pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

La Sunra Raih Doktor di UNM Ber-IPK 3,96, Ini Hasil Penelitiannya

MAKASSAR, BKM — La Sunra, salah seorang dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) dari Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris berhasil mencetak pencapaian yang tak biasa. Ia meraih gelar doktor di Program Pascasarjana (PPs) UNM dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,96.

Selain itu, penelitiannya juga tergolong jarang dilakukan. Yakni Teacher’s Reflective Practice in Indonesia EFL Classrom (Praktik Refleksi Guru dalam Pembelajaran Bahasa Inggris di Indonesia).

Ujian promosi La Sunra yang juga sekretaris jurusan Prodi Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNM ini berlangsung, Kamis (16/7). Prof Dr H Hamsu Abdul Gani memimpin jalannya sidang ujian promosi. Didampingi Prof Dr Baso Jabu selaku sekretaris sidang ujian promosi. Prof Dr Haryanto bertindak selaku promotor. Prof Muhammad Basri sebagai ketua prodi S3 Pendidikan Bahasa Inggris dan Dr Abdul Halim selaku penguji internal. Sementara Dr Hj Ratnah sebagai penguji eksternal.

Dekan FBS UNM Prof Dr Syukur Saud hadir dan menyaksikan langsung sidang promosi doktor ini. Termasuk Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulsel yang juga anggota DPRD Sulsel Ashar Arsyad juga hadir. Protokol kesehatan yang ketat diterapkan. Seluruh tim penguji mengenakan masker lengkap. Tamu yang hadir pun dibatasi. Hanya berkisar 20-an orang.

Dalam pemaparannya, La Sunra menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukannya berfokus pada tiga hal utama. Pertama, bagaimana persepsi/pemahaman guru Bahasa Inggris SMP terhadap praktik refleksi dalam pembelajaran? Kedua, bagaimana guru Bahasa Inggris SMP menerapkan praktik refleksi dalam pembelajarannya? Ketiga, kendala apa yang dialami oleh guru Bahasa Inggris SMP dalam menerapkan praktik refleksi dalam pembelajarannya?

Temuan-temuan yang menarik dari penelitian ini, menurut La Sunra, terkait pemahaman guru Bahasa Inggris SMP terhadap praktif refleksi. Ia pun membaginya ke dalam tiga kategori, masing-masing less reflective teacher, moderately reflective teacher, dan highly reflective teacher.

Less reflective teacher ditandai dengan kemampuan menggambarkan apa yang terjadi di kelas selama pembelajaran, apa yang dilakukan guru dan apa yang dilakukan siswa. Moderately reflective teacher tidak sekadar menggambarkan apa yang terjadi selama pembelajaran di kelas, tetapi juga disertai dengan analisis tentang hubungan sebab akibat tentang perisitiwa2 pembelajaran yang terjadi dan dugaan-dugaan penyebabnya, bahkan disertai dengan rencana praktis untuk memperbaikinya,” terang La Sunra dalam bahasa Inggris yang fasih.

Sedangkan highly reflective teacher, lanjutnya, dicirikan dengan kemampuan lebih, selain yang dilakukan oleh kedua kelompok guru reflektif sebelumnya. Pada kategori ketiga ini, guru mengupas tuntas peristiwa yang terjadi dan penyebab-penyebabnya, serta menggali secara mendalam sejumlah alternatif solusi perbaikan beserta rasionalitas solusi tersebut. Pada level ketiga ini, kesadaran guru akan isu-isu sosial dan moral juga terlihat nyata, disertai dengan sikap keterbukaan dan keihklasan terhadap profesi dan kinerjanya sebagai fasilitator pembelajaran.

”Temuan lainnya, dalam menerapkan praktik refleksi pembelajaran, guru bahasa Inggris SMP di Indonesia lebih cenderung mengungkapkan proses dan hasil refleksinya secara lisan ketimbang menuangkannya secara tertulis. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi pada berbagai negara di dunia. Guru-guru di berbagai negara mengandalkan tulisan jurnal refleksi dan diary dalam mengungkapkan proses dan hasil refleksi pembelajarannya,” jelas suami Darmawati Baddy ini.

Pria kelahiran 31 Desember 1970 ini menyebut, ada tiga kendala utama yang dialami guru bahasa Inggris SMP dalam menerapkan praktik refleksi pembelajarannya. Pertama, beban mengajar 24 SKS per jam pelajaran tiap minggu, belum termasuk tugas-tugas tambahan lainnya sebagai wali kelas, pendamping/pembina kegiatan kokurikuler siswa seperti pramuka, palang merah, komunitas debat, serta tugas-tugas administrasi pembelajaran lainnya.

”Kesemuanya ini menyulitkan mereka untuk meluangkan waktu khusus untuk melekukan refleksi pembelajaran secara tertulis, baik secara individu maupun secara kelompok bersama kolega guru bahasa Inggris lainnya di sekolah. Kedua, pada umumnya guru bahasa Inggris SMP tidak memiliki pengetahuan awal tentang konsep praktik refleksi pembelajaran. Mereka mengaku tidak pernah diberikan materi praktik refleksi selama mereka kuliah di perguruan tinggi,” beber ayah tiga orang anak ini.

Ketiga, lanjutnya, pengawas sekolah tidak menerapkan prinsip praktik reflektif dalam mendampingi dan mengevaluasi guru. Saat mengunjungi guru di sekolah, mereka lebih fokus memeriksa dan mencari kelemahan administrasi pembelajaran (RPP) guru daripada mengamati langsung bagaimana guru mengajarkan RPPnya di kelas dan menuntunnya untuk mendiskusikan praktik pembelajaranya pascapembelajaran berakhir. Akibatnya, pengawas sekolah jarang bisa memberikan umpan balik yang konstruktif untuk perbaikan pembelajarannya berbasis pengamatan langsung terhadap praktik pembelajaran guru.

Usai mempertahankan disertasi dan hasil penelitiannya, La Sunra kemudian dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Ia menjadi doktor ke 858 di Program Pascasarjana (PPs) UNM, dan doktor ke 60 di Prodi Bahasa Inggris.

Prof Hamsu A Gani yang memimpin jalannya sidang promosi, memberikan apresiasi atas pencapaian yang diraih La Sunra. ”UNM patut berbangga memiliki dosen seperti Pak La Sunra ini. Hebat dalam menjelaskan dengan menggunakan bahasa Inggris. Matang dari hasil penelitian. Ini yang kita harapkan dari seorang doktor,” tandasnya. (*)



×


La Sunra Raih Doktor di UNM Ber-IPK 3,96, Ini Hasil Penelitiannya

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar