MAKASSAR, BKM — Empat pasang kepala daerah akan dilantik hari ini, Rabu (26/9). Sehari sebelumnya, Selasa sore (25/9) mereka mengikuti gladi bersih. Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dan Penjabat Sekretaris Provinsi Tautoto Tana Ranggina hadir langsung.
Gladi bersih dimulai sekitar pukul 15.30 Wita di Baruga AP Petta Rani kampus Universitas Hasanuddin (Unhas). Di lokasi ini pelantikan akan dilaksanakan.
Empat pasangan yang dilantik, masing-masing Ilham Azikin-Sahabuddin (Bantaeng), Andi Seto Ghadista Asapa-Andi Kartini Ottong (Sinjai), Andi Fashar M Padjalangi-Ambo Dalle (Bone), dan Judas Amir- Rahmat Masri (Palopo).
Dipandu oleh Bagian Protokol Pemprov Sulsel, gladi berlangsung selama tiga kali hingga seluruh prosesi dirasa berjalan lancar.
Untuk kali pertama, pelantikan kepala daerah digelar di kampus Unhas. Kepala Biro Pemerintahan Provinsi Sulsel Hasan Basri Ambarala menjelaskan, dipilihnya Baruga AP Petta Rani sebagai lokasi pelantikan karena arahan gubernur.
“Bapak Gubernur yang meminta agar pelantikan digelar di Unhas,” ungkap Ambarala di sela-sela gladi.
Alasannya, selain ruangan yang cukup besar karena bisa menampung hingga 2.000 orang, juga untuk mengefisiensi anggaran. “Ini kita dikasih pinjam gratis gedungnya. Tidak ada biaya sewa,” tegas Ambarala.
Hal itu dikuatkan oleh Suharman, Sekretaris Rektor Unhas. Dia mengatakan, pihaknya memang mempersilakan Pemprov Sulsel untuk menggunakan baruga tersebut tanpa dipungut biaya sewa.
“Ya, kami mempersilahkan Pemprov Sulsel gunakan. Gedung ini kan milik pemerintah juga. Silakan saja,” imbuhnya.
Dia menambahkan, di luar pelantikan kepala daerah, pihaknya memang sering menyewakan baruga tersebut. Harga sewanya variatif. Tergantung siapa yang menyewa. Malah kalau mahasiswa yang ingin menggelar kegiatan di sana, mereka hanya membayar listrik, perawatan dan kebersihan.
Bila mahasiswa menggelar acara komersil, tarif yang dikenakan berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta. Sementara jika pihak swasta yang menggunakan, tarif sewanya berkisar Rp30 juta hingga Rp40 juta.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Provinsi Sulsel Tautoto Tana Ranggina, menjelaskan karena antusiasme menghadiri pelantikan kepala daerah cukup besar, pihaknya terpaksa menambah jumlah undangan yang disebar.
“Daerah minta ditambah. Terpaksa kita cukupkan 400 undangan per daerah. Sebelumnya kan hanya 250 undangan satu daerah,” kata Tautoto.
Total undangan yang disebar di empat kabupaten/kota adalah 1.600 eksemplar.
Khusus untuk Fashar- Ambo dan Judas-Rahmat, ini merupakan periode kedua mereka menjabat sebagai kepala dan wakil kepala daerah. Sementara bagi pasangan Ilham-Sahabuddin dan Seto-Kartini, ini pertama kalinya mereka dilantik sebagai kepala daerah.
Bupati Bone Andi Fashar M Padjalangi, mengatakan untuk persiapan pelantikan dirinya memakai seragam baru. Karena seragam putih-putih miliknya sudah luntur, karena keseringan dipakai.
“Alhamdulillah, masyarakat Bone masih memberikan kepercayaan. Besok (hari ini) kami akan hadir bersama undangan. Mulai dari Forkopimda, camat, kepala desa dan semua unsur,” katanya di sela-sela acara gladi.
Hal yang sama diungkapkan Wali Kota Palopo Judas Amir. Menurutnya, ini kali kedua dirinya dilantik. Di awal periode keduanya, dirinya akan melihat kondisi dulu setelah ditinggal beberapa bulan untuk mengikuti pilkada.
“Sebelum kita mulai bekerja akan kita sampaikan visi dan misi. Kalau soal pelantikan saya sudah biasa. Sebelumnya sering digantikan sebagai pejabat eselon II dan empat kali sebagai camat,” ungkapnya.
Terkait adanya gugatan dari mantan rivalnya di pilwali lalu, Judas mengatakan itu hak semua orang untuk menempuh jalur hukum jika ada yang tidak sesuai.
Dua kepala daerah lainnya yang tergolong muda, yaitu Ilham Azikin dan Andi Seto Ghadista Asapa memilih langsung tancap gas di awal pemerintahan. Beragam program dan kebijakan akan dilakukan. Terutama pada 100 pemerintahan.
“Kita akan sinkronisasi program per OPD. Program dengan pemerintah pusat dan pemprov. Pokoknya tidak akan ada pecah kongsi. Kami akan setia menyelesaikan periode ini, serta apa yang menjadi prioritas,” kata Ilham.
Semangat yang sama ditunjukkan oleh Andi Seto Ghadista Asapa. Dirinya bersama sang wakil Andi Kartini Ottong, bahkan menyiapkan 83 program kerja di 100 hari pertama memimpin Butta Panritta Kitta.
“Hari pertama kerja, saya akan lihat langsung setiap OPD melalui sidak. Apalagi kinerja aparat pemerintahan. Salah satu fokus kami ada membuka gerai perizinan,” jelasnya.
Sang wakil, Kartini yang menjadi satu-satunya perempuan yang dilantik hari ini, menambahkan fokus utama pembangunan di Sinjai adalah peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selama ini Sinjai menjadi daerah paling minim PAD dari 24 kabupaten-kota di Sulsel.
“Tentu akan kita sasar sektor potensi. Sinjai ini memiliki potensi di bidang pertanian, kelautan dan peternakan. Khusus kelautan dan perikanan akan kita buat fasilitas khusus di TPI Lappa,” pungkasnya. (rhm/rus)
HL Cetak
MAKASSAR, BKM — Menutup peluang bagi guru kategori dua (K2) yang berusia di atas 35 tahun untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS), merupakan penghianatan pemerintah terhadap guru-guru honorer. Pengabdian mereka selama bertahun-tahun dibayar murah oleh pemerintah dengan membatasi usia.
Betapa tidak, dari total 438.590 data K2 di BKN Pusat, hanya 13.347 orang yang memenuhi syarat untuk mendaftar. Pemerintah memberi perlakuan sama kepada mereka yang belum pernah mengabdi dan sudah pernah mengabdi pada batasan usia.
Secara otomatis, guru-guru yang telah mengabdi 12 tahun atau lebih, tak punya hak lagi menjadi PNS. Padahal selama ini mereka telah menjadi tulang punggung pendidikan Indonesia dengan bayaran murah.
”Selain tidak berpihak pada dunia pendidikan dengan hanya mengangkat 83.000-an guru, pemerintah juga jelas-jelas menyepelekan pengabdian guru selama bertahun-tahun dengan nasib tak menentu karena kontrak hanya setahun dan dengan bayaran yang begitu murah,” kata Ketua Umum Pengusut Pusat Ikata Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim, kemarin.
Seorang guru di Maros tak kuasa menahan tangis karena menerima honor hanya Rp750 ribu untuk akumulasi mengajar selama tiga bulan dan saat terbuka pendaftaran CPNS. Usianya kini sudah 41 tahun. Padahal guru tersebut telah mengabdi sebagai guru sejak tamat kuliah 18 tahun lalu.
”Pengkhianatan terhadap pengabdian ini bisa berdampak pada mogok massal guru honorer yang saat ini mengisi lebih dari 50 persen formasi guru pada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Kawan-kawan guru honorer di seluruh Indonesia turun ke jalan menuntut pemerintah menghilangkan batasan usia. Tak elok mereka ditolak pemerintah setelah mengabdi lebih dari 12 tahun,” tandas Ramli lagi.
Hal ini, menurut Ramli, seharusnya tidak terjadi. Karena akan mengganggu dunia pendidikan. ”Jika guru honorer turun ke jalan, lalu siapa yang menghadapi siswa di ruang kelas?” cetusnya.
Meski begitu, Ramli tetap meminta pemerintah untuk cermat. Harus memperhatikan apakah sang guru honorer dalam dua tahun terakhir mengabdi sebagai guru atau tidak. Jika tidak, harusnya langsung dicoret haknya sebagai K2.
Soal kualitas, IGI meminta pemerintah bertahan. IGI ingin mereka yang diangkat jadi PNS betul-betul berkualitas, sehingga tidak menambah masalah baru dalam dunia pendidikan. Seleksinya pun bukan hanya kompetensi profesional. Tapi juga kompetensi paedagogik, sosial dan kepribadian.
Tiga Tuntutan FHK2I
Ratusan guru honorer K2 berunjuk rasa di gedung DPRD Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Rabu (19/9). Mereka menuntut agar pembatasan umur dalam peraturan mengenai penerimaan CPNS jalur K2 dihapuskan.
Para honorer yang berasal dari 19 kabupaten/kota itu datang menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan umum hingga bus sekolah.
Koordinator Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I) H Farida, menyebut ada tiga tuntutan mereka kepada pemerintah. Pertama, menuntut agar rencana penerimaan CPNS 2018 dihentikan sampai polemik mengenai K2 diselesaikan.
Kedua, menuntut agar Permenpan 36 dan 37 tahun 2018 dihapuskan. Peraturan tersebut membatasi usia tenaga honorer K2 yang mengikuti seleksi CPNS 2018 maksimal 35 tahun.
“Penerimaan CPNS harus ditunda sebelum guru honorer K2 terangkat menjadi PNS. Kedua, UU direvisi agar semua guru honorer K2 bisa diangkat menjadi PNS tahun ini secara bertahap tanpa pandang usia, ” ujar Farida.
Honorer ini berharap agar DPRD Sulsel bisa menindaklanjuti aspirasinya ke pemerintah pusat, agar ada kebijakan terhadap nasib K2.
Wakil Ketua Komisi E M Rajab yang menerima para honorer, mengapresiasi perjuangan guru honorer ini. Menjawab tuntutan yang disampaikan, Rajab berharap pemerintah pusat mempertimbangkan untuk mengangkat mereka menjadi CPNS secara bertahap. Janagn langsung menerima PNS umum. Apalagi, honorer K2 memang dijanji oleh pemerintah dari sejak tahun 2013 yang lalu untuk diangkat menjadi CPNS.
“Honorer K2 lanjutan dari honorer K1 yang sudah duluan jadi PNS. Sebaiknya pemerintah memperhatikan nasib mereka yang yang masuk honorer K2. Sebab mereka sudah didata dan dites tahun 2013 lalu,” ujar Wakil Ketua Komisi E DPRD Sulsel ini.
Menangis
Dari gedung DPRD, massa menggelar aksi serupa di kantor gubernur.
Pada dasarnya, tuntutan mereka agar honorer K2 bisa diakomodir dalam penerimaan CPNS. Khususnya yang sudah berusia di atas 35 tahun.
Salah seorang pendemo Hawayya saat diterima tim aspirasi Pemprov Sulsel, sampai-sampai menangis saat menyampaikan aspirasinya.
“Tolong kami, Pak. Sudah belasan tahun mengabdi sebagai tenaga honorer, namun pemerintah mengabaikan kami. Padahal data kami sudah masuk dalam database,” ungkap Hawayya sambil terisak.
Wanita berhijab yang sudah 17 tahun mengabdi sebagai guru honor di SDN Lejja, Kabupaten Soppeng itu mengaku selama ini dibayar Rp50 ribu per bulan. Itupun pencairannya tidak setiap bulan. Melainkan per tiga bulan. Dia tercatat sebagai Ketua Koordinator Honorer K2 di kabupaten yang merupakan kampung halaman Prof Andalan.
Salah seorang tenaga honorer lain yang ikut berdemonstrasi adalah Adi. Pria berumur 36 tahun ini sudah menjadi tenaga honorer selama 13 tahun di Kabupaten Wajo. Dia rela ke Makassar untuk memperjuangkan nasibnya. Dia diberi honor sebesar Rp100 ribu sebulan.
Bertahan sebagai tenaga honor karena berharap suatu saat bisa diangkat sebagai ASN. Untuk menyambung hidup, dia berusaha bekerja sambilan di luar profesinya sebagai tenaga honor.
Kepala Bidang Perencanaan dan Informasi ASN BKD Sulsel Irwansyah, mengaku cukup sedih melihat nasib honorer, terutama K2. Namun dia mengatakan, Pemprov bukan penentu kebijakan dalam rekrutmen CPNS. Semua ditetapkan oleh pemerintah pusat.
“Kami di daerah paham soal suasana kebatinan para tenaga honorer. Tapi semua kebijakan dilakukan pusat. Kita sifatnya given atau menerima saja,” ungkapnya.
Namun, Pemprov Sulsel berjanji tetap akan melaporkan aspirasi para pengunjuk rasa agar bisa didengar oleh pemerintah pusat. (rhm-rif/rus)
MAKASSAR, BKM — ”Kebakaran….kebakaran….” Teriakan itu saling bersahutan di keheningan dini hari menjelang subuh, Selasa (11/9).
Kira-kira pukul 03.45 Wita di Jalan Bulukunyi nomor 11, RT 1/RW 2 Kelurahan Maricayya Baru, Kecamatan Makassar. Api berkobar dari sebuah rumah toko yang juga dijadikan tempat usaha parsel. Di samping kiri kanannya terdapat ruko.
Warga yang melihat kejadian itu beramai-ramai melakukan pemadaman dengan menggunakan peralatan seadanya. Namun apa daya, si jago merah tetap saja mengamuk.
Yang membuat khawatir, kala ruko dua lantai itu dikuasai api, tak satu pun penghuninya yang keluar. Padahal diketahui, di dalamnya ada satu keluarga yang tinggal.
Warga lalu berinisiatif memecahkan kaca ruko berukuran panjang 10 meter dan lebar 3 meter itu. Tujuannya agar penghuni rumah bisa keluar dari kepungan api.
Tak lama berselang, aparat Polsek Makassar tiba di lokasi. Disusul raungan bunyi sirine armada pemadam kebakaran. Bersama warga, petugas damkar berjibaku memadamkan api.
Dalam hitungan 30 menit, api meluluhlantakkan satu unit ruko. Satu unit ruko lain yang berada di samping kirinya, mengalami kerusakan pada bagian depan.
Polisi kemudian mengumpulkan keterangan saksi-saksi. Informasi yang diperoleh, di dalam ruko tersebut ada penghuninya yang tak kunjung keluar.
Proses olah tempat kejadian pun dilakukan. Alhasil, ditemukan tiga sosok manusia yang sudah tak bernyawa. Kondisinya sangat mengenaskan. Mereka tewas terpanggang dan tak lagi bisa dikenali.
Tim Inafis RS Bhayangkara lalu bekerja. Dari hasil olah TKP, terungkap identitas ketiga korban yang semuanya perempuan. Masing-masing Rosmiati (40), Radianti Rahmana Rahim alias Ranti (19) dan Rafika Nur Safitri (11). Ketiga wanita malang itu adalah ibu bersama dua orang anaknya.
Dalam ruko yang terbakar itu sebenarnya dihuni satu keluarga yang terdiri dari lima orang. Lalu ke mana dua orang lainnya?
Ternyata, sang kepala keluarga bernama Abdul Rahim (43) berhasil menyelamatkan diri. Ia melompat dari lantai dua rumahnya ketika api tengah berkobar. Meski selamat, Rahim mengalami patah pada bagian kaki kanan usai melompat dari ketinggian kira-kira lima meter.
Satu orang lainnya Muhammad Raka Raskullah. Seorang bocah berusia empat tahun. Putra bungsu pasangan Abdul Rahim dan Rosmiati ini juga berhasil selamat dari kebakaran. Ia sempat dilempar oleh ayahnya dari lantai dua kala kebakaran melanda.
Rahim tak kuasa membendung air matanya saat ditemui BKM di rumah saudaranya Jalan Tumanurung, Gowa. Dengan kaki yang masih diperban, ia terus menangis meratapi kepergian istri dan dua putri tercintanya.
Rahim sangat menyesali tak bisa menyelamatkan istri dan anaknya. Dengan tatapannya yang terlihat kosong dan terus mengeluarkan air mata, Rahim sedikit menceritakan kronologi sebenarnya.
Ia sedang tidur kala itu bersama istri dan anak bungsunya, Raka. Sedangkan kedua putrinya berada di kamar sebelah. Rahim tiba-tiba terbangun ketika melihat api yang telah berkobar. Ia pun dengan cepat membangunkan istri dan anak-anaknya.
Saat terbangun, Rahim dan semua anggota keluarganya sedang berada di lantai dua ruko. Sedangkan api telah membakar seisi ruangan di lantai satu. Ia pun dengan sigap membawa Raka keluar melalui lantai dua, dan memerintahkan istri dan kedua putrinya untuk mengikuti.
Rahim beranjak menuju ruko sebelah untuk melempar anaknya dari lantai dua, yang saat itu sempat ditangkap oleh warga.
Namun istri Rahim, Rosmiati malah mengajak anaknya turun ke lantai satu untuk keluar melalui pintu di lantai satu. Nahas, saat telah berada di lantai satu, lantai di lantai 2 yang terbuat dari kayu langsung ambruk menimpa Rosmiati dan kedua putrinya.
Melihat istrinya tak kembali mengikutinya, Rahim pun berusaha untuk menuju rukonya kembali menyelamatkan mereka. Namun saat menginjak rukonya kembali, Rahim terjatuh yang membuat kedua kakinya terkilir. Sehingga saat itu ia tak mampu lagi bergerak.
“Saya bilang sama istriku jangan lewat bawah, karena di mana mau keluar. Ikuti saya saja. Tapi dia malah ajak Radianti sama Rafika turun. Pas di bawah, tertimpa langsung dengan lantai kayu di atasnya. Saya waktu mau kembali, roboh itu atap yang kuinjak. Jadi jatuhka dari lantai dua. Tidak bisama juga goyang,” jelasnya sambil menangis.
Sementara Radianti, anak sulung Rahim yang menjadi korban, dikatakan baru saja akan mengikuti perkuliahan sebagai mahasiswa baru (maba). Rahim mengenang, ia baru saja membayar uang kuliah untuk melihat anaknya kuliah.
“Sudah bayar uang kuliah dia kasihan. Kemarin baru nabilang mau dibelikan barang-barang untuk kuliahnya. Sekarang sudah ndak adami dia,” kata Rahim kembali dalam keadaan masih menangis.
Tetangga korban di Jalan Bulukunyi, Jafar mengatakan jika Rosmiati adalah orang yang baik. Sama sekali tak pernah marah. Ia juga dikenal sebagai sosok pendiam.
Rosmiati juga diketahui sedang hamil saat menjadi korban. Dikatakan Jafar, usia kandungannya diperkirakan sekitar tujuh sampai delapan bulan.
“Iya lagi hamil kasihan. Kalau bukan tujuh bulan, delapan bulan. Ros orangnya pendiam. Dia baik sekali juga orangnya,” kata Jafar.
Jenazah para korban kebakaran telah dimakamkan di kampung halamannya di daerah Gontang, Gowa. (ish-nug/rus)
Penghargaan dan Sertifikat:
Copyright © 2026 Berita Kota Makassar. All Rights Reserved.

