MAKASSAR, BKM — Lima paket berukuran besar diperlihatkan kepada wartawan di Mapolrestabes Makassar, Jumat (31/8). Barang yang terbungkus rapi dan dilakban plastik warna coklat itu adalah narkotika jenis ganja.
Tim Elang Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar yang mengungkap kasus ini. Barang haram tersebut diamankan pada Kamis sore (30/8).
Polisi menyita ganja tersebut sesaat setelah diambil dari sebuah kantor jasa pengiriman barang di Jalan Landak Baru. Seorang karyawan perusahaan itu bernama Arjun diringkus polisi. Dia warga Jalan Inspeksi Kanal.
Bersama Arjun, ikut diamankan pula Alam Jaya (23). Beralamat di Jalan Banta-bantaeng.
Kepala Satuan Reserse (Kasatres) Narkoba Polrestabes Makassar Kompol Diari Estetika merilis kasus ini di kantornya, kemarin. Ia didampingi Kasubag Humas Kompol Laode Idris.
Dijelaskan Diari, pengungkapan kasus ini bermula dari adanya informasi masyarakat. Disebutkan bahwa, seorang karyawan jasa pengiriman barang bersama seorang rekannya menerima kiriman paket yang dicurigai narkotika.
Informasi itu kemudian ditindaklanjuti Tim Elang. Alhasil, di pinggir jalan depan tempat pengambilan barang kiriman itu didapati dua orang pria yang dicurigai. Mereka membawa paket yang terbungkus rapi.
Polisi langsung melakukan penggeledahan dan pemeriksaan. Ternyata, bungkusan itu berisi ganja. Beratnya 5 kg. ”Saat diperiksa, keduanya mengakui kalau ganja tersebut dipasok dari Medan,” ujar Diari.
Setelah ditelusuri, ternyata ganja dalam jumlah banyak itu diorder oleh seorang narapidana bernama Coklat. Saat ini ia tengah menjalani hukuman di Rutan Gunung Sari, Makassar. Vonis hukumannya 8 tahun penjara.
”Pengiriman barang melalui Mama Aldo dari Medan, dengan tujuan Arjun, karyawan jasa pengiriman. Selanjutnya Arjun ini yang akan mengantar barang ke Alam Jaya. Rencananya Alam Jaya meneruskan ke Coklat di rutan. Untuk pengambilannya, Coklat menyuruh seseorang,” terang Diari.
Kasubag Humas Polrestabes Makassar Kompol Laode Idris menambahkan, kedua pelaku dijerat pasal 114 ayat (2), atau pasal 111 ayat (2), junto pasal 132 ayat (1) UU RI No 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman pidananya paling singkat lima tahun, dan paling lama 20 tahun atau seumur hidup. (jul/rus)
HL Cetak
MAKASSAR, BKM — Ini perkembangan terbaru kasus Abu Tours. Tim penyidik Direkrorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel kembali melakukan penyitaan aset milik perusahaan tersebut.
Mulai dari pesantren, kafe, usaha media, hingga travel. Penyitaan dilakukan terkait kasus dugaan penipuan, penggelapan dan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) dana jamaah umrah sebesar Rp1,4 triliun.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani menyampaikan hal itu, Minggu (19/8). ”Ada beberapa unit bisnis yang sudah kami sita dan akan diserahkan saat ini,” ujarnya.
Dicky kemudian merinci aset yang disita itu. Yakni Pesantren Al Ikram berupa tanah bangunan dan sertifikat. Alika Printing lengkap dengan alat cetaknya.
Penyidik juga menyita bisnis media yang berada di bawah naungan Abu Tours. Yakni Radio Bharata.
Terdapat pula empat buah restoran yang berada di jajaran Alabaik. Masing-masing restoran Chopper, Lobby, Silverhawk, dan Kabuki.
Terakhir, unit bisnis kelima milik Abu Tours yang disita adalah Almira Kursus, yang sudah dinyatakan tutup.
Ada pula sejumlah aset lainnya yang masih dalam proses penyitaan penyidik. Unit usaha tersebut adalah Alharam Wisata Travel, Nayla Travel, Alharam Media, Qia Film, dan Azan Communication. Dua di antara unit bisnis ini dinyatakan telah ditutup.
Dengan penyitaan terakhir yang dilakukan, total aset yang telah disita penyidik berjumlah Rp250 miliar. Sebelumnya, telah ada beberapa bangunan berupa rumah mewah, ruko, mobil, serta motor telah disita. Aset tersebut ada yang berada di Makassar, ada pula di Jakarta dan daerah lainnya.
Terkait kasus ini juga, penyidik rencananya akan melakukan pelimpahan tahap dua terhadap tersangka M Kasim. Mantan manajer keuangan PT Abu Tours ini akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar hari ini, Senin (20/8).
“Rencana tersangkanya akan kita limpahkan besok (hari ini) ke Kejari Makassar,” ucapnya. Tersangka akan ditahapduakan ke kejari pada pukul 09.00 Wita.
Selaku manajer keuangan PT Abu Tours di tahun 2016, tersangka M Kasim mengendalikan lalulintas keuangan dari dan ke rekening, penampungan PT Abu Tours melalui sistem transaksi daring. Berdasarkan alat bukti, tersangka telah mendistribusikan sebagian dana dari rekening penampungan yang berasal dari dana jamaah untuk kepentingan pribadinya.
Dalam kasus ini penyidik menjerat tersangka dengan pasal 364 subsider 372 junto pasal 55, pasal 56 ayat (1) KUHP dan atau pasal 3, pasal 5 Undang-undang TPPU dengan ancaman pidana 5 tahun penjara, denda Rp1 miliar.
Langkah penyitaan aset Abu Tours yang dilakukan penyidik Ditreskrimsus Polda Sulsel, mendapat dukungan dari Ketua Celebes Law and Transparancy (CLAT) Irfan Sabang. Ia berhadap polda bekerja secara profesional dan proporsional dalam menuntaskan kasus ini.
”Terutama dalam upaya penelurusan, pencarian dan melengkapi data-data yang ada. Termasuk sola informasi tentang aset Abu Tours di mana pun berada,” ujarnya, kemarin.
Dihubungi terpisah, Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel Salahuddin, mengatakan pihaknya masih menunggu pelimpahan tahap dua tersangka M Kasim dari penyidik Ditreskrimsus Polda Sulsel.
“Kita masih menunggu pelimpahan tahap dua tersangkanya dari penyidik,” tandasnya, Minggu (19/8).
Karenanya, Salahuddin belum bisa memastikan dan belum mendapat informasi pasti terkait rencana pelimpahan tahap dua M Kasim. Sebab hal itu merupakan kewenangan penyidik. (mat/rus)
SINJAI, BKM — Jarum jam menunjuk pukul 11.00 Wita, Selasa (7/8). Seorang pengendara sepeda motor melaju dari kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI), Jalan Persatuan Raya, Kota Sinjai.
Motor Yamaha Xeon warna biru dipadu perak itu bernomor polisi DW 3410 DO. Pengendaranya bernama Muh Amin. Warga Dusun Bontosugi, Desa Patallassang, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai. Ia menuju ke kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan di Jalan Stadion Mini.
Sesampainya di tujuan, Muh Amin menyimpan motornya di tempat parkir kantor Dinas PKH. Kemudian ia masuk guna mengurus surat-surat ternak sapi.
Tak lama di dalam kantor, Muh Amin keluar. Dia kembali menuju ke motornya untuk mengambil berkas yang tertinggal. Berkas tersebut untuk kelengkapan surat sapi yang diurusnya.
Ketika membuka sadel motornya, alangkah kagetnya ia. Sebab, yang didapatinya hanyalah berkas. Sementara uang Rp60 juta, yang baru saja diambilnya di bank BRI dan disimpannya dibawa sadel, telah raib. Ada bekas congkelan untuk membuka sadel motor korban.
Kepanikan pun melanda Muh Amin. Tanpa menunggu waktu lama, ia lalu bergegas menuju ke Mapolres Sinjai. Jarak kantor Dinas PKH dan mapolres kira-kira 50 meter.
Menerima laporan korban, polisi langsung bergerak. Dari hasil penyelidikan, identitas pelaku teridentifikasi. Komplotan mereka berjumlah empat orang. Usai menggasak uang korban, pelaku langsung kabur.
Tempat persembunyiannya akhirnya terendus. Bberada di Jalan Stadion Mini belakang Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sinjai.
Pukul 12.00 Wita, sebuah rumah batu yang disewa kawanan perampok ini dikepung. Lokasinya tak jauh dari sebuah kompleks perumahan.
Personel Satuan Reserse dan Kriminan (Satreskrim) Polres Sinjai langsung menggerebeknya. Di dalam rumah ditemukan empat orang pelaku yang tengah membagi uang hasil rampokannya. Satu di antaranya perempuan.
Melihat kedatangan sejumlah pria bersenjata, komplotan ini langsung berhamburan. Tiga orang pria mencoba melarikan diri dan keluar dari dalam rumah melalui pintu samping. Yang wanitanya juga berusaha kabur. Namun, polisi lebih dulu meringkusnya.
Upaya ketiga pelaku untuk meloloskan diri tak berbuah hasil. Sebab petugas sudah mengepung lokasi yang digerebek.
Awalnya, mereka mencoba untuk kabur. Tembakan peringatan tak dihiraukan. Semuanya berlari menuju sawah tak jauh dari lokasi perembunyiannya. Petugas yang tak ingin buruannya pergi begitu saja, langsung mengambil tindakan tegas.
Secara terukur moncong pistol diarahkan ke kaki ketiganya. Mereka pun tumbang tak berkutik. Selanjutnya dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sinjai. Setelah menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru, ketiganya lalu digelandang ke Mapolres Sinjai guna pemeriksaan.
Hasil identifikasi polisi, tiga orang yang ditembak itu adalah Santoso (32), Malik (45) dan Akbar alias Jarot (40). Sementara wanitanya bernama Adinda alias Indah (18).
Saat melakukan aksinya, Malik berboncengan motor dengan Akbar. Akbar turun mengeksekusi mencungkil sadel motor korban. Setelah mengambil uang dari bawah sadel, keduanya langsung kabur.
Santoso dan Adinda mengawasi tak jauh dari lokasi kejadian. Keduanya berada di atas sebuah mobil. Setelah kedua rekannya sukses melakukan aksinya, dan Adinda langsung menyusul mereka.
Dari hasil pemeriksaan polisi, terungkap bahwa Adinda adalah anak dari Malik. Sementara Santoso, warga Jalan Abdul Kadir, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar disebutkan sebagai calon istri Adinda. Sedangkan Akbar merupakan keponakan Malik.
Indah yang berprofesi sebagai driver ojek daring, diketahui berdomisili di Makassar. Sementara Malik, beralamat Sinjai namun telah lama tinggal di Makassar. Tepatnya di Jalan Balana, Kecamatan Makassar. Ia merupakan residivis dalam wilayah hukum Polres Sinjai.
Demikian pula Akbar. Dia warga Sinjai tapi lama menetap di Hartaco, Makassar. Juga seorang residivis.
Dalam catatan kepolisian, keempat komplotan ini pernah beraksi di Jalan Garuda, Kelurahan Biringere dan Jalan Bulusaraung, Kelurahan Bongki, Kecamatan Sinjai Utara.
Malik, Akbar serta Santoso tak bisa menahan rasa sakit ketika di hadapan petugas. Sambil meringis kesakitan mereka berjalan pincang dengan perban di betisnya.
Dalam pengakuannya, dua pekan lalu kawanan ini beraksi di Jalan Garuda dan Jalan Bulusaraung. Di depan kantor Dinas PKH merupakan aksi terakhir yang membuat mereka hingga dihadiahi timah panas.
”Kalau yang di Jalan Garuda, uangnya Rp30 juta. Di Jalan Bulusaraung sebanyak Rp5 juta. Terakhir di Kantor Dinas Peternakan, kami dapat Rp60 juta. Semuanya kami bagi rata. Ampunma kasian, Pak. Sakit sekali kakiku,” ujar pelaku sambil meringis.
Kapolres Sinjai AKBP Ardiansyah di halaman kantor Dinas PKH, kemarin menuturkan bahwa penangkapan ini berdasarkan dua laporan polisi sebelumnya. ”Anggota kemudian melakukan penyelidikan. Setelah informasi kami pastikan dan hari ini (kemarin) komplotan pelaku kembali beraksi, anggota langsung melakukan penangkapan,” terangnya.
Diakui, dalam proses penangkapan, para tersangka mencoba melarikan diri. Satu orang perempuan berhasil diamankan saat rumah kontrakannya digerebek. Sementara tiga rekan prianya dilumpuhkan dengan tembakan.
Pada bagian lain pengakun tersangka, Santoso yang berprofesi sebagai sopir rencananya akan menikah dengan Adinda dalam waktu dekat. Uang hasil rampokan nasabah bank yang telah dibagi rata, akan digunakan sebagai uang panai.
Dari pengungkapan kasus ini, polisi mengamankan uang hasil curian sebesar Rp60 juta. Satu unit mobil Toyota Avanza warna putih bernomor polisi DD 1220 LJ. Satu unit sepeda motor Yamaha Fino DD 2854 YE. Kendaraan ini digunakan pelaku saat beraksi. Ada pula kunci letter T.
Atas perbuatannya, pelaku diancam pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan. Ancaman hukumannya di atas lima tahun.
Korban Muh Amin berterima kasih kepada polisi yang berhasil mengungkap komplotan pelaku perampokan. “Alhamdulillah, Pak Polisi cepat merespon dan menangkap pelaku. Terima kasih banyak,” tuturnya. (din/rus/b)
MAKASSAR, BKM — Saat ini cuaca tak bisa diprediksi. Kadang panas, tiba-tiba hujan. Kondisi seperti ini membuat berbagai penyakit muncul. Salah satunya adalah flu Singapura.
Penyakit ini cukup berbeda dengan penyakit flu seperti biasanya. Warga Kota Makassar patut mewaspadainya, karena sudah ada kasus yang ditemukan.
Seorang anak balita berusia hampir dua tahun mengalaminya. Menurut penuturan ibu bernama Dewi, awalnya sang anak demam biasa. Suhu tubuhnya pun tidak terlalu tinggi.
Namun yang menjadi tanda tanya, sang anak tidak mau minum maupun makan. Sehingga dia memutuskan untuk membawanya ke puskesmas.
Namun di puskesmas hanya diberi vitamin dengan diagnosa panas dalam. Setiba di rumah, sang anak tetap rewel dan tidak mau makan. Apalagi minum.
“Jadi saya putuskan untuk bawa ke salah klinik di kawasan AP Petta Rani,” ungkapnya kepada BKM, Jumat (3/8).
Setelah diperiksa, ternyata anaknya didiagnosa terkena flu Singapura.
“Dokter perlihatkan mulutnya penuh sariawan hingga ke tenggorokan. Pantas biar minum tidak mau,” cetusnya.
Dia melanjutkan, flu Singapura itu ternyata gejalanya lebih spesifik mirip sarampa atau cacar. Namun, bintik-bintik merah yang muncul bukan di badan. Melainkan di tangan, kaki, dan mulut. Termasuk sariawan hingga di tenggorokan. Selain demam yang turun naik, sang anak juga didera batuk dan pilek.
Dewi mengatakan, sesuai penuturan dokter, flu Singapura ini biasanya sembuh sendiri. Apalagi kalau pasien atau penderita sudah minum obat yang dianjurkan oleh dokter.
Namun yang menjadi kekhawatiran jika penderita terkena sariawan yang cukup parah, mengakibatkan yang bersangkutan tidak mau makan dan minum.
“Dokter bilang, untung cepat dibawa untuk ditangani. Kalau tidak, pasien bisa diopname karena tidak mau minum. Kalau flu Singapura, katanya bisa sembuh sendiri,” ungkapnya.
Setelah empat hari terkena virus flu itu, menurut Dewi, kondisi sang anak kini berangsur membaik. Sudah mulai mau makan sedikit, walaupun masih ada trauma karena waktu mulutnya penuh sariawan, terasa sakit jika menelan.
Dikonfirmasi terkait adanya kasus flu Singapura di Makassar, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Sulsel dr Bachtiar Baso, berdalih sejauh ini belum ada laporan yang masuk ke pihaknya.
“Sejauh ini belum ada laporannya yang masuk,” ujarnya, kemarin.
Meski begitu, lanjut dia, ketika sudah ada yang terserang, masyarakat diminta untuk tetap mewaspadainya. Apalagi penyakit ini termasuk menular.
Dia mengatakan, flu Singapura merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh virus. Penyakit yang umumnya menyerang anak-anak ini bisa juga terjadi pada orang dewasa.
Penderita flu Singapura biasanya mengalami bintil-bintil berair dan sariawan di dalam mulut, tangan, dan kaki. Terkadang luka-luka tersebut juga muncul di siku, bokong, lutut, dan lipatan paha.
Menurut dia, flu Singapura bisa menular jika mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi tinja penderita. Tidak sengaja menghirup percikan air ludah, cairan hidung atau tenggorakan penderita. Menyentuh benda yang terkontaminasi virus. Kemudian menyentuh mata dan hidung, atau memasukan jari ke dalam mulut.
Flu Singapura membutuhkan pengobatan sekitar 7-10 hari.
Orang tua dapat melakukan perawatan mandiri untuk membantu meredakan gejala apabila anak menderita flu Singapura.
Dinkes Lebih Fokus MR
Sementara Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Makassar, untuk saat ini belum fokus dalam melakukan penanganan penyebaran virus flu Singapura. Alasannya, mereka masih disibukkan dengan program imunisasi Measless Rubella (MR).
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Makassar Hadarati, yang dihubungi kemarin, memilih untuk tidak banyak berkomentar. Menurut dia, pihaknya tengah serius melaksanakan imunisasi MR. Tak mau terganggu dengan masalah-masalah lain. Termasuk flu Singapura.
“Kami di Dinkes Makassar belum urus dulu itu. Sekarang kami sibuk dengan imunisasi MR. Karena saya juga ini tidak dapatpi datanya,” cetus Hadarati, kemarin. (rhm-arf/rus)
Penghargaan dan Sertifikat:
Copyright © 2026 Berita Kota Makassar. All Rights Reserved.

