat berlangsung konferensi pers. Mereka adalah Karimolla alias Naja alias Ullah (28), warga Biringbalang, Kelurahan Bajeng, Kecamatan Pattallassang. Dan Muh Fauzul alias Zul (19), warga Kelurahan Cilallang, Kecamatan Mappakasunggu.
Saat digiring ke ruang konferensi pers oleh polisi, tersangka Karimolla mengenakan baju dan celana khas tahanan berwarna oranye. Dia berjalan terpincang-pincang. Di betis kanannya masih melilit perban berwarna putih. Kain tipis itu menutupi bekas luka tembak, yang dilakukan polisi ketika menangkapnya.
Sesekali ia memegang pundak Zul, tersangka lainnya yang juga ikut digiring. Zul mengenakan baju hitam dan celana dengan warna senada.
Menyikapi mencuatnya praktik sodomi yang melatarbelakangi pembunuhan korban, polisi berjanji untuk menindaklanjutinya. Korban lain rencananya akan dimintai keterangan dalam waktu dekat.
Pengakuan lain keduanya saat diinterogasi, terungkap jika korban dibunuh dengan menggunakan martil ukuran besar. Palu tersebut juga diperlihatkan oleh polisi.
Bagaimana dengan mobil korban yang dibawa kabur oleh kedua tersangka untuk melakukan pembunuhan? Tim reskrim yang melakukan pengejaran berhasil menemukan mobil Toyota Avanza bernomor polisi DD 621 CC itu. Kendaraan roda empat itu didapat petugas kepolisian Polewali Mandar (Polman).
”Mobil milik korban telah ditemukan. Dalam kasus pencurian mobil ini, ada empat pemuda lainnya yang terlibat. Mereka telah diamankan di Mapolres Polman pada hari Rabu (29/3),” jelas Erwin Zadma lagi.
Erwin kemudian menjelaskan proses penangkapan dan penemuan mobil korban. Pengungkapannya dilakukan Tim Resmob Unit Reskrim Polsek Polewali, diback up Resmob Satuan Reskrim Polres Polman dipimpin Kanit Reskrim Aipda Zastri Satar, Rabu (29/3) sekitar pukul 09.00 Wita.
Tim gabungan resmob yang mengetahui keberadaan mobil serta empat tersangka langsung bergerak ke lokasi yang disebutkan, yaitu di Dusun Tanatakko, Desa Tonyaman, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman.
”Petugas mendapat informasi saat dilakukan pengejaran untuk mengetahui keberadaan mobil korban. Selanjutnya bergerak ke lokasi. Mobil itu berhasil ditemukan. Setelah ditelusuri, ternyata ada empat orang lainnya yang terlibat. Mereka diamankan lantaran mengetahui dan menguasai mobil hasil jarahan kedua tersangka pembunuhan,” terang Erwin Zadma.
Tersangka masing-masing Sudarman alias Ammang (29) yang berprofesi sebagai sopir. Syamsul alias Ancu (24) berstatus mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Polman.
Keduanya warga Dusun Tanatakko, Desa Tonyaman, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman. Mereka diketahui yang terakhir, sekaligus membawa dan menyimpan mobil milik korban di Pasar Baru Polewali.
Dua lainnya juga mahasiswa rekan Ancu. Yakni Ansar (20) dan Ayyub (21). Beralamat di Macera, Desa Mammi, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman. Mereka berperan menyimpan dan menyembunyikan tape mobil milik korban yang telah dipreteli.
”Diawali dari diamankannya Ammang dan Ancu di rumahnya. Selanjutnya Ansar dan Wahyu, beserta sejumlah barang bukti. Seperti tape mobil dan karpet lantai mobil milik korban,” beber Aipda Zastri Satar, seperti disampaikan Erwin Zadma.
Selain tape mobil, ditemukan pula berkas dan dokumen berupa surat milik korban serta beberapa jenis obat-obatan. Ada pula peralatan medis yang sempat dibuang di semak-semak kebun warga oleh tersangka utama Dg Naja.
”Saat dibawa kabur oleh tersangka, mobil tersebut berisikan alat medis. Barang bukti itu dibuang ketika dalam perjalanan menuju rumah Ansar. Dari pengakuan Ancu dan Ammang, mobil tersebut diantarkan pada hari Selasa (28/3) pukul 05.00 Wita oleh tersangka Naja dan Zul. Mobil itu rencananya hendak dijual. Ancu yang diminta untuk mencarikan pembeli,” terang Zastri Satar.
Tak sampai disitu. Tim gabungan kembali mencari alat bukti lainnya, dengan mengambil keterangan dari Ancu. Pengakuannya, saat itu ia menghubungi Ammang dan menawarkan mobil tersebut.
Pertemuan tersangka Dg Naja, setelah ada komunikasi Ancu ke Ammang. Akhirnya Dg Naja dan Ammang bertemu dan membicarakan harga mobil.
Namun, saat itu Dg Naja dan rekannya Zul terburu-buru dan tampak gelisah. Tidak lama kemudian mereka meninggalkan mobil tersebut di rumah Ammang.
Sementara pengakuan Ansar dan Wahyu, mobil tersebut diantar oleh Ammang dan Dg Naja ke rumahnya di Macera, Desa Mammi. Selanjutnya oleh Ammang, isi mobil dibongkar dan melepas tapenya.
Tape mobil diserahkan kepada Ansar disaksikan oleh Wahyu untuk disimpan. Rencananya, satu unit mobil Toyota Avanza warna hitam serta keempat tersangka yang terlibat akan diserahkan ke Polda Sulsel untuk dilakukan proses lebih lanjut. (ish/rus)

MAKASSAR, BKM — Proyek reklamasi di kawasan Centrepoint of Indonesia (CoI) segera dilaksanakan.Project Manager KSO Ciputra Yasmin Sinyo Pelealu mengatakan, Surat Izin Kerja Reklamasi, Izin Usaha Pertambangan dan Operasi Produksi Pasir Laut (IUP OP), serta Surat Ijin Kerja Keruk sudah selesai.
Saat ini pihaknya sementara menunggu penyelesaian Izin Penggunaan Kapal Asing (IPKA). Juga Surat Izin Impor Kapal Asing (SIIKA) yang diperkirakan bisa rampung April mendatang.
Menurut Sinyo, sejumlah persiapan untuk reklamasi mulai dilakukan. Diantaranya pembersihan ranjau peninggalan perang dunia kedua di lokasi reklamasi, bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut.
Mobilisasi peralatan penunjang juga sudah dilakukan. Termasuk untuk tenaga kerja profesional, baik asing maupun lokal.
Luas lahan reklamasi yang dikerjakan adalah 150 hektare. Dari luasan itu, Pemprov Sulsel akan mendapatkan areal reklamasi seluas 50,47 hektare, atau sekitar 30 persen dari total lahan reklamasi.
Pengerjaannya akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama, 95 hektare laut yang akan ditimbun. Tahap kedua sisanya, yakni 55 hektare.
Menurut Sinyo, rencananya reklamasi mulai akan dilaksanakan Juni mendatang. Untuk menimbun lahan yang cukup luas itu, dibutuhkan waktu yang tidak terlalu lama. Hanya sekitar sembilan bulan untuk tahapan pertamanya. Artinya, jika dimulai Juni, maka reklamasi bisa rampung September 2018 mendatang.
Untuk proses reklamasi, Yasmin Ciputra menggandeng perusahaan ternama dari Belanda, yakni PT Boskalis Internasional Indonesia. Sementara Konsultan Supervisi PT Witteveen Bis Indonesia.
Berdasarkan hasil hitungan, untuk reklamasi lahan seluas 150 hektare, dibutuhkan pasir sekitar 9 juta meterkubik. Pasir tersebut akan diambil dari tiga lokasi di Kabupaten Takalar dan Jeneponto.
Khusus untuk area reklamasi seluas 50,47 hektare yang akan diserahkan ke Pemprov Sulsel, menurut Sinyo, akan menjadi prioritas pengerjaan pada tahap pertama. Termasuk di dalamnya lahan tanah tumbuh dan pantai pasir putih.
“Itu akan menjadi prioritas utama yang akan dilaksanakan Boskalis. Target penyelesaian April 2018 mendatang,” ujarnya.
Penanggung jawab pembangunan di kawasan CoI, Soeprapto Budi Santoso menekankan pelaksanaan pekerjaan di kawasan CoI dilakukan secara hati-hati dengan menaati aturan yang ada. Termasuk mengurus semua peraturan yang dibutuhkan. (rhm/rus)

MAKASSAR, BKM — Pengungkapan kasus narkoba kian gencar dilakukan aparat Polda Sulsel dan Polrestabes Makassar. Dalam rentang waktu 1×24 jam, dua kasus berhasil dibongkar.
Yang pertama ditangkap dua orang. Masing-masing Aksa (20) dan Idham Ramadhan Paturusi (35). Nama yang disebut terakhir merupakan putra seorang dosen.
Mereka dibekuk aparat Satuan Narkoba Polrestabes Makassar, Senin (27/3) pukul 18.00 Wita di Distrik Cafe Jalan Lanto Dg Pasewang. Aksa beralamat di kompleks Perumahan Lili. Sementara Idham bermukim di Jalan Hertasning 10.
Menyusul ditangkap kemudian adalah Ruslan alias Cullang alias CL. Warga Jalan Balana 2 nomor 17, Kecamatan Makassar itu dibekuk tim Satuan Narkoba Polda Sulsel dalam persembunyiannya di sebuah rumah kos di Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat, Selasa (28/3) pukul 04.00 Wita.
Ia sebelumnya masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) karena bertindak selaku bandar sabu kelas kakap. Penangkapan dipimpin langsung Dirres Narkoba Polda Sulsel Kombes Eko Yudha Satriawan
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Endi Sutendi, kemarin menjelaskan penangkapan Aksa dan Idham. Dari tangan keduanya diamankan sabu saset narkoba jenis sabu, lengkap dengan alat isapnya.
”Keduanya positif menggunakan sabu. Sekarang kita fokus mengejar para bandarnya,” kata Endi.
Pada penangkapan keduanya, yang lebih awal diamankan adalah Aksa. Ia sempat dibuntuti petugas ketika mengendarai sebuah mobil.
Ketika sampai di depan kafe dan turun dari mobil, ia langsung diciduk. Selanjutnya dibawa ke dalam kafe dan dipertemukan dengan Idham. Keduanya pun lalu digiring ke Mapolrestabes Makassar untuk proses hukum selanjutnya.
Dihubungi terpisah, Prof Idrus Paturusi dari balik telepon tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Mantan Rektor Unhas itu mengatakan, dirinya belum tahu jika anaknya tertangkap polisi karena kasus narkoba. Dia baru mengetahui ketika dihubungi wartawan.
“Wah saya belum tahu, dek. Saya baru tahu ini. Saya masih di Jakarta,” kata Prof Idrus singkat.
Sementara penangkapan Cullang berakhir tragis. Ia terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena mencoba melawan petugas dan berusaha melarikan diri. Nyawanya pun tak tertolong saat dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar.
Kapolda Sulsel Irjen Pol Muktiono merilis kasus ini di RS Bhayangkara, kemarin. Ia memperlihatkan barang bukti yang disita serta foto tersangka Cullang.
Direktur Ditres Narkoba Polda Sulsel Kombes Pol Eko Yudi Satriawan menyebut, tersangka Cullang sudah lima tahun menggeluti bisnis haram ini. Ia ditangkap berdasarkan keterangan dari lima orang komplotannya yang lebih dulu diamankan. Mereka mengaku mendapatkan sabu yang dipasok Cullang.
”Tersangka Cullang mendapat pasokan dari Cina. Selanjutnya disuplai melalui Malaysia. Lalu masuk pelabuhan di Sulsel, seperti pelabuhan Soekarno-Hatta dan pelabuhan Parepare,” ejlas Eko.
Bandar kelas internasional ini tak tanggung-tanggung disuplai 10 kg dan dihabiskan dalam tempo hanya sebulan.
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, menyebutkan dalam setahun tersangka mendapat kiriman sabu 120 kg. Jika dihitung selama lima tahun, berarti telah ada 600 kg sabu yang disuplai. Bila dirupiahkan bisa mencapai angka Rp1,2 triliun.
Meski menjadi bandar besar, ternyata Cullang tak mencicipi barang jualannya itu. ”Informasi yang didapat petugas, tersangka hanya kerap mengonsumsi minuman keras tradisional Makassar jenis ballo,” ujar Dicky.
Ditres Narkoba Polda Sulsel masih melakukan pengejaran terhadap komplotan Cullang. Polisi telah mengantongi identitas tersangka lainnya. (jul-ish/rus)

MAKASSAR, BKM — Pembangunan Makassar New Port (MNP) terus digenjot. Beberapa item kegiatan sementara dilaksanakan di lokasi proyek tersebut.
PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) optimistis pengerjaan proyek MNP tahap IA bakal rampung pada triwulan IV/2018, sesuai target waktu yang ditetapkan.
Kepala Satuan Pengelola Proyek MNP Arwin, mengatakan pembangunan tahap IA megaproyek itu terbagi lagi dalam tiga paket, yaitu paket A, B dan C yang dikerjakan hampir bersamaan. Hal itu untuk mempercepat proses pembangunan pelabuhan baru Makassar yang akan menjadi pelabuhan internasional tersebut.
“Saat ini, untuk pengerjaan paket A, per 26 Maret 2017 progress pembangunannya sudah mencapai 32,74 persen,” jelas Arwin usai mendampingi Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo yang turun melihat langsung progress pembangunan proyek MNP, Senin (27/3).
Menurut rencana, MNP akan langsung dihubungkan atau terkoneksi dengan trayek kereta api (KA) dan jalan tol. Hal itu untuk memudahkan masuknya ke pelabuhan moda transportasi pengangkut komoditas Sulsel yang akan diantarpulaukan atau diekspor. Arwin menyebutkan, secara total progress pembangunan MNP untuk tahap IA sudah mencapai 10,28 persen. Anggaran yang diserap sebesar Rp107,41 miliar, dari total yang disiapkan sebesar Rp1,49 triliun.
Arwin mengakui, pihaknya sempat mengalami kendala dalam proses pengerjaan megaproyek ini. Yaitu akibat adanya ranjau peninggalan Perang Dunia (PD) II yang tersisa di area proyek. Namun, pihaknya tetap mengerjakan step atau bagian pekerjaan yang lainnya. Sehingga tidak ada proses pekerjaan di proyek tersebut yang terhenti.
Menurutnya, wilayah yang terdapat ranjau peninggalan PD II itu nantinya menjadi daerah perairan dan juga akan direklamasi untuk area lapangan kontainer.
“Ranjau PD II itu sempat menghambat pekerjaan di perairan, namun dilakukan optimalisasi sehingga bagian pekerjaan lain tetap berjalan meskipun dilaksanakan pembersihan ranjau. Jadi potensi keterlambatan dapat diminimalisir,” imbuhnya.
Dia juga mengatakan, sejak tahun lalu pihaknya telah mengebut proses pengerjaan untuk paket A yang terdiri dari pekerjaan pembangunan akses jalan, dermaga dan lapangan penumpukan peti kemas.
Sementara untuk paket B, kegiatannya meliputi reklamasi seluas kurang lebih 13 hektare. Causeway kurang lebih 1.276 meter. Lapangan kontainer kurang lebih 16 hektare dan pengerukan kolam pelabuhan dan alur pelayaran minimal draft -16,0 mLWS. Sedangkan untuk pengerjaan Paket C berupa pembangunan breakwater sepanjang 1.310 meter. Guna mempercepat proyek ini akan digunakan alat dengan kapasitas yang lebih besar, khususnya untuk alat keruk dan reklamasi.
Secara umum, total investasi untuk MNP Tahap I Paket A sebesar Rp326 miliar. Paket B menyerap anggaran Rp1,06 triliun. Sedangkan untuk Paket C mencapai Rp228 miliar.
“Secara keseluruhan, MNP Tahap IA direncanakan memiliki kapasitas terpasang mencapai 1,5 juta TEUs. Sedangkan Tahap IB akan memiliki kapasitas hingga 2 juta TEUs,” ujarnya.
Arwin menambahkan, akhir Maret ini pihaknya akan kedatangan Kapal Darya Kanchan jenis TSHD (Trailing Suction Hopper Dredgeger) asal Singapura, dengan kapasitas 7.000 m3. Kapal ini, kata dia, akan membantu pihaknya mempercepat proses pengerukan di wilayah proyek MNP.
Menanggapi hasil kunjungannya, Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengaku cukup puas dengan progress yang telah dihasilkan Pelindo IV pada proyek pembangunan MNP.
“Alhamdulillah, memang ada kekurangan atau deviasi dari pekerjaan proyek. Tetapi hanya sekitar 2-3 persen. Itu normatif karena ada pembersihan ranjau di laut. Tapi kelihatan, pengerjaan tahapannya akan selesai sesuai dengan yang kita harapkan,” kata Syahrul.
Menurutnya, megaproyek MNP bukan hanya milik Sulsel, tetapi juga menjadi milik bangsa Indonesia. Proyek ini merupakan konsolidasi tol laut yang dilakukan Presiden Joko Widodo untuk mendorong 12 provinsi di wilayah timur pada khususnya, serta untuk dikoneksikan dengan 34 provinsi lainnya yang akan menggunakan Tol Laut itu.
Syahrul berharap, seluruh elemen yang ada di wilayah ini mendukung sepenuhnya proyek ini agar berjalan sesuai harapan.
Memang, tambah Syahrul, di mana-mana proyek besar itu selalu menimbulkan pro dan kontra. “Tetapi sepanjang semuanya mendukung, saya harap ini bisa diselesaikan dengan baik,” tandasnya. (rhm/rus)