pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

GUBERNUR Sulsel, Syahrul Yasin Limpo menyinggung musibah ledakan yang terjadi di malam takbiran pada salah satu toko di Jalan Harimau. Katanya, peristiwa tersebut menjadi pembelajaran kepada semua pihak.
“Apa yang terjadi itu harus jadi pembelajaran semua pihak,” ujarnya, kemarin.
Syahrul juga mengaku akan membuat surat edaran. Seluruh wali kota dan bupati diminta untuk melakukan razia terhadap ruko penyimpanan tabung gas.
“Beginilah akibatnya jika punya usaha tidak dijalankan sesuai prosedur. Tidak memenuhi syarat teknis dan izin yang ditentukan. Harus dilakukan operasi khusus tempat penyimpanan tabung gas, supaya kita semua terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.
Dia mengaku sangat prihatin dengan peristiwa yang terjadi. Seharusnya, jika sebuah usaha dijalankan sesuai prosedur, kecelakaan kerja bisa diminimalisir.
Syahrul meminta semua pihak yang menjalankan usaha agar mematuhi aturan yang ditetapkan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (rhm/rus)

MAKASSAR, BKM — Gubernur Maluku, H Said Assagaf meresmikan Taman Inovasi Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Peresmian taman sekaligus Baruga H Said Assagaf dilakukan saat reuni alumni Fakultas Peternakan, Sabtu (10/9) siang.
Peresmian dilakukan Said Assagaf karena Said sebagai alumni Fakultas Peternakan yang menginisiasi dan membantu pembangunan taman dan baruga tersebut.
Peresmian taman dan baruga disaksikan Dekan Fapet, Prof Dr Sudirman B, Ketua IKA Fapet Unhas, Sukri Shawwir, para dosen dan ratusan alumni.
Gubernur Maluku, Said Assagaf dalam sambutannya mengaku bangga atas pelaksanaan reuni ini. Ia mengaku, sesibuk apapun ia pasti akan menyempatkan diri jika diundang.
“Mudah-mudahan kita berkumpul di sini bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Dan taman ini bisa bermanfaat bagi mahasiswa Peternakan,” ujar Said yang beberapa jam sebelumnya menerima medali dari Rektor Unhas, Prof Dwia Aristina P dalam rangka Temu Alumni Nasional (TAN) Unhas di GOR Unhas. Selain itu, Said juga meresmikan logo IKA Fapet Unhas.
Acara reuni ini dipandu politisi senior Partai Golkar Arfandy Idris. Sebagai alumni Peternakan Unhas, Arfandy meminta kepada seluruh alumni untuk memanfaatkan momentum ini dalam rangka mempererat silaturahmi.
Acara reuni diisi dengan sejumlah hiburan. Diantaranya sumbangan lagu dari setiap angkatan dan pacarita.
Ketua Panitia Reuni, Syahrir Akil menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu pelaksanaan reuni ini hingga berlangsung sukses. (*)

MAKASSAR, BKM — Event Makassar International Eight Festival and Forum 2016 (F8) dimanfaatkan Pemerintah Kota Makassar untuk membangun jaringan kerja sama dengan 10 kabupaten/kota se-Indonesia yang menghadiri acara ini.
Kerja sama itu diwujudkan dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilakukan di atas sebuah kapal tongkang di Anjungan Bugis-Makassar Pantai Losari, Jumat (9/9).
Adapun 10 kabupaten/kota yang menandatangi MoU dengan Pemkot Makassar yakni Palu, Kolaka, Pangandaran, Parigi Moutong, Pekalongan, Sawah Lunto, Palangkarya, Bone, Kediri, dan Jeneponto.
Wali Kota Makassar, Ramdhan Pomanto mengatakan, penandatangan MoU dilakukan untuk mendukung pembangunan dan promosi daerah masing-masing. ”Kerja sama ini bukan hanya di bidang pariwisata, tetapi juga dapat dilakukan untuk kepentingan rakyat dan kemajuan daerah. Melalui kerja sama ini dilakukan saling menukar informasi. Karena belum tentu apa yang dimiliki Makassar juga dimiliki daerah lain. Begitu pula sebaliknya. Di sinilah pentingnya kerja sama dilakukan,” terangnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Makassar yang juga Koordinator Media Even F8, Muh Roem mengatakan, kegiatan ini mampu menarik perhatian masyarakat untuk datang berkunjung menyaksikan berbagai kegiatan dan hiburan.
Tercatat, sebanyak 44.538 pengunjung yang datang di hari pertama pembukaan event F8. Data yang tercatat oleh panitia F8 itu diluar dari personel pengamanan yang jumlahnya mencapai 3.000 orang.
”Data yang diperoleh berdasarkan catatan yang ada di setiap pintu masuk, yang terbagi empat lokasi. Masing-masing gate 4 Anjungan Mandar-Toraja, gate 3 Pantai Losari, gate 2 depan masjid terapung dan Gate 1 depan RS Siloam,” terang Roem. (arf/rus)

MAROS, BKM — Klinik Pendidikan MIPA (KPM) PGS-23 mengajak pelajar di pesantren untuk ikut bela negara dengan memberi pembelajaran melalui permainan matematika. Hal ini dilakukan saat melakukan sosialisasi di Pesantren Ulumul Quran DDI Hasanuddin, Kabupaten Maros, Rabu (7/9).
Selain sosialisasi, KPM juga memanfaatkan momentum ini sekaligus untuk membangun silaturahmi dengan para pelajar di Butta Salewangan.
Ketua panitia sosialisasi, Bagas Dewantoro, SPd mengatakan, KPM melakukan sosialisasi guna menggenjot pelajar di pesantren untuk paham tentang bela negara melalui permainan matematika.
”Pelajar merupakan generasi anak bangsa yang memiliki potensi besar untuk ikut bela negara. Pengaruh bela negara cukup besar dalam pembentukan sikap dan perilaku seorang anak, serta mempersiapkannya untuk penguasaan peranan-peranan baru di kemudian hari,” ujarnya.
Melalui cara ini, KPM menggembleng pelajar di pesantren agar kelak mereka memiliki bekal. Dengan pembangunan karakter di usia dini, seorang pelajar yang masih terbilang muda nantinya telah memiliki bekal, baik ketika ia sudah beranjak dewasa dan sudah tua. Mereka juga tidak lagi hidup bergantung pada orang tua.
”Sosialisasi yang kita laksanakan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang dapat mewujudkan sikap dan perilaku bela negara yang dilandasi wawasan kebangsaan. Kita bimbing pelajar yang masih usia dini ini, agar kelak tak lagi mudah disusupi dengan prilaku dan sikap tak terpuji,” terang Bagas lagi.
Pembangunan karakter, menurut Bagas, harus dimulai sejak usia dini. Hal ini sebagai bentuk revolusi mental pada anak bangsa, dimana mereka selalu dalam kebersamaan dan bersatu agar tidak mudah bercerai berai dalam sikap menjunjung Tanah Air.
Ditambahkan Bagas, jika landasan konsep bela negara adalah adanya wajib militer, subyek dari konsep ini adalah tentara atau perangkat pertahanan negara lainnya, baik sebagai pekerjaan yang dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer).
“Tanpa kita sadari ini sudah merupakan gerakan tanpa sadar wajib militer, seperti yang dilakukan negara lain. Mereka memberlakukan wajib militer bagi warga yang memenuhi syarat, kecuali dengan dispensasi untuk alasan tertentu, seperti gangguan fisik, mental atau keyakinan keagamaan,” tandasnya. (ish/rus)

SEMANGAT dan optimisme. Dua kata itu menjadi ‘doping’ bagi Aswar Ali, salah satu karateka asal Sulsel yang kerap mengharumkan nama daerah, baik di ajang nasional maupun internasional.

Laporan: Rahmawati Amri

SUASANA di Gedung Olahraga (GOR) Mattoanging sore itu terlihat cukup ramai. Orang-orang yang ada di dalamnya rata-rata berseragam putih-putih, lengkap dengan sabuk yang melilit di perut. Semua tampak bersemangat mengikuti latihan.
Mereka adalah pemain karate. Salah satu yang terlihat menonjol adalah Aswar. Ia bersama dua rekannya terlihat berlatih keras. Cucuran keringat terlihat di sekujur tubuhnya. Ya, Aswar tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan dihelat pekan ketika bulan ini di Kota Bandung, Jawa Barat.
Dengan penuh semangat, elaki yang saat ini tercatat sebagai salah satu PNS lingkup Pemprov Sulsel, tepatnya di Kantor Badan Kesatuan Bangsa, tak pernah lelah berlatih untuk mengejar target juara. Dengan penuh optimisme, dia yakin apa yang diperjuangkannya akan tercapai.
Aswar dan rekan-rekannya menjadi salah satu tumpuan Sulsel untuk mendulang emas di ajang bergengsi tersebut. Yah, Aswar sudah menjadi langganan juara pada berbagai event, baik yang berskala nasional maupun internasional.
Meskipun harus membagi waktu antara pekerjaan dan latihan, Aswar tetap semangat. Tak ada keletihan di wajahnya. Semakin mendekati keberangkatan ke Bandung, latihan yang dilakukan semakin intens dan semakin keras.
Pagi, sebelum berangkat kerja dan sore sepulang dinas, Aswar bisa dijumpai di GOR, tempatnya berlatih. Sama dengan PON sebelum-sebelumnya, lelaki atletis ini dipercaya mampu mempersembahkan emas.
“Alhamdulillah masih dipercaya untuk mewakili Sulsel di ajang PON. Insya Allah, pastinya kami akan berikan yang terbaik,” ungkapnya.
Persiapan yang dilakukan secara fisik dan teknik terus diintensifkan dan dipertajam. Walaupun di atas kertas, Aswar dan tim masih teratas dibanding provinsi lain, dia tak mau jumawa. Semua dianggap saingan berat, apalagi bermunculan karateka-karateka baru yang masih fresh. Karenanya, latihan harus lebih intens dan ditingkatkan.
“Kita tidak tahu seberapa besar kekuatan lawan. Makanya, harus terus berusaha jadi yang terbaik,” ungkapnya.
Ia kemudian berbagi cerita ihwal dirinya terjun menggeluti karate. Bermula pada tahun 1993, lelaki low profile ini mengaku mulai menekuni pencak silat. Sang kakek yang tercatat sebagai veteran pejuang kemerdekaan ingin cucunya punya bekal bela diri.
Bukan untuk gagah-gagahan, melainkan sebagai perlindungan diri. Namun, aktifitas latihan pencak silatnya ditentang orang tua. Selain karena dianggap olahraga keras, dia tak mau anaknya sombong dan menjadikan keahliannya itu untuk mencari musuh.
Mendapat tentangan seperti itu, Aswar bukannya berhenti. Ia malah tetap latihan, meski dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena satu dan lain hal, Aswar pun banting setir dengan menggeluti karate. Diapun fokus, bukan hanya untuk olah tubuh, melainkan mulai melirik prestasi. (*/rus)