MAKASSAR, BKM — Ada yang berbeda pada peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71 di Kota Makassar, Rabu (17/8). Pengibaran bendera merah putih dilakukan di tengah Pantai Losari.
Sebelum prosesi dilakukan, di tengah pantai sudah terpasang delapan tiang bendera. Enam diantaranya sudah dipasangi bendera merah putih. Sementara dua tiang lainnya dibiarkan tanpa bendera.
Dua tiang itu dipersiapkan bagi dua pecinta flying board, Andi Rahmat (25) bersama rekannya, Alam (25). Mereka akan membawa bendera merak putih dari pinggir pantai menuju bagian tengah dengan menggunakan alat khusus flying board.Andi Rahmat yang merupakan cucu pejuang 45, Andi Mattalatta menerima secara langsung bendera merah putih dari Wali Kota Makasssar, Moh Ramdhan Pomanto untuk dipasang dan dikibarkan di tiang yang telah terpancang di tengah Pantai Losari. Sementara benedara yang akan dibawa Alam, diserahkan Ketua DPRD Kota Makassar, Farouk M Betta yang berdiri di Anjungan Pantai Losari.
Prosesi pemasangan bendera ini diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya dari marching band Satpol PP Makassar. Perahu jolloro yang ditumpangi 71 nelayan yang mewakili 11 kepulauan spermonde Makassar, juga ikut dalam upacara ini.
Sebelumnya, Wali Kota bertindak selaku inspektur upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-71 tingkat Kota Makassar yang dipusatkan di Lapangan Karebosi. Upacara diikuti para pelajar SMP dan SMA, TNI, Polri, SKPD lingkup pemkot, camat, lurah serta organisasi masyarakat (ormas).
Dalam amanatnya, Wali Kota yang akrab disapa Danny itu mengatakan, tema yang diusung pada peringatan HUT Kemerdekaan kali ini, yakni Indonesia Kerja Nyata. Tema ini memiliki makna menjadikan pemerintah untuk berkomitmen bekerja nyata secara berkelanjutan demi memajukan Indonesia, dengan dukungan penuh seluruh masyarakat yang bersatu bahu-membahu bekerja dalam menaklukkan tantangan.
”Hanya dengan kerja nyata segala harapan bisa tercapai. Kerja nyata yang ditunjukkan pemangku kepentingan dan pemerintah di berbagai tingkatan berhasil mewujudkan konektivitas regional, dan nasional. Semangat ‘Indonesia Kerja Nyata’ juga telah menjadi budaya masyarakat Sulawesi Selatan yang tercermin pada falsafah hidup Resopa Temmangingi Naletei Pammase Dewata,” kata Danny.
”Etos kerja masyarakat Sulsel yang senantiasa bekerja keras dan pantang berputus asa dalam menghadapi rintangan, itulah yang tergambar dalam falsafah,” tambah Danny.
Menyusul suksesnya pelaksanaan pengibaran bendera merah putih di dua tempat, yaitu Lapangan Karebosi Makassar dan di Pantai Losari, Danny menyampaikan ucapan rasa syukurnya.
“Kami bersyukur seluruh upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 71 tahun berjalan dengan lancar baik di Karebosi maupun di Losari,” katanya. (arf/rus)
Headline
Halaman Utama | Berita Kota Makassar
PERINGATAN HUT Proklamasi Kemerdekaan RI-71 tingkat Kabupaten Luwu dipusatkan di Lapangan Andi Djemma, Belopa, Rabu (17/8). Apa saja yang menarik dalam acara ini?
Laporan: Irwan Musa
BUPATI Luwu, HA Mudzakkar bertindak selaku inspektur upacara. Komandan upacara dipercayakan kepada Kasat Lantas Polres Luwu, AKP Ahmad.
Pejabat pemkab yang hadiri, diantaranya Wakil Bupati Amru Saher, Ketua DPRD Andi Muharir, Kapolres AKBP Ahamd Yanuari Insan, Kajari Zet Tadung Allo, Sekkab Syaiful Alam, Pabung Kodim 1403 Mayor Inf Martinus Paggasing dan Ketua TP PKK Luwu Andi Tenri Karta.
Saat memimpin upacara, Bupati yang akrab disapa Cakka itu mengenakan seragam kebesaran putih putih lengkap dengan lambang jabatan dan tanda jasa.
Usai upacara, Cakka langsung mengambilalih protokol. Dia menantang mereka yang hadir untuk menghafal teks Undang-undang Dasar 1945.
Yang pertama tampil adalah seorang anggota pramuka. Hanya saja, baru sampai setengahnya, ia sudah lupa dan dinyatakan gugur. Selanjutnya giliran lurah. Lagi-lagi tidak dihafal.
Ketika seorang siswi SMP diberi kesempatan, ternyata dia menghafalnya. Meski sempat ada yang salah, namun Bupati tetap menghargai keberanian dan kesungguhannya.
”Biarmi salah, yang saya harga keberaniannya. Saya kasih hadiah uang Rp1 juta,” kata Cakka.
Selain itu, Bupati juga menyerahkan 372 unit traktor tangan, yang pengadaannya dialokasikan dalam APBN dan APBD. Turut diserahkan kombain harvester, alat tanam padi, perontok padi, pemipil jagung, pompa air, hingga alat semprot padi. Kucuran bantuan itu diperuntukkan bagi puluhan kelompok tani yang ada di daerah ini.
”Bantuan alat pertanian ini untuk mendukung petani dalam meningkatkan kesejahteraannya,” ujar Andi Mudzakkar.
Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Luwu, Andi Pangeran menyebut, bantuan handtraktor ini sumbernya dari APBN dan APBD. ”Semuanya diperuntukkan bagi petani Luwu,” tandasnya. (*/rus/c)
MAKASSAR, BKM — Proses hukum terhadap Adnan Ahmad dan anaknya, MA dipastikan terus berlanjut. Keduanya yang kini sudah ditahan tak bisa lagi berdamai dengan Dasrul, guru SMKN 2 Makassar yang dipukulnya.
Kepastian itu terungkap dalam pertemuan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB-PGRI), Unifa Rosyidin dengan Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Rusdi Hartono di ruang kerjanya, Senin (15/8). Unifa Rosyidin mendatangi Mapolrestabes Makassar sebagai bentuk dukungan terhadap pengusutan kasus penganiayaan yang dialami salah seorang anggota PGRI di kota ini.
”Kami berada di sini untuk memberi dukungan kepada pihak kepolisian yang mengusut kasus penganiayaan terhadap rekan kami. Kami juga akan memberi bantuan hukum terhadap korban, sekaligus mengawal kasus ini hingga tuntas,” jelas Unifa Rosyidin usai bertemu Kapolrestabes.
Dalam pertemuan dengan Kapolrestabes, perwakilan PGRI berjumlah lima orang. Dua diantaranya merupakan pengurus pusat, sementara tiga lainnya pengurus PGRI Sulsel.
Lebih jauh dijelaskan Unifa, pihaknya telah meminta kepada Kapolrestabes untuk melanjutkan kasus ini sesuai hukum yang berlaku. ”Tidak ada kata damai untuk kasus ini. Apalagi dihentikan. Ini pembelajaran untuk kita semua agar tidak berbuat semena-mena terhadap guru,” tegas Unifa.
Menurutnya, pengeroyokan terhadap Dasrul yang dilakukan siswa dan orang tuanya telah mencoreng profesi guru. “Atas nama PB-PGRI di Jakarta dan semua tingkatan, sangat menyesalkan dan kecewa dengan kejadian ini. Serta tidak dapat menerima tindakan sepihak yang dilakukan oleh orangtua siswa kepada Pak Dasrul,” tandasnya.
Diakui Unifa, PGRI Pusat telah menurunkan anggotanya untuk mengawal kasus ini sejak mulai bergulir dan diproses hukum. ”Dari awal kami telah menugaskan Pak Asmin untuk melakukan pendampingan secara organisasi,” tambahnya.
Merespon apa yang disampaikan pengurus PGRI tersebut, Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Rusdi Hartono berjanji jajarannya akan melaksanakan tugas-tugasnya secara profesional dan akuntabel. Kasus ini akan ditangani hingga tuntas.
”Pengurus PB-PGRI datang untuk memberi support kepada kami dalam menangani kasus ini. Saya sampaikan bahwa polri, khususnya Polrestabes Makassar akan melaksanakan tugas-tugasnya secara profesional. Kita usahakan proses kasus ini tidak lama dan bisa dituntaskan,” terangnya.
Saat ini, menurut Rusdi, tersangka MA untuk sementara ditahan di tempat penitipan anak. Hal itu berdasarkan aturan hukum yang berlaku.
Sehari sebelumnya, Minggu (14/8), Wali Kota Makassar, Moh Ramadhan membesuk Dasrul yang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara. Kepada wartawan, orang nomor satu di Makassar itu menyampaikan keinginan dan rencananya terhadap penanganan MA (15), siswa SMKN 2 yang memukul gurunya sendiri.
”Kita tetap akan menyiapkan sekolah untuk MA. Kita berupaya mencarikan sekolah yang cocok agar dia bisa dididik menjadi orang baik. Tapi sebelumnya dilakukan dulu treatmentnya, seperti mencari apa permasalahan yang terjadi pada diri anak itu. Apakah ada masalah keluarga atau persoalan lain sehingga MA menjadi nakal,” kata Danny, sapaan akrab Wali Kota.
Danny juga akan melibatkan psikolog yang ada di Makassar untuk ikut membantu menangani MA. Diapun menyatakan ketidaksetujuannya terhadap larangan bagi seorang anak nakal untuk bersekolah.
”Saya selaku pemerintah kota tidak sepakat jika MA dilarang bersekolah. Karena itu kami akan segera mencari solusi buat MA. Upaya untuk dididik agar akhlak dan moralnya berubah. Ia harus dididik agar selalu mengingat perbuatannya dan tidak akan mengulanginya lagi,” tandas Danny.
Larangan bersekolah bagi MA, seperti pernah disampaikan Ketua PGRI Sulsel, Prof Wasir Thalib, dinilai Danny sebagai pernyataan yang dilontarkan dalam keadaan emosional. ”Saya yakin itu hanya ucapan dan tidak sampai ke hati. Kitalah yang masing-masing menyadari diri kita,” ujar Danny. (ish/rus)
BERASAL dari keluarga kurang mampu bukanlah halangan untuk meraih prestasi. Tidak sedikit orang yang sebelumnya miskin, mampu meraih pencapaian yang begitu luar biasa. Salah satu kuncinya, kemauan dan keinginan untuk sukses.
Laporan: Purmadi
PESAN moral kali ini datang dari sosok Raisul Amin Rustam. Anak yang masih duduk di bangku kelas IX SMP ini terpaksa harus berjibaku berjuang demi sesuap nasi. Itu dilakukannya di sela-sela rutinitasnya bersekolah.
Sosoknya begitu sederhana. Tidak ada yang istimewa. Namun jika ditelusuri lebih dalam, kisah inspiratif bisa diperoleh dari Raisul untuk diteladani bagi pelajar lainnya.
Bagaimana tidak, di usianya yang beranjak remaja, siswa yang akrab disapa Icul ini berusaha membantu kedua orangtuanya untuk mencari nafkah. Anak pertama dari dua bersaudara ini bergelut dengan kerasnya hidup.
Sepulang sekolah, ia bekerja membanting tulang dan tak kenal lelah. Tidak seperti anak seusianya yang memanfaatkan waktu lowong dengan bermain bersama teman-temannya.
Dalam kesehariannya, Raisul rela membagi waktu sekolahnya dengan menjadi karyawan salah satu toko elektronik yang ada di Kabupaten Sidrap.
Sepulang sekolah, siswa kelas IXA SMP Negeri 1 Pangsid ini berjualan alat-alat elektronik milik pamannya. Tak hanya itu, ia juga turut membantu pekerjaan orangtuanya sebagai tukang service elektronik.
Meski begitu, jangan ragukan nilai pelajarannya di sekolah. Icul merupakan siswa pemilik nilai rata-rata 9,5 untuk semua mata pelajaran.
Keahliannya mengutak-atik semua jenis peralatan elektronik. Mulai dari komputer, laptop, handphone, radio hingga televisi.
Tak jarang, teman-teman sekolah dan sebayanya pun memanfaatkan keahlian Raisul Amin. Dia kerap ditraktir atau mendapat upah dari teman-temannya jika berhasil memperbaiki kandphone mereka yang rusak.
Saat BKM menyambangi sekolahnya di SMP Negeri 1 Pangsid Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidrap, Senin (15/8), Raisul menceritakan, dia diupah sebagai karyawan toko elektronik sebesar Rp20 ribu setiap hari. Hasil dari tetesan keringatnya itu kemudian ia tabung untuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-harinya.
“Saya kerja sendiri cari uang dan bantu-bantu bapakku service elektronik di rumah. Biasa kalau pulang sekolah, saya ganti pakaian dan langsung masuk ke toko milik om saya yang jual suku cadang alat elektronik. Upah saya Rp20 ribu sehari,” aku siswa yang lahir 25 Januari 2002 silam ini.
Untuk prestasi di sekolahnya, Raisul yang hobbi main game PS (Playstation) ini pernah mewakili Sidrap dan Provinsi Sulsel pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) untuk mata pelajaran matematika dan elektronika.
Selain menduduki posisi ranking pertama di kelas IIIA favorit SMPN 1 Pangsid, Icul juga selalu menjadi asisten operator komputer Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sidrap.
“Saya selalu dipanggil guru menjadi operator komputer UNBK. Semua instalasi UNBK saya yang kerjakan. Termasuk kalau ada kerusakan komputer,” ungkap Raisul, yang bercita-cita menjadi seorang pengusaha sukses dan arsitek.
Kedua orang tua Icul, Rustan Nurdin dan ibunya, Nurlinda mengaku sangat bangga dengan prestasi anaknya. “Dia itu anak penurut dan tidak pernah menyusahkan orang tua. Selalu ranking 1, mulai SD sampai sekarang. Keahliannya, semua alat elektronika diperbaiki semua. Uang jajannya dia dapat dari jerih payahnya sendiri. Sebagian juga ditabung,” tutur Rustan Nurdin dan Nurlinda yang ditemui di kediamannya Jalan Tupai, Kelurahan Lautang Benteng, Kecamatan Maritengngae, Sidrap, Senin (15/8).
Guru pembimbing ekstrakurikuler SMPN 1 Pangsid, Idris mengaku Raisul Amin Rusam merupakan siswa berprestasi dan sering mewakili sekolahnya untuk mata pelajaran matematika.
“Kalau pelajaran matematika, Raisul paling jago perkaliannya. Soal matematika dia kerja tidak kurang 20 menit. Sejak kelas 1 dia ranking pertama di kelasnya,” tutur Idris yang guru IPS.
Untuk nilai ujian mata pelajarannya, kata Idris, Raisul selalu meraih rata-rata nilai di atas 9. “Anak ini memang berbeda dari siswa lainnya. Rasa ingin tahunya tinggi dan selalu bertanya kepada gurunya kalau ada yang ingin diketahuinya,” katanya.
Pihak sekolah, tambah Idris, selalu mengutus Raisul Amin pada berbagai even, baik di tingkat kabupaten dan provinsi, maupun nasional di setiap ada perlombaan mata pelajaran matematika dan lomba bongkar pasang alat elektronika.
“Kalau nilai sekolahnya, Raisul selalu paling tertinggi diantara seluruh siswa lainnya. Dia juga jago perbaiki alat elektronik. Semua handphone, komputer dan laptop guru dan teman-temannya dia perbaiki. Makanya, kita biasa berikan upah dia kalau alat elektronik berhasil diperbaiki,” tandasnya. (*/rus/b)
TUGASNYA mengurusi cukup banyak tetek bengek di kantor. Mulai mengatur rule model karyawan dari performancenya, standar pelayanan, menghandle customer dengan memberi pelayanan paripurna hingga menghadapi komplain yang masuk.
Yah, sebagai Customer Relation Officer (CSO) Daihatsu Urip Sumoharjo, Fitria Jamal laiknya seorang ibu rumah tangga di kantornya. “Pokoknya semua kejadian di kantor harus saya tahu,” kata wanita manis berjilbab ini saat bincang-bincang santai dengan BKM di salah satu mal.
Dia memang harus berada di garda terdepan dan menjadi jembatan perusahaan dalam melayani customer.
Bergabung di perusahaan otomotif cukup terkenal, Fitria yang lulusan Akuntansi Universitas Ekonomi itu menjunjung tinggi profesionalismenya.
Cukup banyak suka dan duka yang dialami selama menjadi CSO Daihatsu. Ketika ada komplain yang masuk misalnya, dia harus mendengar apa keinginan dan keluhan mereka untuk diteruskan ke divisi yang berkompeten.
Sementara sukanya, dia bisa memperluas jaringan karena kerap berhubungan dengan customer.”Kadang ada customer dari daerah bawa ole-ole, seperti buah dan lainnya,” kata Fitria sambil tersenyum.
Sudah empat tahun dia bergabung di Daihatsu. Selain terus meng-upgrade kualitas diri demi peningkatan layanan, dia juga terus belajar agar kinerjanya bisa lebih baik lagi.
Dia berharap ke depan, bagaimana standar pelayanan bisa semakin baik.
Wanita berjilbab yang hobi travelling dan belanja ini, berharap standar pelayanan yang diberikan 100 persen sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang ada. (rhm/rus)
Penghargaan dan Sertifikat:
Copyright © 2026 Berita Kota Makassar. All Rights Reserved.

