pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

RAHASIA Tuhan tentang perjalanan hidup seseorang memang tak ada yang mengetahuinya. Terkadang saat ini kita hidup dalam kesulitan, namun besok kita hidup dalam kemewahan. Hal itupun berlaku sebaliknya.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

TELAH banyak contoh orang sukses, yang dulunya berasal dari golongan ekonomi bawah. Telah banyak pula contoh orang sukses yang memulai karirnya dari nol. Terkadang kita memang perlu mencermati kisah mereka. Bukan hanya untuk disanjung, tapi juga untuk dicontoh kiat-kiatnya.
Mengapa hal itu penting? Karena hakikatnya setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Yang membedakan hanya cara mereka menjemput peluang. Salah seorang yang bisa dijadikan teladan akan hal tersebut adalah Muhammad Akbar Bahmi, Founder Khalifah Institute.
Sore itu, BKM bertemu dengannya di Phinisi Point Mal. Saat itu Akbar sedang menghadiri kegiatan Festival Ekonomi Syariah yang diadakan di sana. Pakaiannya sangat rapi dengan kemeja dan jas hitam yang ia kenakan. Benar-benar menggambarkan seorang pengusaha. Padahal usianya masih sangat muda.
Akbar saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Hasanuddin angkatan 2014. Siapa sangka, ternyata masa depannya saat ini telah ia tata dengan rapi.
Pria asal Kabupaten Bulukumba ini memulai usahanya sejak 2016 lalu. Selama kurang lebih setahun menggelutinya, ia telah memiliki omzet yang sangat fantastis. Rerata omzet yang bisa ia dapat selama sebulan mencapai Rp100 juta sampai Rp200 juta. Luar biasa.
Padahal jika dilihat masa lalunya, Akbar merupakan anak yang sangat sederhana. Ia bercerita jika semasa sekolah dulu, ia sudah diajarkan mandiri oleh orang tuanya. Maklum saja, saat itu orang tuanya adalah seorang PNS dengan gaji yang bisa dibilang sedikit. Orang tuanya pun saat itu harus menghidupi Akbar serta keempat adiknya yang lain.
Sedari SD sampai SMA, ia tidak pernah dibelikan kendaraan pribadi oleh orang tuanya. Hari-harinya ke sekolah ia selalu naik petepete. Pemikirannya sedari dulu memang tak pernah mau membebani orang tuanya.
Saat kuliah, ia harus membiayai dirinya sendiri. Akhirnya apapun ia kerjakan. Misalnya beberapa tahun lalu ia pernah berjualan donat di UIN (Universitas Islam Negeri). Hal itu ia lakukan demi bertahan hidup di Makassar.
Selain berjualan donat, ia juga kerap membantu beberapa dosennya untuk menyebarkan kuesioner penelitian. Dari hasil membantu dosennya itu, ia juga mendapatkan upah.
“Alhamdulillah, dari hasil bantu-bantu dosen itu bisa dapat Rp100 ribu sampai Rp 200 ribu untuk biaya hidup. Karena tekadku saat itu memang tidak mau menyusahkan orang tua,” kenang Akbar.
Khalifah Institute sendiri adalah sebuah lembaga bimbingan belajar untuk pelajar setingkat SD sampai mahasiswa. Mata pelajaran yang diajarkanpun adalah mata pelajaran dasar, seperti matematika, Bahasa Indonesia, biologi, kimia, fisika, dan akuntansi. Khusus untuk pelajar SD, ada pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan.
Sistem yang dianut di lembaga bimbingan belajar inipun cukup unik. Berbeda dari lembaga bimbingan belajar lainnya. Terletak pada sistem yang diterapkan di lembaga ini. Yaitu dengan menggunakan sistem ekonomi Islam dan sistem pendidikan Islam.
“Ekonomi Islam maksudnya, setiap sistem pembayaran setiap siswa ataupun yang mendaftar sebagai peserta belajar, bebas menentukan besaran biaya yang ingin dibayarkan ke kita. Kita hanya menetapkan biaya pagu saja. Nah, sisanya kita anggap sebagai infaq ke lembaga. Kalau pendidikan Islam, maksudnya adalah misalnya setiap siswa sebelum memulai pembelajaran, diusahakan untuk membaca Alquran satu halaman,” jelas Akbar.
Dari kehidupannya dulu yang harus bekerja keras ke sana-kemari, saat ini Akbar benar-benar telah sukses. Dengan mengandalkan tekadnya untuk mengubah hidup, ia berhasil membuktikannya. Dari hanya penjual donat, saat ini Akbar telah beromzet ratusan juta rupiah. (*/rus/b)

MAKASSAR, BKM — Hari kedua pelaksanaan Sulsel Expo, Jumat (25/8), pengunjung belum terlihat membeludak. Warga yang datang masih lebih sedikit dibanding saat pembukaan oleh Gubernur Syahrul Yasin Limpo, Kamis malam (25/8).
Berdasarkan pantauan BKM stand-stand yang berada di lokasi indoor, tepatnya di Gedung Serba Guna Wisma Negara, kemarin sore, pengunjung masih terbatas berasal dari pegawai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang baru selesai mengikuti karnaval budaya. Termasuk pengunjung berasal dari intansi-instansi yang menyewa stand di sana.
Di Stand Pemkot Makassar misalnya. Dari buku tamu yang ada, dari pagi hingga menjelang sore, baru sekitar 80-an pengunjung yang mampir di stand berukuran 6×6 meter persegi itu.
“Tapi itu yang mengisi buku tamu. Yang singgah ke sini tapi tidak isi buka tamu juga banyak. Biasanya pengunjung banyak datang saat malam Minggu ,” ungkap Jumain, salah seorang pegawai lingkup Pemkot Makassar yang menjaga stand.
Ditanya soal harga sewa stand yang mereka tempati, lelaki tersebut mengaku tidak tahu persis karena Bappeda Kota Makassar yang mengkoordinir. “Kami tidak tahu kalau soal harga stand,” ungkapnya.
Senada dengan di Pemkot Makassar, sejumlah stand yang didatangi juga mengaku tidak tahu persoalan biaya sewa stand yang mereka tempati.
Namun, jika mengacu pada penjelasan Event Organizer (EO) yang dipercaya Pemprov Sulsel untuk mengelola kegiatan tersebut, satu stand sewanya belasan hingga puluhan juta.
Direktur Utama Debindo Mega Promo Jeffrey Eugene sebelumnya mengatakan, biaya stand yang dipatok untuk setiap meter persegi sebesar Rp2,95 juta.
Pada event ini, sejumlah OPD lingkup Pemprov Sulsel yang memilih lokasi indoor menyewa stand berukuran 6×6 meter. Diantaranya Dinas Pendidikan Sulsel, Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi, Dinas PSDA Cipta Karya dan Tata Ruang Sulsel, Pemkot Makassar, Bappeda Sulsel, Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Sulsel.
Ada juga yang mengambil stand ukuran 6×3 meter, seperti Dinas Perindustrian Sulsel, Badan Pengembangan SDM, Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) Sulsel, Diskominfo, Dinas Kehutanan, Rumah Sakit Khusus Daerah, Bapenda Sulsel, Pemberdayaan Sulsel dan beberapa OPD lainnya.
Sementara stand ukuran 3×3 diantaranya BKD Sulsel, BMKG, BPOM, RS Labuang Baji, dan beberapa instansi lainnya.
Jika mengacu pada tarif yang ditetapkan EO, harga sewa stand Rp2,95 juta per meter, maka stand dengan ukuran 3×3 meter persegi disewakan pada kisaran harga Rp20 juta lebih.
Expo yang berlangsung hingga 29 Agustus ini menargetkan 120 ribu orang pengunjung
Dikonfirmasi terkait sewa stand yang dinilai terlalu mahal, Sekretaris Provinsi Sulsel Abdul Latif menjelaskan, penetapan tersebut tentu saja berdasarkan biaya yang digunakan untuk persiapan-persiapan stand. Kalaupun ada yang membayar hingga Rp63 juta, itu ada hitung-hitungannya.
Semakin luas lahan yang digunakan, semakin tinggi juga biaya yang akan dikeluarkan. Jika memakai stand dengan jumlah terbatas, mungkin juga tidak terlalu banyak yang dikeluarkan.
“Bisa saja ada memang yang membayar Rp63 juta, namun standnya akan jauh lebih luas,” ungkapnya.
Namun dia menambahkan, Pemprov Sulsel sama sekali tidak menyiapkan stand pada pelaksanaan Sulsel Expo, karena ada EO yang mengatur. Sehingga yang mengetahui pasti harga sewa adalah EO, dalam hal ini Debindo. “Kalau soal stand, EO nya yang tentukan harga,” ujarnya.
Menyikapi keluhan peserta pameran pembangunan tersebut, Sekprov Abdul Latif mengatakan tetap akan melakukan evaluasi kelaikan harga yang harus ditetapkan.
“Tentu kita akan evaluasi seberapa besar harga per meter bujursangkar dan kita harus cari solusinya. Begitu juga pertimbangan tempat, juga seperti apa,” pungkasnya.
Selain diikuti OPD lingkup Pemprov Sulsel, pameran pembangunan 2017 juga diikuti pemerintah kabupaten/kota. Namun ada beberapa kabupaten yang tercatat tidak ambil bagian dalam event ini. Yakni Sidrap, Takalar, Soppeng, Bantaeng, dan Tana Toraja. (rhm/rus)

MAKASSAR, BKM — Direktorat Kriminal Khusus Polda Sulsel melalui Unit 1 Subdit 3 Polda mendatangi proyek pembangunan RKB, asrama putra dan asrama putri Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) di Kabupaten Gowa. Kedatangan petugas yang sebagian menenteng senjata itu, langsung melakukan penggeledahan ruangan.
“Tim Unit 3 Krimsus Polda Sulsel melakukan penggeledahan,di empat titik. Diantaranya di lokasi proyek, kantor PT Cahaya Insani Persada, dan Kantor Kementerian Agama Sulsel. Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti laporan dugaan korupsi terkait pembangunan sekolah tersebut,” kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani, kemarin.
Pembangunan MAN IC dilaksanakan sejak tahun 2015 oleh Kemenag. Anggarannya bersumber dari APBN sebesar Rp8,23 miliar. Pekerjaannya dilakukan melalui tender dan dimenangkan oleh PT Cahaya Insani Persada.
“Informasi sebelumnya, pada tanggal 6 Juli 2017 pernah dilakukan pemeriksaan fisik oleh ahli Unhas Makassar. Hasilnya, kualitas beton pada pekerjaan tersebut tidak memenuhi syarat sebagaimana yang dituangkan dalam kontrak yaitu K-225. Namun yang teralisasi di lapangan hanya kualitas beton antara K-102 sampai dengan K-122, sehingga di kategorikan sebagai gagal konstruksi,” jelas Dicky
Pantauan BKM kemarin, kantor PT Cahaya Insani Persada yang menjadi pelaksana MAN IC di Desa Belapunranga, Kecamatan Parangloe digeledah polisi. Penggeledahan berlangsung pukul 12.00 Wita, Kamis (24/8/2017) di kantor CIP yang terletak di Jalan Andi Mallombassang, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
Selain di kantor yang merupakan rumah dan kantor PT Cahaya Insani Persada, penggeledahan juga dilakukan polisi di Jalan KH Wahid Hasyim No 244 Sungguminasa, Gowa. Ini merupakan kantor PT Cahaya Insani Persada. Termasuk di kantor Kemenag RI Wilayah Sulsel di Jalan Nuri.
Pada saat penggeledahan, sejumlah anggota penyidik Tipikor Polda Sulsel memasuki kantor CIP yang letaknya berada di sebelah barat museum Istana Balla Lompoa.
Dari hasil penggeledahan, petugas menyita komputer dan satu tas ransel hitam berisi berkas milik PT Cahaya In?sani Persada. Barang yang disita itu langsung dinaikan ke sebuah mobil Kijang Innova warna putih
Dalam dugaan tindak pidana korupsi pada proyek tersebut, kata Dicky, sudah sembilan orang saksi diperiksa. Termasuk saksi ahli. Untuk menguatkan bukti maka dilakukan penyitaan dokumen .
Pembangunan sekolah yang bertaraf internasional yang berada di bawah naungan Kemenag RI itu terpaksa dihentikan sejak Juli lalu, karena dinilai konstruksi bangunannya tidak laik alias menyalahi ketentuan RAB (rencana anggaran belanja).
Proyek besar dari Kemenag melalui Dirjen Pendidikan Agama Islam itu seharusnya sudah beroperasi sejak tahun ajaran baru 2017-2018.
Kepala Kantor Kemenag RI Gowa H Anwar Abubakar yang dikonfirmasi, mengatakan pembangunan fisik MAN Insan Cendikia menggunakan anggaran tahun 2015 sebesar Rp8.230.000.000. Namun dalam pengerjaan pembangunannya dilakukan bertahap. Untuk tahap pertama dibangun asrama putra dan putri. Saat ini sekolah tersebut masih menunggu anggaran selanjutnya untuk perampungan pembangunan.
“Untuk anggaran 2017 ini sisa Rp5 miliar yang akan dicairkan. Namun pelaksana menunggu juknisnya dulu dari Kemenag Wilayah Sulsel dan dari pusat,” jelas Anwar. (sar-ish/rus)